TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Ritual Tikam Turo menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian Tradisi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, NTT. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya tetapi juga mengandung makna teologis yang mendalam bagi umat Katolik setempat.
Secara harafiah, Tikam Turo berarti menancapkan kayu kukung ke dalam tanah sebagai penyangga untuk memasang lante atau bilah bambu yang disusun menyerupai pagar. Pada bilah bambu inilah, lilin-lilin akan diikat dan dinyalakan saat prosesi Jumat Agung berlangsung.
Dalam struktur adat, terdapat empat suku yang memegang peranan penting dalam Armida Amu Tuan Mesias Anak Allah, yakni suku Ama Koten, Ama Kelen, Ama Hurint dan Ama Maran.
Sementara itu, Tuan Mardomu bertanggung jawab menyiapkan seluruh perlengkapan, termasuk turo, armida serta konsumsi bagi masyarakat yang terlibat.
Baca juga: Pakai Kapal Gratis dari Pemprov NTT, Peziarah Semana Santa dari Timor Berlayar ke Flores Timur
Selain itu, Tuan Mardomu juga mengoordinir warga untuk mengambil bilah bambu yang kemudian dibawa ke jalur prosesi, yakni jalan bawah dan jalan tengah. Kedua jalur ini menjadi rute utama dalam prosesi Semana Santa.
Setelah pelaksanaan Tikam Turo, masyarakat yang terlibat biasanya disuguhkan makanan dan minuman sederhana sebagai bentuk kebersamaan dan ungkapan syukur.
Secara teologis, Tikam Turo dimaknai sebagai simbol “membuka dan menyiapkan jalan” bagi Yesus menuju makam-Nya. Jalan yang dimaksud adalah jalan dari salib menuju kubur, yang dalam tradisi iman dilihat sebagai jalan menuju alam kematian.
Ritual ini juga mengandung refleksi iman yang mendalam. Jika Yohanes Pembaptis dahulu mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, maka melalui Tikam Turo, umat menyiapkan jalan bagi kembalinya Yesus. Jalan tersebut harus terang dan bercahaya, yang dilambangkan melalui lilin-lilin yang dipasang di atas turo.
Pelaksanaan Tikam Turo biasanya dilakukan pada Selasa dan Rabu menjelang prosesi Jumat Agung, di bawah koordinasi Tuan Mardomu di masing-masing kelurahan dan armida.
Lebih dari sekadar tradisi, Tikam Turo menjadi pengingat bagi umat untuk juga mempersiapkan “jalan pulang” masing-masing dalam kehidupan.
Melalui perbuatan baik dan hidup yang benar, umat diharapkan mampu menjadikan jalan hidup mereka terang, sebagaimana terang lilin yang menerangi prosesi pemakaman Yesus.
Semana Santa, atau yang dikenal juga sebagai Hari Bae, merupakan prosesi perayaan Paskah yang telah berlangsung selama berabad-abad dan tetap eksis hingga kini. Bagi umat Katolik di Larantuka, perayaan ini menjadi momen penting untuk melakukan pertobatan, pembaruan rohani, serta menumbuhkan rasa solidaritas antarumat.
Istilah Semana Santa berasal dari bahasa Portugis, di mana semana berarti pekan dan santa berarti suci. Dengan demikian, Semana Santa dapat dipahami sebagai “pekan suci” yang diperingati selama tujuh hari berturut-turut oleh umat Katolik Larantuka.
Perayaan keagamaan terbesar di Flores ini diawali dengan puasa selama 40 hari, dimulai pada hari Rabu Abu, yang diisi dengan doa bersama dan berbagai persiapan batin. Selama masa puasa, umat melakukan doa dan jalan salib, termasuk kegiatan mengaji semana di Kapela Tuan Ma setiap Jumat dan Sabtu.
Tidak hanya diikuti oleh warga setempat, prosesi Semana Santa juga menarik banyak peziarah dari berbagai daerah di Flores, bahkan dari luar negeri.
Tradisi Semana Santa berakar dari kedatangan bangsa Portugis di Pulau Solor dan Timor pada abad ke-16 untuk berdagang rempah-rempah.
Kehadiran mereka membawa pengaruh besar dalam penyebaran agama Katolik di wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk di Larantuka.
Menurut cerita warga, tradisi Semana Santa bermula dari ditemukannya Patung Tuan Ma yang terdampar di Pantai Larantuka pada tahun 1510.
Patung ini dianggap sakral oleh masyarakat setempat dan disimpan di rumah pemujaan korke. Warga pun kerap memberikan sesaji sebagai bagian dari ritual penghormatan.
Kemudian, seorang misionaris mengidentifikasi patung tersebut sebagai Santa Maria, Bunda Yesus. Sejak saat itu, perayaan Semana Santa di Larantuka semakin terkait erat dengan sejarah kedatangan Portugis dan pengaruh Katolik yang mereka bawa.
Disclaimer: Melansir Berbagai Sumber dan Liputan Wartawan Tribunflores.com di Lapangan