Mengenal Sosok Hantu di Balik Mitos Gunung Guntur
GH News April 02, 2026 12:09 AM
Garut -

Gunung Guntur di Garut ramai dibahas setelah kasus remaja hilang dan ditemukan dalam kondisi linglung. Benarkah ada hubungan dengan sosok mistis di gunung ini?

Orang-orang Sunda sudah lama percaya dengan adanya sosok hantu penunggu gunung. Semua gunung di Sunda dijaga sosok ini. Nama jenis hantu ini adalah Guriang. Gunung yang dijaga, termasuk Gunung Guntur di Kabupaten Garut.

Baru-baru ini, seorang remaja berinisial MR, warga Garut, ditemukan dalam kondisi linglung tanpa mengenakan pakaian di permukiman warga di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, pada Minggu (29/3) malam.

Sebelumnya, MR dilaporkan hilang saat mencari serangga tonggeret di kawasan kaki Gunung Guntur bersama dengan dua saudaranya.

Saksi mata mengatakan bahwa dia mendengar MR melantur berbicara tentang hantu di perjalanan ke gunung itu. Bahkan, keponakan MR yang merupakan anak kakaknya Ai, meminta pulang karena ketakutan dengan hantu yang diceritakan MR.

Karena ngelantur, MR akhirnya dibawa ke pusat kesehatan untuk diperiksa fisik dan psikisnya. Mungkikah hantu yang dibicarakan MR itu adalah sosok guriang?

Mengenal Sosok Guriang

Nama Guriang muncul dalam sejumlah sastra lama. Di zaman ini, Guriang juga terceritakan dalam lagu Sunda yang digubah maestro karawitan, Koko Koswara atau Mang Koko.

Menurut arti katanya, sebagaimana di dalam kamus Sundadigi, guriang adalah makhluk halus dan kebanyakan diceritakan dalam sastra Sunda lama seperti carita pantun.

Namun, kamus itu juga menyebutkan sifatnya, yaitu 'guntayang' yaitu yang bergelantungan dari pohon ke pohon atau gentayangan. Sementara dari kedekatan katanya, Guriang dekat dengan kata Kuriang yaitu tokoh Sang Kuriang.

Di dalam kamus disebutkan pula bahwa nama Sang Kuriang yang menjadi tokoh utama dalam legenda Tangkuban Parahu, merupakan perubahan dari Sang Guriang.

Guriang dalam Lagu Sunda

Mang Koko menggubah lagu berjudul 'Malati di Gunung Guntur' diceritakan bukan hanya satu jumlahnya. Lagu itu menyebutnya 'Para Guriang'.

Lagu itu berkisah tentang tanaman bunga melati yang tumbuh di lereng Gunung Guntur. Sangat cantik melati itu sehingga siapapun ingin menggapainya, termasuk aku liris dalam lagu tersebut ingin memetiknya meski tidak jadi.

Agak sedikit menyesal mengapa melati itu tidak dipetik saja. Tapi, aku liris keburu ingat bahwa melati itu sengaja ditanam oleh para guriang.

"Malati di Gunung GunturHanjakal henteu dipetikBéja geus aya nu bogaNgahaja melak di dinya para guriang."

(Melati di Gunung GunturSayang tidak dipetikKatanya sudah ada yang punyaSengaja menanam di situ para guriang)

Sampai selesai lagu ini, aku liris tidak memetik bunga itu. Dia keburu pergi menjauh dari sekitar gunung tersebut. Tetapi, kabar sampai kepadanya bahwa sejauh ini melati tidak ada yang memetiknya. Jadi masih ada di lereng gunung.

Guriang Tujuh dalam Carita Mundinglaya Dikusumah

Mundinglaya Dikusumah adalah carita pantun yang tidak bisa dilewatkan bagi peminat Kesundaan. Cerita tentang pencarian Lalayang Salaka Domas atau di-Indonesiakan menjadi Layang-layang Kencana oleh Prabu Mundinglaya Dikusumah, mempertmukan tokoh ini dengan Guriang Tujuh.

Lalayang Salaka Domas adalah jimat yang dicari berdasarkan mimpi ibu Mundinglaya, yaitu Nyimas Padmawati yang merupakan salah satu permaisuri Prabu Siliwangi.

Ketika Padmawati mengutarakan mimpinya kepada suaminya itu, selir-selir yang lain punya kesempatan untuk memojokkan Padmawati, yaitu dengan memintanya membuktikan mimpinya. Kalau tidak, Padmawati berarti bohong.

Padmawati meminta bantuan Mundinglaya Dikusumah, anaknya yang lelaki langit lelanang jagat. Dia, dengan doa tulus sang ibu, diharapkan bisa menemukan Lalayang Salaka Domas. Dari sini, kisah dimulai.

Kisah pertualangan ini diwarnai banyak kejadian seru. Termasuk puncaknya melawan Guriang Tujuh yang menjaga Lalayang Salaka Domas itu.

Hebatnya, Guriang Tujuh yang semula jumlahnya tujuh, bisa menggabungkan diri menjadi satu dengan kekuatan yang tentu saja lebih mematikan. Guriang Tujuh menjelma Guriang Tunggal.

Itulah sosok Guriang di gunung Guntur menurut kebudayaan suku Sunda. Mengenai kebenaran dan wujud asli sosok tersebut, masih perlu dibuktikan lagi dengan pendekatan yang lebih ilmiah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.