WARTAKOTALIVE.COM - Israel menjelaskan kronologi serangan terhadap Hizbullah yang menewaskan pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dari Indonesia.
Hal itu kata Israel sebagai tembakan balasan lantaran Hizbullah terlebih dahulu menyerang mereka di posisi pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) berada.
Pembelaan itu disampaikan Duta Besar Israel Danny Danon dalam sidang darurat PBB usai tiga prajurit TNI dinyatakan gugur dalam serangan Israel di Lebanon pada 29 dan 30 Maret 2026.
Sidang darurat yang digelar di Markas PBB di New York, Amerika Serikat (AS) itu menghadirkan sejumlah negara yang terlibat dalam UNIFIL termasuk Indonesia serta Israel sebagai pihak yang diduga bertanggung jawab.
Israel sendiri tidak terima disalahkan dalam serangan ke arah Posko Pasukan Perdamaian PBB yang menewaskan tiga Prajurit TNI serta lima lainnya terluka.
Danon menyalahkan Hizbullah dalam tewasnya tiga prajurit TNI.
“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa pasukan UNIFIL terkena alat peledak Hizbullah dalam insiden di dekat Bani Hayyan,” kata Danon kepada Dewan Keamanan PBB dalam sidang darurat yang digelar Selasa (31/3/2026) waktu setempat.
Danon juga mengatakan pada hari Selasa bahwa penembakan terhadap posisi UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada hari Minggu dilakukan oleh Hizbullah.
Insiden itu menyebabkan kematian seorang lagi pasukan penjaga perdamaian Indonesia.
Menurutnya saat itu situasinya sangat rumit dan berbahaya.
Di mana Hizbullah lebih dulu melakukan serangan ke Israel dari titik pasukan UNIFIL berada.
“Situasinya kompleks. Situasinya berubah dengan cepat. Dan ini berbahaya,” kata Danon.
“Israel tidak memilih konflik ini. Hizbullah yang memilihnya ketika mereka mulai menembaki komunitas kami, dengan dalih membalas kematian Pemimpin Tertinggi rezim Iran.”
Israel pun kemudian menunjukan sebuah peta yang merinci beberapa peluncuran oleh Hizbullah di dekat posisi UNIFIL berada.
Padahal kata Danon, sebelumnya Israel telah berkoordinasi dengan UNIFIL untuk berpindah posisi agar mengurangi risiko serangan balasan.
Sebab kata Danon, Hizbullah memanfaatkan posisi UNIFIL untuk melakukan serangan ke Israel.
“Pada tanggal 22 Maret, Israel mengirimkan surat resmi kepada UNIFIL yang memperingatkan—kepala Komando Utara mengirimkan surat tersebut langsung kepada UNIFIL—memperingatkan bahwa area di sekitar wilayah Janbat itu berbahaya,”
“Israel berkoordinasi erat dengan UNIFIL untuk mengurangi risiko,” kata Danon.
“Sementara itu, Hizbullah memanfaatkan kehadiran mereka.”
Ia juga menyampaikan kepada dewan tersebut rasa frustrasinya atas kegagalan pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah dan mengerahkan pasukannya ke benteng kelompok teror tersebut di selatan.
Baca juga: Keras! Ini Pernyataan Umar Hadi di PBB Atas Gugurnya 3 TNI di Lebanon
“Jika Hizbullah terus berlanjut, bahaya pun berlanjut. Jika Hizbullah tetap bersenjata, ancaman tetap ada,” kata Danon.
Menanggapi hal tersebut juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan investigasi serangan yang menewaskan tiga prajurit TNI tersebut.
"Kami mengundang mereka untuk membagikan bukti mereka dengan tim investigasi kami."
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan dalam sebuah pengarahan bahwa bom pinggir jalan, kemungkinan besar Ied atau alat peledak rakitan, adalah penyebab insiden Bani Hayyan di Lebanon.
Sementara itu Perwakilan Tetap RI untuk PBB Umar Hadi terlihat cukup keras mengkritik PBB dan Israel dalam peristiwa ini.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Umar Hadi dalam Sidang PBB mengenai situasi di Lebanon.
Umar Hadi mendesak PBB yang turun langsung dalam menyelidiki kematian tiga TNI yang gugur di Lebanon dan mengabaikan penyangkalan Israel.
“Biar saya perjelas, kami menuntut penyelidikan langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan-alasan dari Israel,” tegas Umar Hadi.