BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kota Pangkalpinang terus memperkuat upaya penanganan penyakit prioritas nasional melalui kolaborasi lintas sektor. Hal ini ditandai dengan audiensi antara Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, bersama Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (2/4/2026).
Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Wali Kota Pangkalpinang tersebut membahas penguatan program Resilient and Sustainable System for Health (RSSH) tahun 2026, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan penyakit prioritas nasional.
Dessy Ayutrisna mengatakan, audiensi ini merupakan bagian dari upaya menyelaraskan program daerah dengan target nasional, khususnya dalam penanggulangan penyakit ATM, yakni AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria.
"Pertemuan hari ini adalah audiensi dengan koordinator program RSSH dari Adinkes wilayah Bangka Belitung beserta jajarannya. Kita memiliki target nasional terkait penyakit ATM, yang menjadi program prioritas nasional," ujar Dessy kepada awak media, Kamis (2/4/2026).
Ia mengungkapkan, tren kasus penyakit ATM di Kota Pangkalpinang menunjukkan peningkatan, sehingga diperlukan langkah konkret melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
"Di Pangkalpinang trennya meningkat. Oleh karena itu, kita melakukan audiensi dan koordinasi agar bersama-sama, baik pemerintah kota maupun OPD, tidak hanya sektor kesehatan tetapi juga non-kesehatan, dapat melakukan upaya perencanaan, pencegahan, dan pengendalian secara terpadu," jelasnya.
Dessy menambahkan, Dinas Kesehatan selama ini telah rutin melakukan skrining terhadap masyarakat. Dari hasil tersebut, banyak pasien yang telah mendapatkan pengobatan.
"Dinas kesehatan terus melakukan skrining secara rutin dan alhamdulillah sudah banyak yang diobati. Selain itu, edukasi juga terus digencarkan, baik ke sekolah-sekolah maupun masyarakat luas terkait tiga penyakit ini," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap penderita penyakit ATM. Menurutnya, dukungan sosial sangat dibutuhkan agar penderita tidak merasa dikucilkan dan mau terbuka untuk mendapatkan pengobatan.
"Kita harus duduk bersama memahami bahwa mereka tidak perlu dijauhi. Justru kita harus menemukan siapa saja yang terindikasi agar bisa segera diobati. Mereka membutuhkan dukungan dari kita semua," tegasnya.
Dessy mengingatkan, stigma sosial dapat menjadi penghambat dalam penanganan penyakit, karena penderita cenderung menutup diri.
"Kalau mereka dikucilkan, mereka tidak akan jujur dan terbuka, sehingga kita kesulitan dalam memberikan pengobatan. Di sinilah peran kita untuk memperkuat edukasi dan membuka akses layanan kesehatan," ujarnya.
Melalui audiensi ini, diharapkan sinergi antara pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta berbagai pihak terkait dapat semakin kuat dalam menekan angka kasus AIDS, TBC, dan Malaria di Pangkalpinang, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)