TRIBUNJATIM.COM - Serangan Israel di Lebanon hingga menewaskan prajurit TNI dalam misi pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuai kecaman keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
MUI mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan pada Senin (30/3/2026), duka cita mendalam atas peristiwa tersebut.
"MUI menyampaikan keprihatinan dan duka cita mendalam atas gugurnya seorang prajurit TNI yang tergabung dalam misi pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip dari Tribunnews.
Baca juga: Rekam Jejak Pengabdian Praka Farizal Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel di Lebanon
Sudarnoto menyebut, serangan terhadap pasukan perdamaian tak dapat ditoleransi.
Menurutnya hal itu dapat mencederai prinsip kemanusiaan.
"Tindakan ini tidak hanya melanggar norma hukum internasional, tetapi juga mencederai prinsip kemanusiaan universal," kata Sudarnoto.
Lanjut, Sudarnoto mendesak agar insiden ini diselidiki secara transparan dan akuntabel.
MUI mendesak PBB mengambil langkah tegas untuk memastikan pertanggungjawaban hukum.
Menurutnya, peristiwa ini dapat melemahkan sistem kerja sama global dan mengancam efektivitas misi perdamaian dunia.
Atas hal itu, Sudarnoto meminta pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik tegas melalui jalur bilateral maupun multilateral.
Selain itu, pemerintah diminta mempertimbangkan untuk menarik diri dari keanggotaan Board of Peace (BoP).
"Disamping itu, pemerintah juga perlu segera mempertimbangkan agar menarik diri dari keanggotaan Indonesia di BoP," tambahnya.
MUI turut mendorong PBB untuk segera melakukan investigasi independen dan menjatuhkan sanksi terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, masyarakat internasional diminta tidak bersikap diam terhadap pelanggaran hukum internasional.
MUI menegaskan bahwa perdamaian dunia hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak menghormati hukum internasional dan menjunjung tinggi keadilan.
Sebagai informasi pada Selasa (31/3/2026), total ada tiga prajurit TNI yang dilaporkan gugur di Lebanon.
Mereka gugur bertugas dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Sekira dua di antaranya tewas akibat ledakan yang menghantam kendaraan UNIFIL di dekat desa Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026).
Sementara, satu prajurit lainnya gugur dalam insiden ledakan di pangkalan UNIFIL di wilayah Ett Taibe, sektor timur Lebanon, Minggu (29/3/2026).
Baca juga: Indonesia Angkat Bicara usai Prajurit TNI Gugur dan Terluka Diduga Akibat Serangan Israel di Lebanon
Di sisi lain, pasukan pertahanan Israel (IDF) merespons insiden yang mengakibatkan personel UNIFIL dari Indonesia gugur.
Dalam pernyataannya, IDF mengklaim lokasi gugurnya 3 personel TNI adalah zona perang yang sah.
IDF menyebut, insiden gugurnya tiga personel TNI sedang ditinjau secara menyeluruh.
IDF mengaku sedang mendalami apakah serangan itu dipicu oleh aktivitas militer Hizbullah sendiri, atau karena operasi IDF.
"Insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengklarifikasi keadaan dan menentukan apakah insiden tersebut diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF," bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari Tribun Video.
Militer Israel mengklaim peristiwa ini terjadi di zona pertempuran aktif.
Sehingga meminta publik tak berasumsi soal pihak yang bertanggungawab atas serangan tersebut.
"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif. Oleh karena itu, tidak boleh diasumsikan bahwa insiden-insiden di mana tentara UNIFIL terluka disebabkan oleh IDF," tambahnya.
Baca juga: TNI Berduka, 2 Prajurit Terbaiknya Gugur saat Evakuasi Jenazah Praka Farizal Romadhon, UNIFIL Murka
IDF menegaskan bahwa operasi yang dilakukan pasukannya untuk menggempur Hizbullah.
Bukan untuk melukai pasukan penjaga perdamaian PBB.
Diketahui, PBB kembali mengonfirmasi gugurnya dua prajurit TNI dalam serangan yang terjadi di Lebanon pada Senin (30/3/2026).
Dengan bertambahnya dua prajurit yang gugur, kini sudah ada 3 personel TNI penjaga perdamaian yang wafat dalam tugas.
Dua prajurit yang gugur adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dari Sat Grup 2 Kapassus dan Sertu Ikhwan dari Kesdam IX Udayana.
Para prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL PBB ini terkena ledakan saat melaksanakan penjemputan jenazah Praka Farizal Romadhon yang sebelumnya gugur dalam serangan pertama.