Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Menjelang perayaan Tri Hari Suci atau Semana Santa, umat Katolik di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali menghidupkan tradisi leluhur yang sarat makna religius, yaitu Tikam Turo. Tradisi ini menandai dimulainya masa tenang sebelum memasuki Tri Hari Suci, yang juga dikenal sebagai Hari Bae Nagi.
Pantauan Tribunflores.com, sejak Selasa, 31 Maret 2026 pagi, warga berbondong-bondong menuju jalan-jalan utama membawa kayu kukung dan belahan bambu.
Kayu kukung ditancapkan ke tanah, sementara potongan bambu dipasang berjajar sebagai pagar pembatas jalur prosesi Jumat Agung, yang dilalui umat devosan Tuan Ma dan Tuan Ana.
Nantinya, bambu-bambu ini juga menjadi tempat lilin yang dinyalakan saat prosesi malam Jumat Agung.
Baca juga: Pakai Kapal Gratis dari Pemprov NTT, Peziarah Semana Santa dari Timor Berlayar ke Flores Timur
Tradisi Tikam Turo biasanya dilakukan dua hingga tiga hari sebelum Semana Santa dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua, remaja, hingga anak-anak.
Kegiatan ini menjadi wujud kebersamaan, cinta terhadap tradisi, dan penguatan iman Katolik. Bagi masyarakat, Tikam Turo adalah warisan leluhur yang telah dijaga dan dilestarikan selama ratusan tahun.
Matinus De Rosary, warga Kelurahan Lokea, menjelaskan bahwa tradisi ini diinisiasi oleh Tuan Mardomu, umat yang menyiapkan seluruh perlengkapan perayaan Tri Hari Suci, mulai dari Tikam Turo hingga prosesi utama.
“Turo ini dibuat oleh Tuan Mardomu, yang biasanya sudah melamar satu tahun sebelumnya untuk menyiapkan perlengkapan perayaan Paskah,” ujarnya.
Dijelaskan pula bahwa fungsi Turo adalah sebagai pagar yang diikat dengan bambu dan menjadi tempat lilin. Lilin-lilin ini kemudian dinyalakan saat prosesi malam Jumat Agung, menerangi jalan prosesi dan menambah khidmat perayaan.
“Manfaat Turo, Turo itu dari kayu kukung, dipasang seperti pagar, diikat dengan bambu, dan di atas bambu itu akan diikat lilin. Lilin itu dinyalakan pada malam Jumat Agung saat prosesi,” tambah Matinus.
Tradisi ini tidak hanya memperkuat makna religius Semana Santa, tetapi juga menjaga kelestarian budaya dan nilai-nilai warisan leluhur di Kota Larantuka. (awk)