Nonton Bola dengan Riang Gembira?
Randy P.F Hutagaol March 28, 2026 09:27 PM

PERNAH dengar kalimat-kalimat ini? “I play football to be happy, because I love it”; “It does need stressing... that football is supposed to be fun.”

Kalimat pertama datang dari Neymar, sedangkan yang kedua dari Matthew Le Tissier.

Neymar sering diidentifikasi sebagai pemain yang lahir di waktu yang salah.

Andaikata tidak berada sezaman dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, niscaya dia akan jadi pemain nomor satu di dunia. 

Le Tissier? Bahkan seorang Xavi Hernandez pun mengidolakannya. Teknik tinggi, gol-gol spektakuler, tapi, di masa-masa ‘prime’ dia justru tidak mau pergi dari Southampton, klub yang sama sekali tidak gemerlap di Inggris: 443 laga 161 gol.

Padahal, sejumlah klub besar di Inggris, Italia, dan Spanyol, menginginkan tanda tangannya. Kenapa? Karena sepak bola semestinya [memang] untuk bersenang-senang.

Neymar juga begitu. Dalam kadar yang lebih tinggi, Ronaldinho juga begitu. Mereka tersenyum dan tertawa-tawa di lapangan, menjelmakannya sebagai virus dan menyebarnya ke luar lapangan.

Begitulah hakekat sepak bola. Di tengah modernisme dan kecenderungan diasuhbesarkan oleh tangan-tangan kapitalisme, sepak bola tidak pernah benar-benar kehilangan hakekat ini.

Sepak bola adalah keriang-gembiraan. Sepak bola adalah kebahagiaan. Sepak bola, adalah kehormatan. Di beberapa negara, hakekat-hakekat ini bahkan telah menyentuh titik yang melejit dari nalar.

Di Brasil, negerinya Neymar, orang-orang membicarakan sepak bola sepanjang hari, sepanjang pekan, sepanjang bulan.

Sepanjang tahun. Hari ketika mereka tidak lagi membicarakan sepak bola adalah hari ketika mereka tak bernapas lagi.

Indonesia tentu bukan Brasil. Namun rasa-rasanya tidak terlalu jauh berbeda situasinya. Orang-orang di Indonesia tidak sekadar menyukai sepak bola.

Orang-orang Indonesia memuja sepak bola melebihi cinta kepada para kekasih. Jangan pernah sangsikan loyalitas mereka.

Dari pertandingan-pertandingan antarkampung, tarkam, di lapangan berpasir berbatu di tepi-tepi sawah ke laga di stadion-stadion megah dengan tiket masuk berbanderol ratusan ribu rupiah per-pertandingan, sama sekali bukan masalah.

Mereka akan selalu datang dengan kadar kesukarelaan yang mengharukan. Pun seragam-seragam klub, atau seragam tim nasional, yang rata-rata setara nilainya dengan sepuluh goni beras, tak pernah jadi soal.

Mereka akan membelinya, entah dengan menabung berbulan-bulan atau mengangsur berbulan-bulan, lalu pergi menonton dengan riang gembira.

Sepak bola menjadi kultur, meski di lain sisi, dalam banyak hal, menjadi cara lain untuk melarikan diri dari beban hidup.

Sembilan puluh menit bola bergulir, dan itu artinya, sembilan puluh menit pula lesap beragam masalah rumah tangga: istri yang merajuk, obat impoten yang tak manjur, teror telepon pasukan penagih utang, dan sebagainya dan sebagainya. S

aat penalti Pratama Arhan menyingkirkan Korea Selatan dan cocoran Marselino Ferdinan menggetarkan jala gawang Arab Saudi, orang-orang bahkan sejenak lupa betapa setelah pluit panjang mereka akan kembali bekerja; berjejalan dalam kendaraan umum yang amis oleh bau ketiak, terjebak antrean-antrean panjang, menghadapi sif, menghadapi tenggat dan target serba tak logis yang potensial membuat kulit muka berkerut sebelum waktunya.

Kita tahu, ternyata, ini sungguh-sungguh tak jadi soal juga. Uang bisa dicari, bos-bos bisa dihadapi, masalah rumah tangga, in shaa Allah bisa diatasi.

Terpenting, gol-gol harus  dirayakan dengan gegap gempita, dan di akhir laga, sembari mengangkat ponsel, air mata bisa diteteskan kala lagu ‘Tanah Airku’ dikumandangkan.

