TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kawasan sumbu filosofis Yogyakarta, mulai dari Jalan Malioboro hingga Alun-Alun Utara, dipastikan akan menjadi lautan manusia pada Kamis (2/4/2026) mendatang.
Sebanyak 10.000 hingga 12.000 pamong kalurahan yang tergabung dalam Paguyuban Nayantaka beserta unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menggelar kirab budaya.
Acara bertajuk Kirab Pamong dan Unsur LKK se-DIY ini diselenggarakan secara khusus dalam rangka Mangayubagya 80 Tahun Yuswo Dalem (ulang tahun ke-80) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
Kegiatan ini dijadwalkan dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan rute yang membentang dari kawasan Titik Nol Kilometer, tepatnya di depan Gedung Agung dan Benteng Vredeburg, bergerak lurus ke arah selatan melewati Alun-Alun Utara hingga mencapai titik akhir di Kagungan Dalem (KGd.) Pagelaran Kraton Yogyakarta.
Ketua Umum Paguyuban Nayantaka DIY sekaligus Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata, memastikan bahwa kirab monumental ini merupakan wujud nyata rasa cinta kasih dan keguyuban warga Yogyakarta terhadap rajanya.
Gandang menegaskan bahwa pergerakan massa dari 392 kalurahan dan 45 kelurahan se-Kota Yogyakarta ini lahir dari inisiatif murni para lurah tanpa ada unsur paksaan sedikit pun.
Baginya, momen ini adalah kesempatan bagi para pamong desa untuk memberikan sumbangsih semangat dan ucapan terima kasih kepada Ngarsa Dalem yang telah menjadi teladan dalam melayani masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk syukur atas kepercayaan Kraton yang selama ini mengizinkan kalurahan mempergunakan Tanah Kas Desa atau Sultan Ground sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) yang nilainya bervariasi mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah di tiap wilayah.
"Kegiatan ini merupakan kegiatan keguyuban ataupun wujud cinta kasih warga Jogja terhadap rajanya. Karena apa? Karena kita tahu semua bagaimana di Jogja ini, raja selalu memberikan contoh kepada kami di dalam melayani masyarakat. Walaupun beliau itu menjabat sebagai Gubernur, bagaimana beliau menempatkan diri itu yang perlu kami contoh. Sampai sekarang, yuswa beliau (Sri Sultan Hamengku Buwono X) yang masuk kaping 80. Kami berharap kita bisa memberikan sumbangsih, memberikan semangat kepada beliau, dan juga ucapan terima kasih. Ada beberapa pertanyaan, apakah itu paksaan? Saya jawab dengan tegas: kami tidak ada yang memaksa. Malah kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak Kraton yang telah memfasilitasi apa yang menjadi cita-cita kalurahan sendiri. Selama ini, kalurahan sudah bisa mempergunakan tanah miliknya Kraton (Sultan Ground) yang juga merupakan PAD dari tiap-tiap kalurahan. Besarnya kita tidak bicara, mungkin ada yang Rp25 juta, ada yang Rp100 juta, mungkin ada yang Rp500 juta. Dari situ kami menginginkan agar sebagian kecil saja hasil panenan atau hasil dari tanah-tanah yang sudah dipercayakan kepada pemerintah kalurahan untuk digarap itu bisa dipersembahkan," terang Gandang, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Tak Ada Menu Prasmanan, Silaturahmi Idulfitri di Kepatihan Yogya Jadi Berkah Bagi Pedagang Kecil
Nantinya, setiap kalurahan akan membawa Glondhong Pengarem-arem berupa hasil bumi unggulan dari wilayah masing-masing, seperti durian bagi daerah yang potensial atau kelapa bagi wilayah pesisir.
Menariknya, Sri Sultan HB X telah menyatakan kesediaannya untuk menerima hasil bumi tersebut, namun kemudian akan menyerahkannya kembali kepada para Bupati dan Wali Kota untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Hal ini sejalan dengan konsep "dari masyarakat kembali ke masyarakat" yang menjunjung tinggi semangat gotong royong.
Seluruh peserta pamong diwajibkan mengenakan pakaian adat Jawa gaya Ngayogyakarta, sementara masyarakat umum yang ingin bergabung diperbolehkan mengenakan pakaian adat secara umum maupun batik dengan tetap menjaga kesopanan dan keselarasan adat setempat.
Demi kelancaran acara yang melibatkan belasan ribu orang ini, Dinas Perhubungan DIY akan memberlakukan rekayasa dan pengalihan arus lalu lintas secara total sejak pukul 06.00 WIB hingga acara selesai.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menjelaskan bahwa penutupan akan dilakukan mulai dari sisi utara di Teteg Malioboro hingga ke arah selatan.
Selain jalur utama, seluruh jalan sirip yang bermuara ke Malioboro baik dari sisi barat seperti Jalan Sosrowijayan, Dagen, Pajeksan, Beskalan, dan Reksobayan, maupun dari sisi timur seperti Jalan Perwakilan, Suryatmajan, dan Pabringan juga akan ditutup secara menyeluruh.
Penutupan akses tambahan turut diberlakukan di simpang-simpang jalan utama yang mengarah ke Titik Nol Kilometer, meliputi Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Panembahan Senopati, hingga Jalan Ibu Ruswo dan Jalan Kauman.
"Dinas Perhubungan memang men-support keinginan dari para lurah ini. Sebagai wujud bakti yang akan sowan ke Ngarsa Dalem, karena saking banyaknya yang antusias, hal ini tentu akan sedikit mengganggu perjalanan masyarakat ketika ada pengalihan arus. Arus dari arah sisi utara akan kami tutup mulai dari Teteg Malioboro ke selatan. Sirip-sirip di Jalan Malioboro juga akan kami tutup karena akan banyak masyarakat yang berjalan menuju arah Kraton. Di sisi perempatan Titik Nol dari arah timur (Jalan Senopati) akan kami tutup. Sisi barat (dekat RS PKU Muhammadiyah) juga akan kami tutup. Jalan Ibu Ruswo juga akan ditutup. Tetapi di pertigaan Plengkung Wijilan masih bisa untuk arus lalu lintas. Kami mohon masyarakat yang ada di sekitar sana untuk bisa beradaptasi dengan arus lalu lintas yang dialihkan. Ini adalah sesuatu hal yang monumental yang belum pernah dilaksanakan. Mengingat zaman dahulu kala, hal seperti ini menunjukkan bagaimana rakyat sangat mencintai rajanya, dan ternyata rasa itu mulai tumbuh lagi saat ini," ujar Erni.
Untuk mengatur kedatangan massa, panitia telah membagi titik kumpul berdasarkan wilayah asal kabupaten/kota.
Peserta dari Yogyakarta dan Sleman akan masuk melalui Jalan Malioboro dari arah utara. Peserta dari Kulon Progo diarahkan mendekati Titik Nol dari arah barat melalui Jalan KH. Ahmad Dahlan, sementara peserta dari Bantul akan masuk dari arah timur melalui Jalan Panembahan Senopati.
Khusus untuk rombongan dari Gunungkidul, panitia memberikan toleransi waktu karena jarak tempuh yang jauh dan menempatkan mereka pada urutan kirab paling akhir.
Sebanyak 16 titik kantong parkir, termasuk di Jalan Sriwedani dan Ketandan, telah disiapkan dengan kapasitas yang telah dihitung matang demi kenyamanan bersama.
Masyarakat diminta untuk memaklumi adanya gangguan aktivitas sementara waktu demi memberikan penghormatan pada hari istimewa bagi Raja Yogyakarta tersebut. (*)