STOK Pupuk Nasional Aman, Produksi Urea Capai 15 Juta Ton Per Tahun, Ekspor Pupuk Tembus 1,5Juta Ton
Anak Agung Seri Kusniarti April 02, 2026 01:03 AM

TRIBUN-BALI.COM - Krisis global akibat perang Israel dan Amerika Serikat versus Iran di Timur Tengah dan distribusi pupuk dunia terganggu. Apalagi, 30 persen atau hampir sepertiga distribusi pupuk global lewat Selat Hormuz.  

“Kondisi saat ini juga tidak menguntungkan dari sisi kebutuhan pupuk atau suplai pupuk untuk ke seluruh dunia karena ada gangguan,” ungkap Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di sela-sela konferensi internasional pupuk Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di The Westin Resort Nusa Dua dari 31 Maret - 2 April yang dihadiri sekitar 200 partisipan dari 30 negara, Rabu (1/4).

Namun ia menegaskan Indonesia saat krisis global ini untuk stok pupuk secara nasional aman. Pupuk urea menjadi kebutuhan pupuk terbesar di Indonesia dan kebutuhan itu dapat terpenuhi dengan jumlah produksi.

Produksi pupuk urea Indonesia saat ini mencapai 15 juta ton per tahun dan kebutuhan nasional hanya sekitar 7 juta ton per tahun sehingga ada sisa produksi (surplus).

Baca juga: SOPIR Ancam Buang Sampah di Jalan & Tempat Umum, TPA Suwung Tak Terima Organik Per 1 April 2026

Baca juga: DAMKAR Sempat Terkendala Akses, Rumah Warga di Banjar Sengguan Terbakar Saat Ditinggal

KESEPAKATAN - Penandatanganan kesepakatan pembentukan SEAFA yang diinisiasi oleh PT. Pupuk Indonesia (Persero) bersama Brunei Fertilizer Industries dan Petronas Chemical Group, di The Westin Resort Nusa Dua, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Rabu (1/4).
KESEPAKATAN - Penandatanganan kesepakatan pembentukan SEAFA yang diinisiasi oleh PT. Pupuk Indonesia (Persero) bersama Brunei Fertilizer Industries dan Petronas Chemical Group, di The Westin Resort Nusa Dua, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Rabu (1/4). (Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)

Kondisi ini mengakibatkan sejumlah negara meminta impor pupuk urea dari Indonesia dikarenakan ada gangguan suplai di Selat Hormuz. “Indonesia sekarang dicari oleh negara-negara lain untuk dia bisa mengimpor ureanya dari Indonesia,” kata dia.

Diungkapkan, saat ini Indonesia memiliki kapasitas produksi sekitar 14,5 sampai 15 juta ton per tahun. Pihaknya pun mengalokasikan ekspor pupuk pada tahun 2026 mencapai 1,5 juta ton.

“Kita pakai untuk petani kita, jadi ada sisa (surplus), ada sisa produksi yang barangkali bisa kita alokasikan untuk ekspor di tahun ini ada 1,5 juta ton. Yang 1,5 juta ton ini sekarang banyak diminati atau diminta oleh banyak negara,” ungkap Sudaryono.

Ia menambahkan mungkin ada lima hingga enam negara sudah menghubunginya untuk mendapatkan alokasi dari 1,5 juta ton pupuk urea yang di produksi tahun ini dan dialokasikan untuk ekspor.

Bahkan beberapa negara impor dengan harga berapa pun yang diminta Indonesia akan dibayar. Negara yang meminta impor pupuk urea Indonesia, di antaranya Australia, Filipina, India, Brazil, dan beberapa negara lainnya.

“Mereka mau impor at any prices. Jadi berapa dia bayar. Ini sekali lagi bahwa dengan gangguan ini, saya ingin pastikan bahwa kebutuhan pertanian dan pangan kita aman. Kebutuhan pertanian dan pangan kita domestik aman,” jelasnya. 

“Jadi tidak perlu khawatir, petani tidak perlu galau atau resah bahwa kebutuhan pupuk dengan gangguan ini tidak berpengaruh bagi kita secara domestik,” papar Sudaryono.

Menurutnya Indonesia mendapatkan benefit atau keuntungan dari kebutuhan impor negara-negara yang ingin pupuk atau sisa dari produksi Indonesia sebanyak 1,5 juta ton. “Tentu saja kita ingin relasi ini kita bangun dengan baik, bukan hanya kebutuhan sesaat tetapi bagaimana pupuk ini kan bukan lagi urusan industri pupuk.

Tapi ini adalah urusannya sama perut, urusannya sama pangan, sehingga kita mesti ajak negara lain karena krisis ini tidak bisa kita lalui sendiri-sendiri, jadi kita harus kolaborasi. Jadi ada ekspor, impor, ada kebutuhan baku, dan lain-lain semuanya insyaallah aman,” jelasnya Sudaryono.