Pendek kata, sepak bola dengan segenap daya pukaunya telah menurunkan perasaan-perasaan berbahagia yang sungguh aduhai keajaibannya.

Namun kita pernah kehilangan saat-saat seperti ini. Berkali-kali. Seperti roller coaster di pasar malam. Seperti kora-kora.

Kita dilempar-lambungkan ke sana kemari. Diombang-ambingkan, diayun ke kiri diayun ke kanan. Seperti tong setan, yang melesat garang meraung-raung tapi memang tidak pernah beranjak ke mana-mana.

Berputar di situ-situ saja. Dari tepi Olimpiade Montrael 1974 ke ambang Paris 2020. Dari Meksiko 1986 ke Meksiko [bersama Kanada dan Amerika Serikat] 40 tahun berselang.

Dari sekian Pasukan Garuda ke Primavera yang “keberatan nama”. Dari Toni Ponagnic, ke Sinyo Aliandoe, ke Bertje Matulapelwa, Anatoli Polosin, Rusdy Bahalwan, Benny Dollo.

Lalu tibalah era goro-goro, era kerusuhan dan kegelapan, yang ditandai dengan kekalahan-kekalahan besar dan skandal memalukan, termasuk sepak bola gajah, dan PSSI, rumah besar sepak bola Indonesia, selain pecah dua juga sempat dikendalikan dari balik tembok penjara.

Shin Tae-yong lantas didatangkan. Kereta roller coaster melesat lagi, tapi kemudian berhenti lagi. Di tempat yang sama lagi, dan oleh sebab itu membuncahkan sumpah serapah lagi. Ini kali, lebih dahsyat lantaran momentum yang hilang dirasa lebih menyakitkan.

Seperti berakhirnya cinta sejati yang mengakibatkan patah hati. Banyak yang tak habis mengerti, setan macam apa yang membisiki orang-orang top di PSSI hingga terpikir untuk menyingkirkan emas asli untuk seonggok imitasi.

Maka ini kali, agak berbeda dibanding derita-derita patah hati sebelumnya, kesedihan yang membekap, selain berlarut juga diiringi kemarahan. Tak sedikit pula yang membuncahkan sumpah serapah: tak ingin lagi menonton pertandingan tim nasional.

Namun adalah fakta juga bahwa bangsa ini dianugerahi Tuhan sifat welas asih. Sifat yang memudahkan kata ‘maaf’ dan ‘lupa’. Persisnya, ‘memaafkan’ dan ‘melupakan’. Atau boleh jadi sebaliknya, ‘melupakan’ dan ‘memaafkan’.

Sejauh ini, kemarahan atas pendepakan Shin Tae-yong memang belum sepenuhnya reda. Rasa sakit hati atas kegagalan lolos ke Piala Dunia belum tergerus.

Meski begitu, sinyal-sinyal ke arah memaafkan sudah mulai terlihat. PSSI mendepak Patrick Kluivert dan konco-konconya, emas-emas imitasi itu, dan menggantikannya dengan John Herdman, dan pelatih berkebangsaan Inggris yang lama melanglang buana ke Selandia Baru dan Kanada.

John telah menunjukkan hasil kerja awalnya: FIFA Series, Gelora Bung Karno 27 Maret 2026, versus Saint Nevis & Kitts. Indonesia menang 4-0.

Maka setelah Beckham Putra mencetak gol, Ole Romeny dan Mauro Ziljstra mencetak gol, setelah Elkan Baggott bermain kembali, setelah atraksi-atraksi ekspresif di pinggir lapangan muncul kembali, keriang-gembiraan itu pun hadir lagi. Untuk sejenak orang-orang lupa betapa ini baru laga pertama.

Mereka lupa, setelah pluit panjang, mereka tidak hanya akan kembali bekerja, tapi juga dihadapkan dengan segenap silang sengkarut hidup: MBG, koperasi-koperasian, para menteri yang makin ngawur, Tuan Wakil Presiden yang makin sayup-sayup, Tuan Presiden yang ngotot mempertahankan perkawanan dengan Donald Trump dan sebagainya dan sebagainya.

Perkiraan ini bisa keliru juga. Barangkali sesungguhnya mereka tidak lupa. Boleh jadi mereka tidak sedang dalam ancang-ancang untuk memaafkan dan melupakan. Boleh jadi, sepak bola Indonesia, telah mengajarkan pada mereka untuk terbiasa dan menganggap segala riuh-rendah kesemrawuran ini sekadar sebagai hiburan untuk ditertawakan. Walau tak lucu.

(t agus khaidir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.