SURYA.CO.ID, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggandeng Australia untuk bisa memudahkan akses bahan baku kulit bagi para pelaku usaha kulit di Jatim.
Langkah ini sejalan dengan target perluasan dan penguatan industri kulit di Jawa Timur.
Satu langkah konkret menuju kerjasama dengan Australia untuk suplai bahan kulit itu nampak dalam pertemuan hari ini, Kamis (2/4/2026), saat Khofifah menerima kunjungan kerja Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia di Canberra, Y.M. Dr. Siswo Pramono.
Siswo Pramono lakukan kunjungan ke Gedung Negara Grahadi Surabaya bersama rombongan lengkap, yakni bersama Pelaku Bisnis Australia, serta Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia (APKI).
Kedatangan para rombongan ini dikatakan Gubernur Khofifah sangat strategis untuk mempererat kerja sama bilateral Jawa Timur dengan Australia khususnya untuk perkembangan industri kulit Jawa Timur.
"Pak Dubes membantu kami membangun konektivitas membuka peluang peluang untuk bisa berkembang lebih baik di industri kulit," kata Gubernur Khofifah, Kamis (2/4/2026).
Selain itu, juga membuka peluang kolaborasi yang konkret dan berkelanjutan, terutama di sektor industri pengolahan dan perdagangan, termasuk industri kulit yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan bersama.
"Pak Dubes ini memberikan ruang bagi Jawa Timur untuk bisa mengakses kulit karena industri kulit kita membutuhkan suplai yang lebih besar dan beliau membantu konektivitas untuk penyediaan baik untuk industri maupun untuk rambak," terangnya.
Baca juga: Bertemu Wabup, CEO Perusahaan Asal Australia Sampaikan Rencana Investasi di Lamongan
Gubernur Khofifah mengungkapkan Jawa Timur sendiri merupakan salah satu sentra utama industri kulit nasional yang terkonsentrasi di Sidoarjo, Magetan, serta Pasuruan dan sekitarnya.
Industri ini mencakup beberapa sektor, mulai dari penyamakan kulit, produksi alas kaki, tas, dan produk turunannya.
"Maka support raw material untuk industri kulit ini masih sangat dibutuhkan," imbuhnya.
Kunjungan ini diharapkan akan menjadi pintu masuk dan harapan bagi pelaku industri yang menghadapi sejumlah tantangan.
Industri kulit Jatim masih menghadapi keterbatasan bahan baku kulit berkualitas, kebutuhan modernisasi teknologi produksi, serta tuntutan peningkatan standar kualitas untuk memenuhi pasar ekspor.
Ke depan, kerja sama dengan Australia diharapkan semakin strategis, khususnya dalam penyediaan bahan baku kulit berkualitas tinggi, transfer teknologi pengolahan, serta investasi di sektor hilirisasi industri kulit.
Sementara itu Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia di Canberra, Y.M. Dr. Siswo Pramono mengatakan bisnis Indonesia dengan Australia untuk Sapi memang cukup besar.
Kunjungannya kali ini dengan membawa serta Pelaku Bisnis Australia dan Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia (APKI) merupakan bagian dari tour yang diselenggarakan untuk mengajak APKI melihat abatoar atau rumah potong hewan di Australia yang khusus untuk produk halal.
"Kita mendukung industri kulit di Indonesia baik untuk kulit sepatu, maupun tas dan sebagainya ataupun untuk makanan," kata Siswo Pramono.
Ia memastikan bahwa rumah-rumah potong hewan di Australia yang khusus untuk produk halal sudah menjalankan prosedur penyembelihan hewan secara syariah. Sehingga kehalalannya sudah dapat dipastikan.
Australia sendiri merupakan penyuplai daging untuk kawasan Timur Tengah.
" Ini yang kami bawa ke sini untuk menciptakan sinergi, ini adalah tour yang kedua, tour yang pertama kita bawa teman-teman dari sini untuk melihat di Australia yang tour kedua ini kita bawa pengusaha Australia untuk melihat potensi di Indonesia,” katanya.
Baca juga: FK Unair - RSUD Dr Soetomo Gandeng Australia Kembangkan Tele-Kardiologi di Jayapura Papua
Sementara itu, tren investasi di Jawa Timur terus meningkat seiring stabilitas ekonomi daerah, kemudahan perizinan melalui OSS, serta dukungan kebijakan investasi dari Pemerintah Provinsi.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan PMTB sebesar 6,66 persen yang menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap Jawa Timur sebagai tujuan investasi strategis.
Kemudian secara geografis dan ekonomi, Jawa Timur menjadi Center of Gravity sekaligus Gerbang Baru Nusantara yang menyuplai hampir 80 persen logistik Indonesia Timur.
Hal ini didukung dengan adanya 2 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 13 Kawasan Industri, 1 Kawasan Industri Halal, 7 bandara, 37 pelabuhan, dan 12 ruas jalan tol.