Renungan Pria Kaum Bapa Kristen, Matius 26:57-68, Ia Harus Dihukum Mati
Chintya Rantung March 28, 2026 12:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan Pria Kaum Bapa Kristen 

Pembacaan alkitab terdapat pada Matius 26:57-68.

Tema perenungan adalah Ia Harus Dihukum Mati.

Khotbah:

Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan,

Kita kini diberi waktu dan kesempatan untuk memperingati Minggu-minggu Sengsara Yesus Kristus. 

Kita sama-sama tahu bahwa kesengsaraan hingga kematian Yesus telah dinubuatkan oleh para nabi dalam rangka penebusan dosa dan keselamatan umat manusia.

Kesengsaraan Yesus bukan kegagalan melainkan penggenapan kehendak Allah.

Kesengsaraan yang dialami Yesus memperlihatkan kebobrokan moral dan berbagai kejahatan manusia bahkan di 
dalam agama yang seharusnya menjadi penjaga dan penegak kebenaran. 

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,

Perikop ini berada dalam narasi kesengsaraan Yesus. Setelah ditangkap di taman Getsemani.

Yesus dipaksa menghadap Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin), lembaga tertinggi agama Yahudi yang dipimpin Imam Besar.

Kayafas, pada waktu itu. Namun persidangan ini bermasalah secara hukum karena dilakukan pada malam hari yang tidak lazim sesuai penerapan hukum Yahudi pada masa itu.

Kesaksian soal kesalahan Yesus tidak konsisten bahkan keputusan sudah ditentukan sejak awal sebelum persidangan itu.

Maksud dan tujuan persidangan tersebut jelas-jelas manipulatif dan kejahatan luar biasa yang justru dilakoni oleh pengajar-pengajar kebenaran yakni para ahli Taurat dan tua-tua Yahudi. 

Mereka tegah untuk melenyapkan manusia, bahkan seorang manusia yang tidak berdosa. 

Penyebabnya adalah kedengkian (Matius 27:18: Markus 15:10). Dengki atau iri hati yang parah merupakan salah satu dosa atau perbuatan daging yang tidak mendapat tempat di dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:20-21).

Kedengkian sangat berbahaya. Kain membunuh Habel karena iri hati. Yusuf diperlakukan tidak baik oleh saudara-saudaranya. karena kedengkian mereka.

Benar bahwa di mana ada iri hati pasti akan ada berbagai perbuatan jahat (Yakobus 3:16).

Oleh karena itu sebagai P/KB GMIM mari kita jaga diri kita untuk tidak memiliki perasaan dan sikap-sikap iri hati bahkan dengki terhadap orang lain.

Kita sudah tahu akibatnya sangat berbahaya bagi kita, baik di dunia yang sekarang ini maupun yang akan datang.

Orang yang dengki akan berusaha mencari kesalahan orang lain yang menjadi sasaran iri hatinya.

Bahkan ia akan senang bila orang itu jatuh dan menderita. Kalaupun ia bersikap manis atau baik, hal itu hanyalah pura-pura.

Sebab itu iri hati dan dengld harus dijauhkan dari kehidupan bersama di tengah keluarga, jemaat dan masyarakat agar kita tidak terdorong untuk melakukan hal-hal yang jahat yang merugikan sesama dan membawa kita pada kehancuran.

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan,

Menarik juga dilihat ada sosok Petrus yang mengikuti Yesus dari jauh ketika Yesus mulai mengalami penyiksaan.

Hal ini dapat menjadi potret pengikut Kristus yang mengaku ingin setia namun memiliki ketakutan.

Fakta menunjukkan banyak orang ingin dekat dengan Yesus tetapi hanya dari zona aman. 

Suka berkat, suka mukjizat tapi tidak mau menderita demi melakukan ajaran Tuhan.

Memohon diampuni oleh Tuhan tetapi tidak mau memaafkan dan mengampuni sesama. 

Memohon keberhasilan dalam usaha kerja namun tidak mau bekerja keras, tidak jujur dan tidak tabah. 

Bacaan ini juga menyatakan kepada kita bahwa Yesus bukan hanya Mesias yang telah datang tetapi juga Hakim pada 
akhir zaman.

Untuk itu marilah kita tetap setia kepada Tuhan Yesus Kristus seumur hidup kita karena kepada Dialah kita akan 
 mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita selama di dunia fana ini karena kehidupan kita di dunia hanyalah 
 sementara dan singkat (2 Korintus 5:10).

Mari kita menjadi P/KB yang taat dan setia mulai dari hal-hal kecil; jangan biasakan berdusta atau tidak jujur agar terbentuk integritas dalam segala hal; SejaIan dengan itu kita dapat menjadi teladan bagi istri dan anak-anak kita.

Mari kita ajarkan dan praktikkan gaya hidup rendah hati, tidak mementingkan diri sendiri, tidak egois melainkan rela berkorban untuk kebaikan orang lain.

Ingatlah kalau kita berbuat benar, baik dan adil, itu bukan karena tindakan manusiawi semata-mata melainkan karena Tuhan Yesus telah lebih dulu berbuat baik bahkan memberikan nyawa-Nya untuk keselamatan kita. Amin. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.