TRIBUNJATIM.COM – Candi Rimbi merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Bangunan bercorak Hindu ini menyimpan kisah sejarah panjang tentang kejayaan Majapahit sekaligus menjadi salah satu cagar budaya penting di wilayah tersebut.
Candi ini terletak di Dusun Pulosari, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.
Keberadaannya berada di kawasan dataran tinggi lereng Gunung Anjasmoro yang berada di jalur menuju kawasan wisata Wonosalam.
Meski tidak sepopuler candi-candi besar di Jawa Timur, Candi Rimbi memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang menarik untuk dipelajari.
Asal-usul Nama Candi Rimbi
Nama Candi Rimbi dipercaya berkaitan dengan tokoh pewayangan, yakni Dewi Arimbi, istri Bima atau Werkudara dan ibu dari Gatotkaca.
Dilansir dari Kompas.com, penamaan tersebut muncul karena di sekitar lokasi candi pernah ditemukan arca wanita berukuran besar, yakni arca Dewi Parwati dan arca Durga Mahisasuramardhini.
Kedua arca tersebut memiliki ciri fisik yang dianggap mirip dengan tokoh Dewi Arimbi dalam cerita wayang, yakni bertubuh besar dan digambarkan memiliki taring.
Sementara itu, nama Rimbi juga sering kali dikaitkan dengan nama Desa Ngrimbi yang berada di sekitar lokasi situs tersebut.
Sedangkan menurut pulosari.id, legenda lokal juga menyebut adanya dua makam misterius yang berada di dekat sungai tidak jauh dari lokasi candi.
Makam tersebut dipercaya sebagai pesarean Prabu Arimba dan Dewi Arimbi.
Meski belum ada bukti ilmiah yang menguatkan cerita tersebut, kisah ini masih hidup dalam tradisi masyarakat sekitar.
Penemuan dan Penelitian Awal
Candi Rimbi pertama kali dilaporkan pada akhir abad ke-19 oleh ilmuwan Inggris Alfred Russel Wallace.
Saat itu Wallace sedang melakukan perjalanan ke kawasan Wonosalam untuk mengumpulkan spesimen flora dan fauna dari Gunung Anjasmoro.
Dalam catatan perjalanannya Wallace menemukan bangunan kuno yang tertutup semak belukar serta beberapa reruntuhan arca yang tersebar di sekitarnya.
Penelitian arkeologis terhadap Candi Rimbi kemudian dilakukan oleh J. Knebel pada tahun 1907.
Namun, upaya pemugaran baru dilakukan jauh kemudian, yakni pada awal tahun 1990-an untuk memperkuat struktur bangunan yang masih tersisa.
Baca juga: Jejak Sejarah Candi Penataran Blitar, Kompleks Candi Hindu Terbesar di Jawa Timur
Diduga Berkaitan dengan Ratu Majapahit
Tidak ditemukan prasasti atau angka tahun yang secara pasti menjelaskan waktu pembangunan Candi Rimbi.
Meski demikian, para ahli memperkirakan candi ini dibangun pada pertengahan abad ke-14 pada masa Kerajaan Majapahit.
Diketahui, dugaan tersebut muncul karena ditemukannya arca Dewi Parwati yang merupakan istri Dewa Siwa dalam kepercayaan Hindu.
Para ahli menduga arca tersebut merupakan perwujudan Tribhuwana Tunggadewi, ratu Majapahit yang memerintah pada tahun 1328 hingga 1350 Masehi.
Arca Dewi Parwati yang ditemukan di dalam bilik utama menunjukkan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap dewi tersebut.
Dalam tradisi Hindu Jawa kuno, raja atau tokoh penting sering kali diwujudkan dalam bentuk arca dewa sebagai simbol penghormatan setelah wafat.
Karena itu, sejumlah ahli menduga Candi Rimbi berfungsi sebagai tempat pedharmaan atau tempat penghormatan bagi sang Ratu Tribhuwana Tunggadewi.
Baca juga: Asal-usul Candi Gunung Gangsir di Pasuruan, Situs Bersejarah dengan Legenda Nyi Sri Gati
Arsitektur dan Struktur Bangunan
Candi Rimbi berdiri di atas lahan seluas sekitar 896,56 meter persegi.
