BOLASPORT.COM - Menjadi orang Italia tak berarti harus mengidolakan Valentino Rossi. Pembalap Leopard Racing, Guido Pini, membagikan cerita di balik pemilihan nomor 94 yang berawal dari kekagumannya terhadap Marc Marque.
Akhir pekan lalu Guido Pini mengakhiri penantian panjang Italia di Moto3 setelah kemenangannya pada balapan GP Amerika.
Rival Veda Ega Pratama sejak Red Bull Rookies Cup itu menjadi pembalap Italia pertama yang memenangi balapan Moto3 sejak Dennis Foggia pada 2022 silam.
Italia mengalami kekeringan talenta di kategori bawah.
Keputusan VR46 Riders Academy besutan Rossi untuk menghentikan sementara perekrutan bakat baru sampai baru aktif lagi pada tahun lalu makin tidak membantu.
Setelah program Talenti Azzurri dari Federasi Motor Italia, menariknya, Pini justru bertumbuh di bawah bimbingan Emilio Alzamora.
Alzamora adalah juara dunia yang pernah lama mementori Marc Marquez. Pini direkrutnya pada 2023 setelah menjuarai European Talent Cup semusim sebelumnya.
Insting Alzamora tidak salah. Pini telah mencatat podium dalam musim debutnya di Moto3 pada GP Indonesia tahun lalu dan kini pecah telur dengan kemenangan pertama.
Bukan kebetulan apabila Pini mengidolakan Marc Marquez juga hingga berniat memakai nomor balap 93 sampai takdir menggiringnya ke jalannya sendiri.
"Sebagai pendukung Marquez, saya selalu menggunakan nomor 93, tetapi pada tahun pertama Rookies Cup nomor itu sudah diambil," kata Guido Pini, dikutip BolaSport.com dari Moto.it.
Usut punya usut, Pini mengalah karena sudah ada yang lebih dulu memakai nomor yang identik dengan Marc Marquez itu yaitu Fadillah Arbi Aditama.
Pembalap Indonesia itu lebih dulu tampil di Rookies Cup pada 2022. Dia dan Pini menjadi pesaing pada 2023. Tahun 2024, giliran Veda yang menjadi lawan Pini di ajang ini.
"Saya memilih 94 karena dua alasan, pada tahun 2022 saya memenangkan kejuaraan Eropa, jadi 93 + 1 menjadi 94," ucap Pini membeberkan.
"Selain itu, paman saya, yang mendorong saya untuk terjun ke dunia ini, lahir pada tahun 1994 dan selalu mengenakan nomor itu saat balapan. Itulah mengapa saya memilihnya.
Setelah menggunakan nomor 93 sampai 2022, nomor 94 menjadi identitas pembalap berusia 18 tahun itu sampai sekarang.
Begitu juga kekagumannya terhadap Marquez sebagai idola yang kebetulan bertautan dengan fakta bahwa dia dimentori orang yang sama.
"Saya selalu menyukai gaya balapnya dan cara dia menghadapi balapan," kata Pini soal Marquez.
"Saat itu, ketika saya lahir, Valentino kurang lebih berhenti menjadi juara, jadi saya tumbuh di era yang berbeda, dan Marquez selalu menjadi panutan saya."
Gelar terakhir Rossi terjadi pada 2009 alias setahun setelah Pini lahir.
"Saat ini, semua orang berusaha meniru dia (Marquez). Dia sangat berbakat, tapi dia juga berlatih dengan keras," imbuh Pini.
"Emilio sering berbicara tentang ini, hasratnya (Marquez) untuk menang, dikombinasikan dengan bakatnya, membuatnya menjadi 'monster' yang luar biasa."
Pini menjadi salah satu talenta pertama yang direkut Alzamora dalam agensi SeventyTwo setelah berhenti menjadi manajer Marquez.
Selain Pini, SeventyTwo Sports Group juga menaungi karier Brian Uriarte (Moto3) dan Carlos Cano (JuniorGP dan Rookies Cup).
"Sebuah keuntungan besar untuk dipilih olehnya; dia banyak membantu kami dalam latihan," kata Pini soal Alzamora.
"Dia bahkan mengizinkan kami menggunakan rumahnya sehingga kami bisa tinggal di sana dan berlatih sebanyak mungkin."
"Pengalamannya sangat membantu, dan saya berusaha memanfaatkannya sebaik-baiknya," ujar Pini menambahkan.