TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan (DPP PDIP) mengeluarkan pernyataan sikap merespons gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tengah menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon.
PDI Perjuangan mengutuk keras serangan terhadap personel perdamaian PBB dan mendesak Pemerintah Indonesia mengambil peran kepemimpinan diplomatik global untuk memperkuat perlindungan pasukan internasional.
Baca juga: Penjaga Perdamaian PBB Tewas di Lebanon Selatan, Basis UNIFIL Dihantam Proyektil Misterius
Sikap resmi partai ini tertuang dalam surat pernyataan nomor 337/EX/DPP/III/2026 yang ditandatangani oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Senin (30/3/2026).
"PDI Perjuangan mengutuk keras setiap tindakan dari pihak manapun yang mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan personel perdamaian PBB. Serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi DK PBB 1701 dan hukum humaniter internasional," bunyi pernyataan resmi DPP PDI Perjuangan yang diterima Tribunnews.com.
Partai berlambang banteng moncong putih tersebut mendorong Pemerintah Indonesia untuk memimpin negara-negara pengirim pasukan (Troop Contributing Countries) guna menekan rezim perlindungan personel PBB yang lebih kuat.
Salah satu poin utamanya adalah mendesak dilakukannya kajian ulang atas Rules of Engagement (aturan pelibatan) agar lebih protektif bagi prajurit di lapangan.
Selain itu, PDIP memberikan dukungan penuh bagi UNIFIL untuk melakukan investigasi independen secara transparan agar hasilnya dapat diketahui publik dan dilaporkan secara resmi ke Dewan Keamanan PBB.
Sementara itu, terkait gugurnya Praka Farizal, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri telah menginstruksikan seluruh jajaran partai untuk memberikan penghormatan terbaik.
"Ibu Megawati Soekarnoputri telah memberi instruksi kepada seluruh jajaran PDI Perjuangan untuk memberikan penghormatan terbaik kepada almarhum," tulis pernyataan tersebut.
PDI Perjuangan juga mengusulkan kepada negara agar memberikan penghargaan setinggi-tingginya berupa kenaikan pangkat anumerta, jaminan hari tua, serta menjamin masa depan pendidikan anak almarhum.
Sebagai bentuk aksi nyata, keluarga besar PDI Perjuangan menyatakan akan bergerak secara gotong royong memberikan bantuan langsung kepada keluarga korban.
"Termasuk pemberian santunan rumah ataupun ke depan beasiswa bagi anaknya yang saat ini baru berusia 2 tahun," tulis DPP PDIP.
Lebih lanjut, PDI Perjuangan mengajak seluruh kekuatan politik nasional untuk bersatu menuntut keadilan atas peristiwa ini dan memastikan keselamatan lebih dari 1.200 prajurit TNI lainnya yang masih bertugas menjaga perdamaian di Lebanon.
"Semoga almarhum Praka Farizal Rhomadhon mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, husnul khatimah, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan," tandas pernyataan tersebut.
Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang tengah bertugas sebagai pasukan penjaga kedamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan tewas terkena serangan Israel, Minggu (29/3/2026).
Tiga TNI lainnya mengalami luka dalam insiden yang terjadi di dekat Kota Adchit al Qusayr, Lebanon selatan, dekat perbatasan Israel.
Mereka adalah:
Saat ini mereka telah mendapatkan penanganan medis.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah melalui rilisnya menyampaikan rasa berduka mendalam atas gugurnya prajurit TNI serta korban luka di Lebanon.
Berdasarkan laporan dari daerah penugasan, insiden tersebut menimpa Prajurit TNI yang tergabung dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/ UNIFIL.
"Dalam penanganan, dua orang prajurit yang mengalami luka ringan telah mendapatkan perawatan di Hospital Level I UNIFIL. Sementara itu, satu orang prajurit dengan luka berat telah dievakuasi menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan," ungkapnya, Senin (30/3/2026).
Adapun prajurit yang gugur saat ini disemayamkan di East Sector Headquaters (HQ) dan dalam penyelesaian administrasi pemulangan ke Indonesia dengan dibantu pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beirut.