“Tapi saya mau pastikan bahwa kebutuhan pupuk dalam negeri, kebutuhan pupuk untuk petani kita di situasi krisis perang dan lain-lain ini tidak berpengaruh dan semuanya baik-baik saja,” kata dia. 

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto dalam program swasembada pangan yang dicanangkan sebagai pilar utama Asta Cita itu merupakan suatu keharusan dan suatu keniscayaan yang tidak bisa kemudian kita abaikan.

Program swasembada pangan pangan ini didukung oleh produksi pupuk yang harus memenuhi kebutuhan petani secara nasional.

“Dan kita harus bersyukur di tengah krisis sekarang pangan kita aman. Saya ulangi, di situasi krisis sekarang pangan kita aman, petani kita aman, pupuk kita aman. Itu kita harus syukuri karena banyak negara lain sudah kena (krisis) energi, kena lagi urusan pupuk urusan pangannya,” ucap Sudaryono. (zae)

Bahan Baku dari Dalam Negeri

Sementara itu, Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi menyampaikan, ekspor pupuk 1,5 hingga 2 juta ton setiap tahun setelah kebutuhan pupuk nasional terpenuhi. “Jadi bergantung dari kebutuhan domestik. Tapi minimum kita punya 1,5 juta dan itulah kontribusi kita kepada dunia,” kata Rahmad Pribadi.

Disinggung mengenai berapa jumlah kebutuhan rata-rata pupuk secara nasional, ia menyampaikan untuk kebutuhan pupuk urea nasional kurang lebih 7 juta ton per tahun.

Kemudian pupuk NPK termasuk NPK subsidi mencapai 10 juta ton per tahun. Ditambah pupuk-pupuk jenis lainnya kurang lebih kebutuhan pupuk nasional mendekati 20 hingga lebih dari 20 juta ton per tahun. 

Disinggung mengenai bahan baku pupuk pun Indonesia dalam posisi yang aman dan tidak terkendala dampak perang di Timur Tengah. “Alhamdulillah bahan baku tidak terkendala karena urea suplai bahan bakunya dari dalam negeri, sementara fosfat dan kalium atau potas itu kita impor dari negara yang tidak terlibat pada perang di Iran ini,” jelasnya. (zae)

Produsen Pupuk SEAFA Terbentuk di Bali

Bali kembali dipilih menjadi tuan rumah konferensi internasional pupuk di tahun 2026. Argus Fertilizer Asia Conference 2026 berlangsung di The Westin Resort Nusa Dua dari 31 Maret - 2 April yang dihadiri sekitar 200 partisipan dari 30 negara.

Dalam konferensi ini, PT. Pupuk Indonesia (Persero) mewakili Pemerintah Indonesia menyepakati pembentukan Southeast Asia Fertilizer Association (SEAFA) atau Asosiasi Pupuk Asia Tenggara dengan Brunei Fertilizer Industries (Perusahaan Pupuk Brunei Darussalam) dan Petronas Chemicals Group (Produsen Pupuk Urea di Malaysia).

“Sejak tahun lalu kita berdiskusi secara intens dengan Brunei Fertilizer Industries dan Petronas Chemical Group harus membentuk platform, di mana kita bisa melakukan kolaborasi secara lebih intens, lebih dalam,” kata Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi.

“Tidak ada waktu yang lebih pas dari pada hari ini (kemarin) karena ketika dunia sedang bergejolak, para produsen pupuk di Southeast Asia bersepakat untuk bersatu. Jadi ini sinyal yang kita ingin kirimkan kepada dunia dan melalui asosiasi ini,” ucapnya.

Menurutnya melalui asosiasi ini akan terus support kebutuhan pupuk negara-negara sahabat tentunya setelah memenuhi kebutuhan domestik. Ia yakin keanggotaan SEAFA pun akan bertambah ke depannya melihat kondisi geopolitik sekarang ini.

Saat ini PT. Pupuk Indonesia telah memiliki perencanaan pengembangan pabrik di mana saat ini tengah membangun pabrik di Papua Barat, Aceh, dan dalam tahap negosiasi untuk suplai di Masela Ambon.

“Jadi artinya kita tahu kapan kebutuhannya itu seperti apa dan ternyata memang histori sudah membuktikan bahwa dengan suplai Urea yang cukup Indonesia bisa mencapai swasembada pangan terutama swasembada beras. Dan paling penting lagi Indonesia bisa berkontribusi sebagai stabilizer pada ekosistem pupuk di dunia khususnya di Asia Pasifik ini,” jelas Rahmad Pribadi. (zae)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.