TRIBUNJATIM.COM – Penjara Kalisosok Surabaya menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan jejak panjang perjalanan bangsa Indonesia.
Mulai dari era kolonial hingga masa revolusi kemerdekaan.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, penjara ini tidak hanya menjadi tempat tahanan, tetapi juga saksi bisu berbagai peristiwa penting di Kota Pahlawan.
Dibangun Era Kolonial, Simbol Kekuasaan Hindia Belanda. Penjara Kalisosok dibangun atas perintah Herman Willem Daendels pada 1 September 1808.
Pembangunan penjara ini menghabiskan biaya sekitar 8.000 gulden dan berlokasi di kawasan Werfstraat, Surabaya.
Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, penjara ini dikenal dengan nama Werfstraat Gevangenis oleh orang Belanda, sementara masyarakat pribumi menyebutnya sebagai Penjara Kalisosok atau “Bui”. Nama tersebut melekat hingga kini sebagai identitas lokal.
Pada awal operasionalnya, penjara ini dihuni oleh berbagai kalangan, tidak hanya pribumi tetapi juga warga Eropa, Cina, hingga Arab.
Hal ini menunjukkan bahwa Kalisosok menjadi pusat penahanan penting pada masa kolonial.
Pada tahun 1812 Daendels mulai menetapkan aturan penjara, termasuk larangan bagi sipir untuk bertindak sewenang-wenang.
Meski demikian, praktik di lapangan seringkali berbeda dengan aturan yang ada.
Kehidupan Suram di Balik Jeruji Besi
Kondisi di dalam Penjara Kalisosok dikenal sangat keras dan tidak manusiawi.
Dikutip dari disbudporapar.surabaya.go.id, para tahanan harus melalui proses “stempel” sebagai tanda narapidana, bahkan dirantai dengan bola besi di tangan dan kaki.
Selain itu, penjara ini juga memiliki ruangan khusus bernama Treurkamer atau kamar duka.
Ruangan tersebut digunakan oleh tahanan untuk merenungi kesalahan sebelum menjalani hukuman berat, termasuk hukuman mati.
Sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, penyakit seperti kolera, pes, dan demam kerap menyerang para penghuni penjara.
Banyak tahanan yang meninggal akibat kondisi kesehatan yang buruk di dalam penjara.
Menariknya, sebelum adanya rumah sakit jiwa di Surabaya, penjara ini juga digunakan untuk menampung orang dengan gangguan kejiwaan.
Hal ini menunjukkan fungsi ganda penjara di masa lalu.
Saksi Bisu Perjuangan dan Revolusi Kemerdekaan
Penjara Kalisosok tidak hanya menjadi tempat hukuman, tetapi juga saksi perjuangan tokoh-tokoh bangsa.
Dilansir dari berbagai sumber, sejumlah tokoh penting pernah ditahan di sini, seperti Wage Rudolf Soepratman dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
Selain itu, Mas Mansur juga pernah dipenjara di Kalisosok dan wafat di sana pada masa revolusi kemerdekaan.
Peristiwa ini menegaskan betapa kelamnya sejarah penjara tersebut.
Dikutip dari historicalmeaning.id, setelah Proklamasi 1945, penjara ini digunakan untuk menahan tentara Jepang dan pihak Sekutu, termasuk Kapten P.J.G. Huijer yang ditangkap oleh rakyat Surabaya.
Tak hanya itu, para narapidana bahkan sempat terlibat dalam perjuangan dengan merebut persenjataan.
Penjara Kalisosok pun menjadi bagian dari dinamika revolusi yang terjadi di Surabaya.
Baca juga: Sejarah Monumen Soerjo di Ngawi, Mengenang Tragedi Gugurnya Gubernur Pertama Jawa Timur
Dari Bangunan Seram ke Potensi Wisata Sejarah
Seiring waktu, fungsi Penjara Kalisosok mulai berubah.
Pemerintah Kota Surabaya pernah berencana mengembangkan kawasan ini menjadi objek wisata sejarah dan museum perjuangan.
Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, bangunan ini memiliki nilai historis tinggi karena menjadi saksi berbagai peristiwa penting, mulai dari masa kolonial hingga revolusi nasional.
Namun, kondisi terkini menunjukkan bahwa bangunan ini kurang terawat.
Cat tembok mengelupas, beberapa bagian rusak, dan kawasan sekitar tampak tidak terkelola dengan baik.
Meski begitu, statusnya sebagai cagar budaya tetap melekat.
Banyak pihak berharap Penjara Kalisosok dapat direvitalisasi menjadi destinasi edukasi sejarah yang menarik bagi masyarakat.
Baca juga: Menyusuri Museum Kambang Putih, Jejak Sejarah Tuban dari Pelabuhan Kuno hingga Edukasi Modern
Warisan Sejarah yang Menunggu Perhatian
Penjara Kalisosok kini menjadi simbol penting perjalanan sejarah Surabaya.
Dari penjara kolonial hingga saksi revolusi, bangunan ini menyimpan banyak cerita yang layak dikenang.
Sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, keberadaannya yang kini kurang terawat menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjaga warisan budaya tersebut.
Dengan pengelolaan yang tepat, Penjara Kalisosok berpotensi menjadi pusat edukasi sejarah sekaligus destinasi wisata unggulan di Kota Surabaya.
Ke depan, pelestarian bangunan ini tidak hanya penting untuk menjaga fisik bangunan, tetapi juga untuk merawat ingatan kolektif tentang perjuangan dan sejarah bangsa Indonesia.