SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Di balik berbagai capaian Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sosok pemimpin dengan gaya kerja tenang namun konsisten. Prof Dr Mujiburrahman MAg memimpin transformasi kampus ini melalui langkah-langkah strategis yang terukur, membawa UIN Ar-Raniry semakin diperhitungkan di tingkat nasional hingga internasional.
Lahir di Lambirah, Aceh Besar, 8 September 1971, Mujiburrahman menempuh pendidikan tinggi di bidang pendidikan Islam. Ia meraih gelar doktor dari Universiti Utara Malaysia pada 2010 dengan fokus Cognitive Science and Education, setelah sebelumnya menyelesaikan studi magister di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan sarjana di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Kariernya di dunia akademik dimulai dari jenjang dasar. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Dekan, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (2014–2018), hingga Kepala Lembaga Penelitian, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Rektor UIN Ar-Raniry periode 2022–2026.
Baca juga: Prof Mujiburrahman Mendaftar Kembali Jadi Calon Rektor UIN Ar-Raniry 2026-2030
Di bawah kepemimpinannya, UIN Ar-Raniry mencatat capaian strategis dengan meraih predikat Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada Oktober 2023. Capaian ini menjadi indikator peningkatan mutu tata kelola, kualitas akademik, serta daya saing institusi di tingkat nasional.
Tidak hanya itu, penguatan riset dan publikasi ilmiah juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan Scimago Institutions Rankings (SIR) 2026, UIN Ar-Raniry menempati peringkat kedua nasional untuk bidang hukum dan peringkat 30 di Asia serta posisi ke-131 dunia.
Kemudian bidang religious studies UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada peringkat ke-14 dunia, diikuti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (21), serta UIN Sunan Gunung Djati Bandung (25). Selanjutnya, UIN Ar-Raniry Banda Aceh menempati peringkat satu di Indonesia dan posisi 13 di Asia di bidang Antropologi.
Pencapaian ini menegaskan posisi UIN Ar-Raniry sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan performa riset yang kompetitif.
Mujiburrahman mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah melalui kolaborasi lintas negara. Sejumlah kerja sama internasional dijalin dengan perguruan tinggi di Malaysia, Jerman, hingga Timur Tengah.
Kolaborasi tersebut meliputi pertukaran mahasiswa, riset bersama, serta pengembangan kurikulum berbasis standar global. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat rekognisi internasional kampus. “Kita ingin lulusan memiliki daya saing global tanpa kehilangan akar nilai keislaman dan kearifan lokal,” ujar Prof Mujiburrahman dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Transformasi dan Wajah Baru UIN Ar-Raniry, Tiga Tahun Kepemimpinan Prof Mujiburrahman
Di bidang keilmuan, Mujiburrahman aktif meneliti dan menulis tentang pendidikan Islam, transformasi pembelajaran, serta relasi tradisi dan modernitas. Karya-karyanya telah terbit di berbagai jurnal nasional dan internasional. Ia juga menulis buku populer “Teladan Sang Menteri”.
Selain itu, ia kerap menjadi pembicara dalam forum ilmiah dan terlibat dalam diskusi strategis mengenai pendidikan, moderasi beragama, dan pembangunan sumber daya manusia. Atas pengabdiannya, ia menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia pada 2016 dan 2022.
Di luar kampus, Mujiburrahman aktif dalam pengembangan masyarakat melalui pendirian Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh. Ia juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Aceh, anggota A’wan PWNU Aceh, serta Dewan Penasehat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Aceh.
Keterlibatannya juga mencakup Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh, Dewan Masjid Indonesia Provinsi Aceh, serta Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Aceh.
Baca juga: Legacy Prof Mujiburrahman
Pada 31 Maret 2026, Mujiburrahman kembali mendaftarkan diri sebagai calon Rektor UIN Ar-Raniry periode 2026–2030. Ia mengusung visi melanjutkan transformasi kampus menjadi universitas berkelas dunia yang berperan sebagai pusat pengembangan ilmu dan peradaban.
Sejumlah program strategis terus didorong, mulai dari digitalisasi layanan, penguatan status Badan Layanan Umum (BLU), hingga target jangka panjang menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH).
Dengan kombinasi pengalaman akademik, kepemimpinan institusional, serta jejaring global yang terus berkembang, Mujiburrahman dinilai konsisten mendorong kemajuan pendidikan tinggi Islam yang adaptif, moderat, dan berdaya saing internasional.(*)