Kampus Untirta Banten Buka Suara Soal Dugaan Mahasiswa Diam-diam Rekam Wanita di Toilet
Ahmad Tajudin April 02, 2026 05:07 PM

 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel 

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Pihak Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) akhirnya angkat bicara terkait dugaan tindakan pelecehan yang terjadi di lingkungan kampus.

Melalui Humasnya, Untirta membenarkan adanya peristiwa seorang mahasiswa yang kedapatan mengintip sekaligus merekam seorang wanita di dalam toilet.

Humas Untirta, Adhitya Angga Pratama, memastikan bahwa kejadian tersebut memang benar terjadi dan saat ini tengah dalam penanganan pihak kampus.

"Iya, betul ada kejadian seorang mahasiswa Untirta yang kedapatan mengintip sambil merekam wanita di toilet lingkungan kampus. Kami sudah berkoordinasi dengan Satgas PPK dan kasus ini sedang diproses," ujar Adhitya, Kamis, (2/4/2026).

Ia menjelaskan, setelah kejadian tersebut, korban langsung melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Untirta.

Pihak kampus pun segera memberikan pendampingan kepada korban.

Tidak hanya itu, korban juga memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. 

Satgas PPK Untirta turut memberikan pendampingan dalam proses pelaporan ke pihak kepolisian.

"Korban sudah melapor ke Satgas PPK dan diberikan pendampingan. Saat ini juga sedang dilakukan pendampingan untuk proses pelaporan ke pihak kepolisian," jelasnya.

Pihak Untirta menegaskan komitmennya untuk menangani kasus ini secara serius serta memastikan proses berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Baca juga: VIRAL! Aksi Rekam Diam-Diam di Toilet Kampus Untirta Banten, Diduga Sudah Berlangsung Sejak Ramadan

Peristiwa ini dinilai bukan sekadar pelanggaran privasi, tetapi juga mencerminkan lemahnya perlindungan terhadap civitas akademika di ruang pendidikan.

Terduga pelaku perekaman diam-diam di toilet lingkungan kampus yakni berinisial MZ seorang mahasiswa Untirta Serang.

Seorang mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Fariz, mengungkapkan bahwa kasus tersebut diduga telah berlangsung sejak bulan Ramadan dan melibatkan banyak korban, mulai dari mahasiswa hingga dosen.

"Dari informasi yang beredar, ini bukan kejadian sekali. Ada indikasi sudah berlangsung cukup lama dan korbannya tidak sedikit," ujar El Fariz kepada TribunBanten.com, di Serang, Kamis, (2/4/2026).

Menurutnya, kejadian ini menjadi peringatan serius bahwa ruang kampus belum sepenuhnya aman dari praktik kekerasan berbasis gender, khususnya yang memanfaatkan teknologi digital.

Ia menegaskan, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut aspek mendasar seperti keamanan, martabat, dan hak individu di lingkungan akademik.

"Ini bukan hanya soal privasi yang dilanggar, tapi juga soal rasa aman. Kampus seharusnya jadi ruang yang melindungi, bukan malah jadi tempat eksploitasi," tegasnya.

Lebih lanjut, Fariz menilai diperlukan langkah cepat dan transparan dari pihak kampus dalam menangani kasus ini.

Ia juga menekankan pentingnya keberpihakan kepada korban dalam setiap proses penanganan.

"Respons institusi harus jelas dan tegas. Jangan sampai korban merasa sendirian atau tidak dilindungi," katanya.

Ia juga menyoroti bahwa solidaritas antar mahasiswa memang penting sebagai bentuk dukungan awal, namun tidak dapat menggantikan tanggung jawab institusi.

"Kampus punya kewajiban moral dan struktural untuk memastikan ada perlindungan, penegakan aturan, dan pendampingan bagi korban," ujarnya.

Menurut Fariz, tanpa tindakan tegas, ada risiko besar kasus serupa akan terus berulang dan berdampak lebih luas.

Di akhir, ia mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan kolektif serta mendorong terciptanya lingkungan kampus yang aman, adil, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

"Ini tanggung jawab bersama, tapi yang utama tetap ada pada institusi. Kampus harus jadi tempat yang benar-benar aman bagi semua," tutupnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.