Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi XIII Sugiat Santoso menilai ada tiga skenario ideal untuk menuntaskan proses hukum kasus penyiraman air keras terhadap aktivis sekaligus Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus, dengan tersangka anggota Bais TNI.

Menurut dia, opsi untuk menuntaskan kasus itu melalui peradilan militer tidak akan ideal karena persidangan berpotensi digelar secara tertutup. Jika begitu, dia menilai bakal terjadi gejolak sosial karena akan ada protes.

"Jika hanya melalui peradilan militer, ini akan berlangsung tertutup. Dugaan saya, akan ada gelombang protes dari masyarakat sipil jika transparansi tidak dikedepankan," kata Sugiat dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan tiga skenario hukum yang ideal itu bisa menekankan transparansi. Adapun, skenario pertama dan yang terbaik, yakni proses hukum dilakukan jalur pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

"Sebaiknya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Hal ini akan mampu melampaui kesulitan institusional kepolisian untuk menyentuh oknum TNI. Ini adalah skenario paling baik," kata dia.

Selain pembentukan TGPF, dia menjelaskan opsi skenario kedua adalah proses hukum dilakukan melalui peradilan umum. Dengan begitu, menurut dia, polisi harus meneruskan penyelidikan kasus itu hingga masuk ke meja hijau.

"Alasannya jelas, korbannya adalah warga sipil. Polisi harus meneruskan penyelidikan dan segera melimpahkannya ke Kejaksaan agar diproses di peradilan umum," kata dia.

Jika ditemukan adanya keterlibatan unsur militer dan sipil secara bersamaan, dia pun menyarankan opsi ketiga, yakni peradilan koneksitas. Skenario itu, kata dia, masih tergolong baik karena memberikan ruang bagi kepolisian untuk tetap bergerak.

"Peradilan koneksitas ini masih bagus, karena polisi tetap melakukan penyelidikan untuk pelaku yang berasal dari sipil. Sementara, peradilan militer tetap berjalan untuk pelaku dari unsur militer," kata dia.

Dia memastikan Komisi XIII DPR memberikan perhatian serius terhadap penanganan kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus. Dia pun menginginkan agar korban mendapatkan keadilan.