TRIBUNJOGJA.COM - Pencarian terhadap seorang nelayan, Yunanta (30), warga Muneng, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang diduga tenggelam di Muara Opak, Pantai Baros, masih terus dilakukan.
Warga Kretek Bantul tersebut dikabarkan hilang saat mencari ikan dan kepiting di Muara Opak, Pantai Baros.
Berikut kronologi menurut rekan korban, Setiyo (42) yang sebelumnya kerap bertemu Yunanta saat mencari ikan dan kepiting di lokasi tersebut.
Setiyo mengungkapkan, keseharian korban selalu mencari ikan dan kepiting di Muara Opak. Kebetulan, Setiyo memiliki warung dan camping ground di dekat lokasi kejadian, sehingga sering bertemu korban.
"Jadi, jam 06.00 WIB kemarin, saya meruput beraktivitas menanam padi. Ternyata (sepeda motor korban) diparkirkan di sebelah sana (dekat warung Setiyo)," katanya kepada Tribunjogja.com, Minggu (29/3/2026).
Biasanya setiap dua sampai tiga jam sekali, korban mengambil hasil tangkapan ikan maupun kepiting dan dibawa pulang. Namun ternyata, hingga pukul 07.00 WIB, korban tak kunjung pulang dan kendaraan korban masih di dekat warung Setiyo.
Akhirnya, ia berinisiatif memberikan informasi kepada teman-teman setempat sekitar pukul 11.00 WIB. Saat dicek bersama-sama di sungai, ternyata tidak terpantau aktivitas korban dan tidak ada getek atau perahu bambu korban.
Sore harinya, muncul informasi bahwa ada nelayan Pantai Samas yang mengamankan getek korban dikarenakan terbalik. Radius lokasi getek terbalik itu hampir satu kilometer dari lokasi warung Setiyo. Getek itu diamankan di sisi barat Muara Opak.
"Jadi, sore itu, kami cari mandiri bersama masyarakat dan sebagainya. Kemudian sore itu kami laporan ke Polsek Kretek, Satlinmas, dan sebagainya. Baru dilakukan pembukaan posko Opsar di sini," jelas dia.
Ia pun menceritakan keseharian korban kerap memasang jaring di Muara Opak pada sore hari. Kemudian hasil penjaringan dilihat secara berjenjang pada malam, pagi, dan seterusnya.
"Nah, kemarin itu kebetulan dia datangnya malam. Terus pagi enggak pulang (dari nangkap ikan). Sampai jam 12.00 WIB, enggak pulang-pulang. Ya kan ada kecurigaan, makanya dicek ke lokasi," papar Setiyo.
Disampaikannya, korban terkadang menunggu hasil menjaring ikan sambil tiduran di atas getek. Sebab, korban beristirahat di atas getek.
"Dan kalau dia ke sini (Muara Opak), pasti ngopi di sini (warung Setiyo) terus pulang atau kalau mau ke sana dan saya masih buka, dia ngopi dulu baru cari ikan. Pokoknya aktivitas harian dia begitu," bebernya.
Kendati begitu, ketika ada aktivitas pertanian yang padat, korban memilih mengerjakan lahan pertanian. Sebab, selain sebagai nelayan, korban juga aktif sebagai petani.
Sementara itu, Komandan Tim Basarnas Yogyakarta, Elfram Yuliawan, menjelaskan, telah mendapatkan informasi orang hilang di Muara Opak pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
"Secara informasi, Bapak Yunanta ini kebiasaannya menjaring ikan. Waktu itu berpamitan Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Pada pukul 05.00 WIB, ditemukan terkait rakitnya sudah hancur di Muara dan di sekitar lokasi kejadian terdapat sepeda motor beserta jaring korban," ucapnya.
Lanjutnya, warga setempat sudah mencari pencarian dari pagi sampai sore. Dikarenakan tidak membuahkan hasil, warga di sekitar Pantai Baros ini akhirnya melapor ke pihak Basarnas.
Sampai saat ini, korban belum ditemukan. Pihak Basarnas Yogyakarta bersama sejumlah pihak masih melakukan pencarian dengan menyisir pergerakan jalur air, darat, dan udara. Total ada sekitar 105 personel gabungan yang turun melakukan pencarian.
"Tim penyisiran di air menggunakan LCR Boat yang diawaki oleh Basarnas dan teman-teman relawan lainnya dengan melakukan pencarian di sekitar tempat kejadian perkara ke arah barat, hampir setengah kilometer dan ke arah timur setengah kilometer," urainya.
Kemudian penyisiran di area darat dilakukan di sepanjang pinggiran garis pantai sekitar setengah kilometer ke arah barat dan setengah kilometer ke arah timur. Selain itu, pencarian juga dilakukan dari jalur udara dengan menggunakan drone.
"Untuk operasi hari ini, kendalanya adalah di pasang surut air. Di mana, sekitar siang hari adalah puncak surut. Jadi ketika penurunan perahu LCR pasti ada bagian yang dangkal yang mungkin tidak bisa kita jangkau," tutup dia.(nei)