Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandar Lampung mencatat adanya lonjakan signifikan kasus suspek campak pada tiga bulan di awal tahun 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung mengungkapkan, dalam kurun Januari hingga Maret 2026, jumlah suspek campak telah menyentuh angka 169 kasus.
Sementara data sepanjang Januari hingga Desember 2025, hanya terdapat 63 kasus suspek campak. Itu artinya ada lonjakan 168,3 persen atau 2,7 kali lipat kasus suspek campak di Bandar Lampung.
Lonjakan ini menunjukkan adanya peningkatan kewaspadaan, sekaligus menjadi sinyal perlunya penguatan langkah pencegahan di masyarakat.
Berdasarkan data Diskes Bandar Lampung, penyebaran tertinggi hingga Maret 2026 terjadi di beberapa wilayah.
Baca juga: 2 Gejala Klinis Campak Pada Anak, dr Edwin: Harus Segera Dibawa ke RS!
"Di antaranya, yakni Tanjungkarang Timur (19 kasus), Panjang (14 kasus), Kemiling (10 kasus), dan Tanjungkarang Barat (10 kasus)," kata Muhtadi, Rabu (1/4/2026).
Meski demikian, Muhtadi menegaskan, capaian imunisasi campak sebenarnya sudah cukup baik. Pada 2025, cakupan imunisasi untuk bayi usia 9 bulan mencapai 95,8 persen, anak usia 18 bulan 96,6 persen, dan siswa kelas 1 SD sebesar 93 persen. Angka ini menunjukkan bahwa target herd immunity secara umum telah tercapai.
Namun, lanjut Muhtadi, dampak pandemi Covid-19 pada periode 2019–2022 menyebabkan adanya anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, sehingga celah penularan masih terjadi. Untuk menekan penyebaran, terus Muhtadi, pihaknya telah melakukan berbagai langkah konkret.
Di antaranya pelaksanaan imunisasi rutin MR, sweeping imunisasi setiap bulan oleh puskesmas, serta program Kejar untuk melengkapi imunisasi anak hingga usia 59 bulan. Selain itu, penguatan surveilans juga dilakukan melalui pelaporan cepat di aplikasi SKDR dan penyelidikan epidemiologi guna menelusuri sumber penularan.
Di sisi penanganan, kata Muhtadi, pihaknya juga berkoordinasi dengan rumah sakit dalam tata laksana kasus, termasuk pemberian vitamin A dosis tinggi serta isolasi pasien untuk mencegah penularan lebih luas. Meski stok vaksin dipastikan aman hingga Maret 2026, Muhtadi mengakui, masih ada sejumlah wilayah dengan cakupan imunisasi di bawah target 95 persen, seperti Simpur, Panjang, dan Kemiling.
"Rendahnya partisipasi masyarakat menjadi satu di antara kendala utama, termasuk masih adanya keraguan orang tua akibat hoaks dan kekhawatiran terhadap efek samping vaksin," ucap Muhtadi.
Sebagai upaya meningkatkan kesadaran, Muhtadi menyebut, pihaknya bersama puskesmas, sekolah, dan berbagai pihak terus menggencarkan edukasi melalui posyandu, media sosial, hingga kerja sama dengan tokoh masyarakat. Muhtadi pun mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak seperti demam tinggi, ruam, batuk, pilek, dan mata merah.
"Partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran campak," tandas Muhtadi.
( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )