Kondisi Terkini Pasca-Gempa Maluku Utara dan Bitung: Kaca Kantor PU Pecah, Jalan Longsor
Choirul Arifin April 02, 2026 03:21 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum RI (PU) Dody Hanggodo menyampaikan gempa bumi berkekuatan 7,6 Magnitudo di Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Gorontalo menyebabkan bangunan kantor hancur dan jalan longsor.

Dody mengatakan, sejumlah infrastruktur di Kota Bitung masih cenderung aman pasca gempa.

"Tadi pagi saya dapat info dari Bu Sekjen dan Pak Dirjen Bina Marga, Untuk Minahasa Utara, Bitung, sementara ini jalan dan jembatan masih aman," kata Dody di acara diskusi bersama media di kantornya, Kamis (2/4/2026).

Kerusakan parah terjadi di Maluku Utara. Kaca-kaca di gedung kantor Balai Jalan Nasional Maluku Utara pecah. "Yang kena memang di kantor kami di Maluku Utara semua kaca pecah," ucap Dody.

Menghadapi insiden tersebut, pihaknya memberlakukan sistem kerja dari rumah atau work from home berlaku untuk seluruh pegawai Balia Jalan Nasional Maluku Utara.

Keputusan itu diambil sekaligus menunggu perkembangan dan situasi terkini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Jadi, hari ini teman-teman di Balai Jalan Nasional Maluku Utara sedang work from home sambil mengikuti arahan dari BMKG dan BPBD disempat," tutur dia.

Di Provinsi Gorontalo, Dody menyebut terdapat beberapa kerusakan yang terjadi pada insfratruktur jalan. Beberapa ruas jalan di lokasi titik gempa tersebut mengalami longsor.

Baca juga: Foto-Foto Gempa M 7,6 di Sulut-Malut, Bangunan Gereja hingga Rumah Rusak

"Untuk yang di Gorontalo, sementara waktu memang ada beberapa ruas jalan yang terkena masalah dan ada beberapa longsor," ucap dia.

Terhadap kondisi ini, Dody bilang pemerintah akan bergerak cepat menyelesaikan masalah kerusakan termasuk terhadap tanah yang longsor. "Kita lagi sedang koordinasi dengan BPBD dan BMKG dan Basarnas untuk kemudian bisa secara secepatnya menyelesaikan longsoran-longsoran itu," tukas dia.

Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang berpusat di wilayah tenggara Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026) pagi, mengguncang kuat sejumlah wilayah di Maluku Utara, termasuk Kota Ternate.

Getaran gempa yang terasa cukup lama membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Baca juga: BMKG Akhiri Peringatan Tsunami Maluku Utara, Ini Fakta Kenaikan Muka Air dan 48 Gempa Susulan

Sebagian warga bahkan tidak sempat membawa barang berharga karena lebih memilih segera mencari tempat aman. Kepanikan semakin meningkat ketika air laut di sejumlah titik dilaporkan sempat surut.

Fenomena tersebut memicu kekhawatiran akan potensi tsunami, sehingga warga berinisiatif mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi.

Di beberapa kawasan, masyarakat terlihat bergerak menuju area perbukitan dan dataran tinggi untuk menghindari risiko gelombang laut.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa terjadi pada pukul 05.48.16 WIB dengan lokasi di koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur. Pusat gempa berada sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 62 kilometer.

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Peringatan ini disertai estimasi waktu kedatangan gelombang di sejumlah daerah terdampak.

Sejumlah wilayah ditetapkan dalam status Siaga, yakni: Kota Ternate, Halmahera, Kota Tidore, Kota Bitung, Minahasa bagian selatan, Minahasa Selatan bagian selatan dan Minahasa Utara bagian selatan.

Sementara itu, beberapa wilayah lainnya berada dalam status Waspada, meliputi kepulauan Sangihe, Minahasa Utara bagian utara, Bolaang Mongondow bagian selatan.

Status Peringatan Tsunami Dihentikan

BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Maluku Utara, Kamis (2/4/2026).

Meski status tsunami telah dicabut, BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah serta puluhan gempa susulan yang masih berlangsung.

"Peringatan dini tsunami pascagempa M7,6 di perairan Malut dinyatakan berakhir," tulis keterangan BMKG pada akun X @infoBMKG pada Kamis (2/4/2026) pukul 10.04 WIB.

Gempa tersebut berpusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, dengan kedalaman 33 kilometer. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa gempa tersebut termasuk jenis gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi di Laut Maluku.

“Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Halmahera Barat pada pukul 06:08 WIB dengan ketinggian 0.30 m, Bitung pada pukul 06:15 WIB dengan ketinggian 0.20 m,” ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.