TRIBUN-TIMUR.COM - PT ASDP Indonesia Ferry menunda penutupan sementara lintasan penyeberangan Bajoe, Kabupaten Bone-Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Kebijakan tersebut diambil karena arus balik Lebaran masih tinggi, termasuk pergerakan kendaraan logistik.
Penundaan ini membuat jadwal pengalihan lintasan Bangsalae Siwa-Kolaka yang semula direncanakan 1 April diundur ke 10 April 2026.
Selama masa penyesuaian, operasional lintasan Bajoe-Kolaka dipastikan tetap normal.
Keputusan diambil setelah ASDP berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Wajo, Dinas Perhubungan, serta pemangku kepentingan terkait lainnya.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bajoe, Anom Sedayu Panatagama, mengatakan kondisi di lapangan menjadi pertimbangan utama penundaan.
Pergerakan penumpang dan kendaraan, khususnya angkutan logistik masih cukup tinggi dan diperkirakan mencapai puncaknya pada 31 Maret besok.
"Pergerakan penumpang dan kendaraan logistik masih cukup tinggi. Kami ingin memastikan layanan tetap lancar tanpa gangguan," ujarnya.
Anom menambahkan, langkah ini penting untuk menjaga distribusi logistik dan mobilitas masyarakat tetap stabil selama periode arus balik.
Selain faktor arus balik, kesiapan fasilitas di Pelabuhan Bangsalae juga menjadi perhatian.
ASDP masih melakukan penyempurnaan sarana pendukung dan penyesuaian operasional.
Penundaan juga dipengaruhi keterlambatan pengiriman material untuk pembangunan movable bridge di pelabuhan tersebut.
Data ASDP mencatat, sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026, Pelabuhan Bajoe telah melayani lebih dari 28 ribu penumpang dan 56 ribu lebih unit kendaraan.
Angka ini menunjukkan tingginya aktivitas penyeberangan sekaligus mempertegas peran strategis Pelabuhan Bajoe sebagai penghubung antarwilayah di Sulawesi.
Tiket Online Siwa-Kolaka
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry, Windy Andale, menegaskan kesiapan sistem tiket juga menjadi perhatian.
Layanan tiket online melalui platform Ferizy akan diterapkan di lintasan Siwa-Kolaka untuk meningkatkan transparansi dan kemudahan bagi pengguna jasa.
ASDP memastikan sistem tersebut akan siap digunakan secara optimal sebelum pengalihan lintasan diberlakukan.
Di sisi lain, perusahaan juga memperhatikan keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone.
Area pelabuhan rencananya akan dimanfaatkan sebagai ruang produktif bagi pelaku UMKM, terutama untuk melayani pengunjung kawasan wisata Pantai Bajoe.
Kawasan tersebut bahkan tercatat dikunjungi sekira 6.000 wisatawan setiap bulan.
Selain itu, area di luar zona konstruksi tetap difungsikan sebagai ruang publik untuk berbagai aktivitas masyarakat, mulai olahraga hingga kegiatan sosial.
ASDP memastikan selama masa penundaan, layanan penyeberangan tetap optimal.
Masyarakat diimbau merencanakan perjalanan lebih awal dan memanfaatkan pembelian tiket secara online.
Ke depan, ASDP bersama seluruh pihak terkait akan terus memperkuat koordinasi agar proses pengalihan lintasan dapat berjalan lancar dan memberi manfaat bagi masyarakat.(*)