Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM - Guru Besar Hubungan Internasional UGM, Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro menyebut aksi protes rakyat Amerika Serikat secara besar-besaran akan memberikan tekanan politik kepada Presiden Donald Trump.
Kendati demikian, 8 juta warga AS yang turun ke jalan tidak bisa memberikan dampak langsung pada kebijakan luar negeri.
"Konstitusi dan sejarah politik AS menunjukkan bahwa dalam isu perang dan keamanan, presiden punya kewenangan besar. Oleh karena itu, keputusan-keputusan besar sang presiden, terutama konflik atau perang, tidak terlalu bergantung pada opini publik," katanya, Minggu (29/3/2026).
Dalam konteks perang dengan Iran, ia menilai arah konflik lebih banyak ditentukan oleh kepentingan keamanan dan dinamika kawasan Timur Tengah.
''Tapi, melihat diri Trump dan para penasihatnya yang ceroboh, perang ini adalah fiasco, sebuah kegagalan atau bencana luar negeri yang memalukan," sambungnya.
Ia menyebut Pemilu Sela di AS pada November 2026 memainkan peran penting dalam konstelasi perang dengan Iran. Ia melihat peluang hasil Pemilu Sela mendukung opini publik AS untuk menghentikan perang.
"Jika perang dengan Iran tidak bisa selesai dalam waktu dekat, kita mungkin harus menunggu pemilihan midterm (Pemilu Sela) di bulan November 2026. Ada potensi peluang besar dari hasil pemilihan yang mendukung opini publik AS untuk menghentikan atau meredakan konflik," ujarnya.
Sebelumnya, Nur Rachmat menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel kepada Iran adalah sebuah unlawfull attack yang jelas melanggar hukum internasional, khususnya kedaulatan negara.
Selain melanggar hukum internasional, perang ini juga memunculkan kerugian ekonomi bagi banyak negara yang memerlukan energi minyak. Tidak hanya soal lalu lintas perdagangan minyak dunia, tetapi juga akan mengerek inflasi.
"Menyerang Iran hanya memberikan sentimen negatif yang semakin besar kepada mereka (AS dan Israel). Board of Peace yang digagas Trump menjadi sesuatu yang ironis, kehilangan relevansi, kredibilitas, dan legitimasinya," imbuhnya. (maw)