Bukan Sekadar Makan Gudeg, Apa Alasan Dubes Iran Boroujerdi Temui Jokowi di Solo Usai Ancaman Trump?
Putra Dewangga Candra Seta April 02, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id – Suasana hangat dan santai terlihat saat mantan Presiden Joko Widodo menjamu Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di kediaman pribadinya di Kota Surakarta, Rabu (1/4/2026).

Pertemuan berlangsung di ruang tamu rumah Jokowi dan dilanjutkan makan siang dengan menu khas Solo seperti ayam goreng, opor, sambal goreng, gudeg, dan pisang.

"Selamat datang di Solo. Selamat datang di rumah saya," kata Jokowi menyambut Dubes Iran untuk Indonesia di kediamannya, Rabu, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Namun di balik suasana santai dan sepiring gudeg itu, dunia sedang berada dalam tensi tinggi.

Pertemuan tertutup ini terjadi hanya selang beberapa waktu setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana penarikan militer AS dari kawasan Timur Tengah dalam 2–3 pekan.

Kontras inilah yang membuat pertemuan di Solo tersebut sulit dilihat sebagai sekadar kunjungan silaturahmi biasa.

Timing yang 'Terlalu Pas' dengan Krisis Global

TERHARU - Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi saat memberikan keterangan pada konferensi pers mengenai konflik antara Iran dengan Israel di Kediaman Duta Besar Iran di Jakarta, Selasa (17/6/2025). Boroujerdi mengaku Terharu Atas Perhatian Besar Rakyat Indonesia.
TERHARU - Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi saat memberikan keterangan pada konferensi pers mengenai konflik antara Iran dengan Israel di Kediaman Duta Besar Iran di Jakarta, Selasa (17/6/2025). Boroujerdi mengaku Terharu Atas Perhatian Besar Rakyat Indonesia. (tribunnews)

Sebelum bertemu Jokowi, Boroujerdi lebih dulu bertemu Wali Kota Solo, Respati Ardi, di Balai Kota Solo.

Dalam pertemuan itu, Dubes Iran secara terbuka menyinggung situasi konflik yang sedang dihadapi negaranya.

"Kami membicarakan banyak hal. Dalam kesempatan ini Pak Wali Kota menyampaikan solidaritas dari masyarakat Solo untuk negara kami dan mengutuk serangan yang telah terlaksana di negara kami," kata Boroujerdi di Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu.

Pernyataan ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan situasi geopolitik terkini, terutama setelah ketegangan di Timur Tengah dan kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang sempat memanas.

Dalam konteks ini, kunjungan Dubes Iran ke Solo bisa dibaca lebih dari sekadar agenda diplomasi daerah.

Baca juga: Profil Masoud Pezeshkian Presiden Iran yang Siap Akhiri Perang dengan Israel dan AS, Tapi Ada Syarat

Secara logis, muncul pertanyaan, apakah Iran sedang menggalang dukungan moral dan bertukar pandangan strategis dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Asia Tenggara untuk mengantisipasi kemungkinan “kekosongan kekuasaan” (power vacuum) jika Amerika Serikat benar-benar menarik militernya dari kawasan?

"Tentu pesan solidaritas ini sangat berharga bagi negara kami, negara yang sekarang ini sedang menghadapi semua perang yang dipaksakan kepada kami oleh rezim zionis Israel dan Amerika Serikat," tambahnya.

Pernyataan tersebut, yang biasanya bersifat normatif dalam forum resmi, menjadi memiliki bobot berbeda ketika disampaikan dalam rangkaian kunjungan yang berujung pada pertemuan privat dengan mantan Presiden Indonesia.

Mengapa Harus Bertemu Jokowi di Solo?

JOKOWI SHALAT IDULFITRI - Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), usai menunaikan ibadah shalat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Masjid Jami' Al-Bina, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (21/3/2026). (Fersianus Waku) (Tribunnews.com/Fersianus Waku)
JOKOWI SHALAT IDULFITRI - Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), usai menunaikan ibadah shalat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Masjid Jami' Al-Bina, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (21/3/2026). (Fersianus Waku) (Tribunnews.com/Fersianus Waku) (tribunnews/Tribunnews.com/Fersianus Waku)

Meski tidak lagi menjabat sebagai presiden, posisi Jokowi tidak bisa dilepaskan dari panggung geopolitik internasional.

