Sosok Kapten Inf Zulmi Aditya, Prajurit Kopassus yang Gugur di Lebanon, Israel Beri Tanggapan
Ani Susanti April 01, 2026 04:32 PM

TRIBUNJATIM.COM - Dua prajurit TNI, Kapten Inf Zulmi Aditya dan Sersan Satu (Sertu) Ikhwan, gugur dalam insiden ledakan saat menjalankan tugas pengawalan konvoi logistik pasukan UNIFIL pada Senin (30/3/2026).

Ia gugur dalam misi perdamaian dunia di Lebanon Selatan.

Peristiwa ini terjadi di wilayah Bani Hayyan sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Selain dua prajurit yang gugur, beberapa personel lainnya juga mengalami luka-luka akibat ledakan yang hingga kini masih dalam proses penyelidikan.

Baca juga: Pernah Dikecewakan Indonesia, Negara Ini Justru Ikut Berduka saat 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Kapten Inf Zulmi Aditya merupakan perwira pertama TNI dari satuan Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Ia adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2015 dan menjadi bagian dari pasukan TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

UNIFIL sendiri merupakan misi penjaga perdamaian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dibentuk sejak Maret 1978 untuk menjaga stabilitas keamanan di Lebanon Selatan, khususnya di wilayah perbatasan dengan Israel.

Keluarga Berduka

Hingga kini duka masih menyelimuti keluarga Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar di Kota Cimahi.

Keluarga pun masih menunggu kepulangan jenazah almarhum dari Lebanon ke Indonesia.

Kabar gugurnya Kapten Zulmi tidak langsung diterima secara utuh oleh pihak keluarga.

Informasi awal sudah diterima sejak Senin sore, namun baru dipastikan pada Selasa (31/3/2026) setelah ada konfirmasi resmi dari kesatuan.

"Ya benar, adik kami Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar meninggal di Lebanon. Mudah-mudahan almarhum diterima di sisi Allah SWT," ungkap kakak sepupu almarhum, Risman Efendi.

Ia mengaku keluarga sempat ragu terhadap kabar yang beredar sebelum adanya kepastian resmi.

"Informasi kemarin sebetulnya, cuma belum berani memastikan, karena memang belum ada kepastian. Nah tadi sekitar jam 4 sore, dapat update adik kami benar yang gugur di Lebanon," ujarnya.

Saat ini, keluarga masih menunggu informasi terkait jadwal pemulangan jenazah.

"Jenazahnya masih di sana, kita lagi menunggu pemulangan ke Indonesia. Mudah-mudahan segera bisa dipulangkan, sekarang keluarga masih menunggu kabar dari komandan kesatuan," kata Risman.

Di rumah duka yang berada di Kampung Cikendal, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, suasana haru menyelimuti keluarga.

Sejak Selasa malam, kerabat dan pelayat mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Karangan bunga duka cita juga terlihat memenuhi area rumah, termasuk kiriman dari jajaran Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian almarhum dalam misi perdamaian dunia.

Kronologi Kejadian

Insiden bermula ketika Task Force Bravo (TFB) INDOBATT melaksanakan misi pengawalan logistik sekaligus menjemput jenazah Praka Farizal Romadhon.

Saat itu, pasukan TNI mengawal konvoi milik Combat Support Service Unit (CSSU) dari Spanyol yang bergerak dari sektor 7-2 menuju sektor 7-1.

Dalam rangkaian operasi tersebut, dua kendaraan TNI mengawal enam kendaraan logistik, termasuk membawa kotak jenazah untuk evakuasi almarhum Praka Farizal.

Namun, saat melintas di wilayah Bani Hayyan dan hendak berbelok, tiba-tiba terjadi ledakan yang menghantam kendaraan pertama.

Baca juga: MUI Kecam Penyerangan ke Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Minta Pemerintah Keluar dari BoP: Segera

Kendaraan tersebut ditumpangi Kapten Inf Zulmi Aditya bersama sejumlah personel lainnya. Ledakan itu menyebabkan kerusakan parah pada kendaraan dan mengakibatkan korban jiwa.

Akibat kejadian tersebut:

Kapten Inf Zulmi Aditya gugur di lokasi

Sertu Ikhwan turut gugur

Kapten Inf Sulthan dan Praka Deni mengalami luka-luka

Beberapa prajurit lain di kendaraan kedua juga mengalami luka

Hingga kini, penyebab pasti ledakan masih diselidiki.

Tanggapan Israel

Menanggapi insiden tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa peristiwa tersebut masih dalam proses penyelidikan.

Dalam pernyataan resminya, IDF menyebutkan bahwa pihaknya tengah meninjau secara menyeluruh untuk memastikan apakah insiden tersebut disebabkan oleh aktivitas Hizbullah atau operasi militer Israel.

"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif," tulis pernyataan IDF, dilansir dari BBC, Selasa (31/3/2026).

"Oleh karena itu, tidak dapat diasumsikan bahwa insiden-insiden yang menyebabkan cedera pada tentara UNIFIL disebabkan oleh IDF," lanjut pernyataan tersebut.

Sementara itu, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric menegaskan, pasukan penjaga perdamaian merupakan representasi komunitas internasional sehingga harus dilindungi dan tidak boleh menjadi sasaran serangan.

Ia juga mendesak Lebanon dan Israel untuk memanfaatkan mekanisme UNIFIL sebagai sarana dialog. Menurutnya, kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon harus tetap dihormati oleh semua pihak.

Berdasarkan hukum internasional, seluruh pihak yang terlibat konflik memiliki kewajiban untuk menjamin keselamatan dan keamanan personel PBB.

Baca juga: Indonesia Angkat Bicara usai Prajurit TNI Gugur dan Terluka Diduga Akibat Serangan Israel di Lebanon

UNIFIL menegaskan bahwa serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

Sebagai informasi, UNIFIL dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 1978 dan sejak saat itu berfungsi sebagai zona penyangga antara Israel dan Lebanon.

Pasukan penjaga perdamaian bertugas berpatroli di sepanjang “Garis Biru”, yakni perbatasan de facto antara kedua wilayah, serta bekerja sama dengan militer Lebanon.

Sejak misi ini dibentuk, sekitar 339 personel penjaga perdamaian telah tewas saat menjalankan tugas.

Meski gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sempat disepakati pada November 2024, situasi di lapangan masih memanas.

Israel dilaporkan terus melancarkan serangan hampir setiap hari terhadap target yang berkaitan dengan Hizbullah, menyusul eskalasi konflik yang dipicu perang di Gaza.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.