BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Sebagian petani jagung di Desa Gunungraja, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), dilanda keresahan.
Hal ini menyusul mengganasnya serangan ulat daun (grayak) yang terjadi sejak sejak sekitar sebulan lalu dan masih berlangsung hingga saat ini.
Upaya telah dilakukan, namun sejauh ini masih belum menunjukkan hasil memadai. Hama tersebut masih terus merusak memakan daun muda tanaman jagung yang masih berusia sekitar sebulan tersebut.
Penuturan petani, Kamis (2/4/2026), penyemprotan menggunakan cairan insektisida telah dilakukan, namun ulat itu tak kunjung mati atau terkesan kebal. Ini yang kian membuat gundah sejumlah petani setempat.
Serangan ganas ulat tersebut terjadi di lingkungan RT 7 Dusun 3. Kebun jagung di tempat ini cukup luas. Sebagian besar masih kecil dan tumbuh subur menghijau.
Baca juga: Asal Muasal Polisi Datangi Rumah Diduga Pesta LBGT di Kotabaru, Sebut Ada Cupang di Badan Satu Pria
Baca juga: Pasca Digeledah Kejagung, KSOP Banjarmasin Tetap Layani Agen Kapal
Di antara luasan pertanaman jagung tersebut, yang paling terdampak yakni milik Samsiar, petani sekaligus kepala Desa Gunungraja.
Luasan tanaman jagungnya saat ini lima hektare yang sedang diserang hama ulat grayak. Pantauan di lokasi, terlihat banyak tanaman jagung muda mengalami kerusakan di bagian pucuk. Daun tampak compang-camping dengan bekas gigitan, sementara kotoran ulat terlihat menempel di permukaan daun muda.
Saat ditelusuri, ulat-ulat tersebut ditemukan bersembunyi di bagian tengah daun muda yang masih menggulung. Warnanya kecokelatan dan sulit dijangkau, membuat penanganan menjadi tidak mudah.
“Serangan ini sudah mulai sejak tanaman berumur sekitar 15 hari, dan sampai sekarang usia 32 hari masih terus terjadi,” ujar Samsiar.
Kondisi kali ini dikatakannya berbeda dari biasanya karena serangan terasa lebih ganas, meluas, bahkan diduga kebal terhadap insektisida.
Ia mengaku telah dua kali melakukan penyemprotan insektisida sejak awal serangan. Namun hasilnya tidak seperti sebelumnya.
“Kalau dulu cukup sekali semprot langsung mati. Sekarang ini sudah dua kali disemprot, ulatnya tetap hidup. Padahal insektisida yang saya pakai setahu kami sudah yang paling bagus, dulu juga selalu pakai jenis ini,” katanya.
Akibat serangan tersebut, Samsiar memperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen tanaman jagungnya mengalami kerusakan. Meski demikian, kondisi di lahan petani lain di sekitar lokasi relatif lebih ringan.
Kondisi ini membuatnya kebingungan mencari solusi. Ia berharap ada penanganan cepat dari pihak terkait untuk mencegah kerugian yang lebih besar. “Kami berharap PPL dan petugas POPT bisa membantu mencari cara mengatasi ini,” ujarnya.
Samsiar mengapresiasi respons cepat dari petugas penyuluh lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang langsung turun ke lokasi setelah mendapat laporan.
Ia juga berharap adanya bantuan insektisida yang lebih ampuh dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Tala agar serangan ulat grayak ini bisa segera dikendalikan dan tidak meluas ke lahan petani lainnya.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)