Bangunan yang tersisa saat ini memiliki ukuran panjang sekitar 13,24 meter, lebar 9,10 meter, dan tinggi sekitar 12 meter.
Dari segi arsitektur, Candi Rimbi memiliki bentuk khas candi Hindu Jawa Timur pada masa akhir Kerajaan Singhasari hingga Majapahit.
Bangunan candi ini memiliki struktur yang unik karena badan candinya disusun dari batu andesit, sedangkan bagian pondasi menggunakan bata merah.
Hal tersebut berbeda dengan sebagian besar candi Majapahit yang biasanya menggunakan bata merah pada tubuh bangunan.
Candi Rimbi memiliki kaki candi bertingkat tiga yang dihubungkan oleh satu tangga menuju tubuh candi.
Sementara bagian tubuh candi berukuran lebih kecil dibandingkan bagian kakinya, sehingga membentuk selasar yang tampak mengelilingi bangunan.
Namun, bagian atap dan sebagian tubuh candi telah runtuh, sehingga bentuk aslinya sulit diperkirakan.
Meski begitu, ketiga struktur bagian utama candi tersebut melambangkan konsep kosmologi Hindu yang dikenal sebagai Triloka, yaitu:
Diketahui, tubuh candi yang tersisa saat ini hanya bagian sisi utara, sehingga bangunan terlihat seperti terbelah secara vertikal.
Baca juga: Mengenal Candi Ngetos Nganjuk, Situs Penghormatan untuk Raja Majapahit Hayam Wuruk di Gunung Wilis
Relief Unik dengan 51 Panel Cerita
Salah satu daya tarik utama Candi Rimbi adalah relief yang menghiasi bagian kaki candi.
Terdapat sekitar 51 panel relief yang dipahat menghiasi dinding candi dengan dua jenis bingkai berbeda, yakni bingkai yang menonjol dan bingkai yang rata dengan permukaan dinding.
Relief-relief tersebut menggambarkan berbagai cerita, mulai dari kisah penyucian diri, cerita fabel, hingga kehidupan masyarakat pada masa itu.
Salah satu relief yang cukup unik menggambarkan sepasang manusia yang berada di dalam sebuah gentong.
Namun hingga saat ini, para ahli masih belum dapat memastikan secara pasti cerita dan makna yang terkandung dalam relief tersebut.
Beberapa relief lainnya yang muncul adalah cerita Garudeya, yakni kisah Garuda yang mencari air amerta untuk membebaskan ibunya dari perbudakan.
Uniknya, relief pada candi ini dihiasi motif flora serta berbagai ragam hias yang menunjukkan gaya seni khas Majapahit.
Relief Candi Rimbi juga memiliki berbagai motif hias seperti bunga padma, ragam geometris, dan simbar yang menjadi ciri khas seni ukir Jawa Timur pada masa Majapahit.
Selain itu, terdapat beberapa panel relief yang menggambarkan makhluk mitologi yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan para peneliti.
Sebagian peneliti menduga makhluk tersebut menyerupai qilin, makhluk mitologi dalam budaya Tiongkok yang melambangkan keagungan dan keberuntungan.
Beberapa batu relief lain yang ditemukan di sekitar candi juga memiliki motif sulur bunga yang kemudian menginspirasi motif batik khas Jombang, yang dikenal sebagai Batik Tribuana.
Baca juga: Sejarah Candi Tegowangi Kediri, Peninggalan Majapahit yang Menyimpan Relief Sudamala
Kini Menjadi Situs Cagar Budaya
Seiring waktu, Candi Rimbi mengalami kerusakan akibat faktor alam maupun aktivitas manusia. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan agar situs bersejarah ini tetap terjaga.
Pada 2020, Pemerintah Kabupaten Jombang menetapkan Candi Rimbi sebagai salah satu objek cagar budaya bersama beberapa situs arkeologi lainnya.
Meski jumlah pengunjungnya tidak terlalu banyak, Candi Rimbi tetap menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik di Jombang.
Keberadaan Candi Rimbi menjadi bukti penting kejayaan peradaban Majapahit sekaligus warisan sejarah yang patut dijaga oleh generasi masa kini.