TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua mendeteksi potensi terulangnya bencana banjir bandang serupa kejadian Tahun 2019, yang menewaskan 100 lebih orang dan mengakibatkan sekitar 11 ribu orang mengungsi.
Kepala BPBD Kabupaten Jayapura, Lefinus Ragainaga pada akhir Maret 2026 mengungkapkan adanya temuan serius berupa penumpukan sedimen di ketinggian 400 mdpl kawasan Cagar Alam Cyclops.
Ia mengatakan aktivitas penebangan pohon di kawasan penyangga itu masih berlangsung, dan jika tidak dihentikan maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi bencana serius.
Baca juga: Pemprov Papua Pegunungan Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran Wamena, 11 Orang Tewas
Sebagai langkah mitigasi darurat untuk mencegah semakin dekatnya musibah itu, BPBD berencana melakukan koordinasi lintas sektoral bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan World Wide Fund for Nature (WWF).
"Intinya warga dilarang menebang di kawasan cagar alam. Jika penebangan terus dilakukan, dampaknya adalah penumpukan sedimen yang bisa memicu bencana," tegasnya.
Sebelumnya, Bupati Jayapura, Yunus Wonda mengajak warganya untuk bersama-sama mencegah terulangnya banjir bandang pada Maret 2019 yang merenggut banyak hal dari masyarakat.
Baca juga: Pertamina Pastikan Harga BBM Tidak Naik, Pasokan Energi Dijamin Aman
Ia meminta warga yang tersebar di 139 kampung tidak membuang sampah sembarangan karena menyebabkan penyumbatan drainase dan menghadirkan banjir.
Secara khusus, Mantan Ketua DPR Papua periode 2014–2019 ini mengimbau warga yang bermukim di kawasan penyangga Cagar Alam Cyclops agar segera menghentikan aktivitas pembukaan kebun baru demi menjaga stabilitas resapan air di pegunungan tersebut.
"Jangan sampai bencana banjir bandang pada 2019 terulang kembali. Dalam nama Tuhan, itu tidak boleh terjadi," tegasnya.
Pada akhir Desember 2025, Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Komunikasi dan Informatika menggunakan drone untuk mengecek Kali Kemiri yang berada di kaki Gunung Cyclops sebab menampilkan perubahan dari biasanya.
Baca juga: Yustinus Tebai Pimpin KNPI Papua Tengah, Fokus pada Persatuan Pemuda DOB
Air yang mengalir di kali itu keruh selama sepekan dan hal itu tidak biasa bagi masyarakat termasuk wakil bupati. Saat itu dia menduga jika terjadi patahan gunung yang kemudian membentuk telaga dan berpotensi mengakibatkan banjir bandang seperti 2019.
"Jangan sampai ada sungai terbendung karena itu bahaya," katanya.
Untuk diketahui bahwa pada Tahun 2023, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua menanam 20 ribu pohon bambu sejauh 78 kilometer untuk menyelamatkan kawasan Cagar Alam Pegunungan (CAP) Cyclops. Bambu-bambu tersebut menjadi pembatas antara kawasan konservasi atau perlindungan dan area aktivitas masyarakat.
Namun hingga kini belum diketahui pasti apakah puluhan ribu tanaman itu tumbuh semua atau sudah mati. (*)