Tiga Penyair Perempuan Gayo Tampil Membaca Puisi dalam “Sengkewe Sepanjang Musim”
Sri Widya Rahma March 29, 2026 12:52 PM

TribunGayo.com, TAKENGON - Tiga penyair perempuan Tanah Gayo, Vera Hastuti, Asmira Diene dan Zuliana Ibrahim, dijadwalkan tampil membacakan puisi dalam pertunjukan seni “Sengkewe Sepanjang Musim” yang diselenggarakan oleh Komunitas Desember Kopi Gayo, pada Sabtu (4/4/2026) pukul 20.00 WIB, di Taman Inen Mayak Teri, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.

Baca juga: Kisah "Perempuan Kopi Uni Inen Iko" Diangkat dalam Film Dokumenter 

Ketiga penyair perempuan Gayo ini dikenal sebagai penyair yang telah berkiprah dalam berbagai forum sastra tingkat nasional dan regional, serta aktif dalam kegiatan literasi, pendidikan dan gerakan kebudayaan.

Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam penguatan suara perempuan dalam lanskap sastra dan kebudayaan Gayo.

Pertunjukan “Sengkewe Sepanjang Musim” merupakan rangkaian program kebudayaan Komunitas Desember Kopi Gayo yang didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai upaya menghadirkan panggung ekspresi sastra dan seni tradisi Gayo di ruang publik.

Sekilas Tentang Tiga Penyair Perempuan Tanah Gayo

Vera Hastuti MPd, merupakan penyair dan pendidik yang aktif mengajar di SMAN 1 Takengon.

Ia dikenal melalui keterlibatannya dalam berbagai antologi puisi nasional dan regional, di antaranya:

  • Secangkir Kopi
  • Kopi 1.550 Mdpl
  • Seperti Belanda
  • Seri antologi Negeri Poci
  • Antologi puisi Sengkewe (2025)

Karya-karyanya memperlihatkan kedekatan kuat dengan lanskap budaya Gayo dan dunia pendidikan.

Baca juga: Komunitas Desember Kopi Gayo Pentaskan “Sengkewe Sepanjang Musim” di Taman Inen Mayak Teri Takengon

Sementara itu, Asmira Diene, penyair sekaligus guru di SMA Negeri 8 Takengon Unggul, telah lama berkecimpung dalam dunia sastra dan teater sejak usia remaja.

Ia aktif membina siswa dalam berbagai kompetisi literasi hingga tingkat nasional, serta terlibat dalam Forum Beru Gayo, komunitas perempuan penulis Gayo.

Sejumlah puisinya antara lain:

  • Penitis Jiwa
  • Jejak Kata
  • Sengkewe
  • Perempuan dan Cahaya
  • Air Mata Sumatera

Adapun Zuliana Ibrahim, penyair kelahiran Takengon yang juga berprofesi sebagai guru, memiliki rekam jejak panjang dalam dunia sastra sejak masa pelajar.

Ia meraih berbagai penghargaan cipta dan baca puisi tingkat provinsi hingga nasional, serta aktif mengikuti forum penyair Nusantara dan Asia Tenggara.

Karyanya tersebar dalam puluhan antologi nasional dan internasional, termasuk Pasie Karam, Puisi Menolak Korupsi, Epitaf Kota Hujan, Kabut Hujan dan Segala yang Dikenang, hingga antologi Sengkewe (2025).

Perspektif Perempuan dalam Panggung Sastra Gayo Kontemporer

Koordinator Komunitas Desember Kopi Gayo Fikar W Eda, menyampaikan bahwa keterlibatan tiga penyair perempuan ini menjadi penanda penting hadirnya perspektif perempuan dalam panggung sastra Gayo kontemporer.

“Puisi-puisi mereka membawa suara pengalaman perempuan Gayo tentang kopi, alam, keluarga, sejarah dan daya tahan masyarakat menghadapi perubahan zaman maupun bencana.

Kehadiran mereka memperkaya makna pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim sebagai ruang temu sastra dan kebudayaan,” demikian disampaikan panitia penyelenggara.

Pertunjukan “Sengkewe Sepanjang Musim” sendiri merupakan teater puisi Tanah Gayo yang memadukan unsur sebuku, didong banan, musikalisasi puisi, tari kopi dan pembacaan puisi, sebagai bagian dari gerakan kebudayaan berbasis kopi dan perempuan Gayo yang diinisiasi Komunitas Desember Kopi Gayo.

Melalui panggung ini, sastra kembali dihadirkan sebagai suara ingatan, perawatan tradisi, sekaligus energi pemulihan masyarakat Tanah Gayo pascabencana hidrometeorologi yang melanda kawasan ini pada akhir 2025. (***Fikar W Eda***) 

Baca juga: Desember Kopi Gayo Gelar Art Healing untuk 600 Seniman Terdampak Bencana

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.