Rekam jejaknya saat memimpin Indonesia, terutama ketika menjadi tuan rumah G20 Bali Summit 2022 serta inisiatif kunjungan damai ke Rusia dan Ukraina di masa konflik, membuatnya dipandang sebagai salah satu senior statesman dari Asia.

Dalam dunia diplomasi, bertemu tokoh yang sudah tidak menjabat tetapi masih berpengaruh sering kali justru lebih strategis.

Percakapan bisa berlangsung lebih terbuka, tidak terlalu terikat protokol, namun tetap memiliki dampak politik dan diplomatik.

Pemilihan Solo, bukan Jakarta, juga mengandung makna simbolik.

Menerima tamu negara di rumah pribadi menunjukkan hubungan yang lebih personal, setara, dan penuh kepercayaan.

Ini bukan sekadar pertemuan kantor, melainkan pertemuan di ruang privat, tempat di mana percakapan strategis sering kali justru terjadi.

Pesan Damai dari Jantung Pulau Jawa

Indonesia selama ini dikenal dengan politik luar negeri “Bebas Aktif”, tidak memihak blok mana pun, tetapi aktif mendorong perdamaian dunia.

Dalam konteks konflik Timur Tengah, posisi Indonesia menjadi penting sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia namun tetap memiliki hubungan diplomatik dengan berbagai pihak.

Stabilitas Timur Tengah juga berpengaruh langsung terhadap ekonomi global, terutama harga minyak dan jalur perdagangan internasional.

Bagi Indonesia, stabilitas kawasan tersebut berhubungan dengan keamanan pasokan energi dan stabilitas ekonomi domestik.

Pertemuan di Solo ini, meski tidak menghasilkan pernyataan resmi, dapat dibaca sebagai bagian dari jalur diplomasi informal, pertukaran pandangan, membaca arah geopolitik, dan kemungkinan menyampaikan pesan-pesan tertentu di luar forum resmi.

Sepiring gudeg di Solo membuktikan bahwa pengaruh seorang tokoh bangsa tidak luntur hanya karena pergantian masa jabatan.

Dalam dunia politik internasional, percakapan di ruang tamu bisa sama pentingnya dengan pertemuan di istana negara.

Di saat Washington dan Teheran berbalas ancaman, pesan perdamaian justru sedang diracik perlahan dari meja makan di Jawa Tengah.

Profil Mohammad Boroujerdi

Mohammad Boroujerdi merupakan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia yang mulai bertugas di Jakarta pada tahun 2023.

Sebagai perwakilan resmi pemerintah Republik Islam Iran, ia memiliki tugas utama memperkuat hubungan bilateral antara Iran dan Indonesia di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial budaya.

Penunjukan Boroujerdi sebagai duta besar mencerminkan pentingnya posisi Indonesia dalam strategi diplomasi Iran di kawasan Asia Tenggara dan dunia Islam.

Selama masa jabatannya, Mohammad Boroujerdi aktif mendorong peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, dan pariwisata antara kedua negara.

Ia juga menekankan pentingnya hubungan antar masyarakat (people-to-people contact), termasuk kerja sama pendidikan, budaya, dan kemanusiaan.

Dalam beberapa kesempatan, Boroujerdi menyebut Indonesia sebagai negara strategis dan kekuatan menengah yang memiliki pengaruh besar di kawasan Asia Tenggara serta di dunia internasional, sehingga kerja sama Iran–Indonesia dinilai dapat berkontribusi terhadap stabilitas dan perdamaian global.

Selain fokus pada hubungan bilateral, Boroujerdi juga sering menyampaikan pandangan Iran terkait isu-isu geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, kerja sama negara-negara berkembang, serta peran negara-negara Muslim dalam menjaga stabilitas dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa peran Boroujerdi di Indonesia tidak hanya sebagai duta besar dalam arti diplomatik semata, tetapi juga sebagai bagian dari strategi diplomasi global Iran untuk memperluas pengaruh dan kerja sama di kawasan Asia.

Secara umum, masa tugas Mohammad Boroujerdi di Indonesia ditandai dengan upaya mempererat hubungan strategis kedua negara, memperluas kerja sama ekonomi dan budaya, serta memperkuat posisi Iran dan Indonesia sebagai mitra penting di antara negara-negara berkembang dan dunia Islam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.