Pabrik Baja Iran Dibom, IRGC Ancam Ratakan Industri Afiliasi AS-Israel di Timur Tengah
Willem Jonata March 28, 2026 09:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan akan melancarkan aksi balasan dengan prinsip "mata ganti mata" setelah fasilitas sipil dan infrastruktur vital mereka dihantam serangan udara Amerika Serikat dan Israel.

Peringatan keras ini muncul menyusul serangan udara pada Jumat lalu yang menargetkan pusat-pusat industri strategis Iran.

Dua produsen baja terbesar, Mobarakeh Steel Company di Isfahan dan Khouzestan Steel Company, mengalami kerusakan serius.

Koalisi AS-Israel juga dilaporkan menyerang pembangkit listrik nuklir sipil di wilayah Yazd dan Arak.

Komandan Angkatan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan musuh telah melampaui batas merah.

Baca juga: IRGC Peringatkan Warga Timur Tengah Mengungsi, Tak Ingin Mereka Jadi Perisai Manusia

Sebagai bentuk balasan, IRGC kini membidik pabrik-pabrik dan perusahaan di seluruh kawasan Timur Tengah yang memiliki keterkaitan modal atau afiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

"Kali ini, persamaannya bukan lagi mata balas mata. Tunggu saja!" tegas Mousavi dalam pesan singkatnya,  dikutip Press TV, Sabtu (28/3/2026) wakt setempat.

Demi menghindari jatuhnya korban jiwa dari pihak warga sipil, IRGC mengeluarkan instruksi evakuasi darurat.

Seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan yang berafiliasi dengan AS dan "rezim Zionis" diminta segera meninggalkan tempat kerja.

Selain itu, warga yang tinggal dalam radius satu kilometer dari lokasi industri tersebut diperintahkan untuk mengungsi hingga serangan balasan dilakukan.

Pernyataan IRGC ini merupakan respons langsung atas kerusakan di fasilitas Mobarakeh, produsen baja dan besi terbesar di Iran, di mana serangan mengenai bagian pembangkit listrik saat karyawan sedang bekerja.

Sementara itu, serangan di Khouzestan dilaporkan melukai sedikitnya 16 orang.

Serangan terhadap fasilitas nuklir di Yazd dan Arak juga menjadi pemicu utama kemarahan Teheran, mengingat fasilitas tersebut merupakan infrastruktur sipil vital bagi ketahanan energi nasional.

Sebagai bagian dari pembalasan, IRGC mengumumkan persiapan gelombang ke-63 dari Operasi True Promise 4.

Sejauh ini, angkatan bersenjata Iran mengeklaim telah melancarkan 84 gelombang serangan terhadap aset-aset AS dan Israel di kawasan Timur Tengah sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah komandan militer pada 28 Februari lalu.

Pihak IRGC menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur nasional Iran akan dijawab dengan penghancuran infrastruktur ekonomi pendukung musuh di seluruh wilayah regional.

Eskalasi meningkat

Di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat.

Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat.

Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh POTUS atau Presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.

Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu.

Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia.

Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.