TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Inilah penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Sulawesi Tenggara (Sultra) soal fenomena pink moon.
BMKG Sultra melalui Stasiun Geofisika Kendari menyebutkan, pink moon atau purnama merah muda pada awal April 2026 dipastikan bukanlah fenomena astronomi yang luar biasa.
Hal itu disampaikan Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Geofisika Kendari, Waode Sitti Mudhalifana saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com, Rabu (1/4/2026).
Pink moon hanyalah bulan purnama biasa yang kebetulan memiliki penamaan khusus berdasarkan tradisi masyarakat di Amerika Utara.
“Tidak ada rilis resmi dari BMKG terkait fenomena pink moon. Ini bukan fenomena astronomi yang membuat bulan berubah warna menjadi merah muda,” jelasnya.
Baca juga: Hujan Es Terjadi Lagi di Konawe Sulawesi Tenggara, Warga Lambuya Heboh Abadikan Fenomena Langka
Istilah pink moon merujuk pada bulan purnama pertama yang terjadi setelah fenomena ekuinoks Maret.
Ekuinoks merupakan peristiwa saat matahari melintas tepat di atas garis khatulistiwa, sehingga durasi siang dan malam di seluruh dunia hampir sama panjang sekitar 12 jam.
Mudhalifana mengatakan, pada tahun 2026 ini bulan purnama tersebut terjadi pada tanggal 1 hingga 2 April.
Meski disebut pink moon, tapi peristiwa itu tidak berkaitan dengan perubahan warna bulan menjadi merah muda.
Tetapi diambil dari tradisi penamaan dalam Old Farmer’s Almanac yang mengaitkan fase bulan dengan musim tertentu.
Baca juga: BMKG Jelaskan Fenomena Bola Petir Saat Hujan Angin di Wanggudu Asera Konawe Utara Sulawesi Tenggara
Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan dari fase bulan purnama tersebut.
"Itu ya Mba, sekali lagi untuk fenomenanya tidak ada rilis resmi BMKG, yang ada rilis dampaknya banjir rob di beberapa pesisir Indonesia," kata dia.
Untuk wilayah Sulawesi, potensi banjir rob diperkirakan terjadi di sejumlah daerah pesisir Provinsi Sulawesi Utara.
Selengkapnya, daftar wilayah berpotensi banjir rob pada 2 April 2026 berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut.
- Pesisir Aceh
- Pesisir Sumatera Utara
- Pesisir Kepulauan Riau
- Pesisir Bali
- Pesisir Sumatera Barat
- Pesisir Nusa Tenggara Barat
- Pesisir Nusa Tenggara Timur
- Pesisir Banten
- Pesisir Kalimantan Utara
- Pesisir Jakarta
- Pesisir Jawa Barat
- Pesisir Kalimantan Selatan
- Pesisir Jawa Tengah
- Pesisir Kalimantan Tengah
- Pesisir Jawa Timur
- Pesisir Kalimantan Barat
- Pesisir Sulawesi Utara
- Pesisir Maluku. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)