Donald Trump Klaim Perang Iran Hampir Usai, Normalisasi Energi Butuh 6–8 Minggu
Adrianus Adhi April 02, 2026 08:32 PM

SURYA.co.id - Donald Trump menyatakan perang dengan Iran hampir berakhir, meski serangan intensif akan berlanjut. Konflik sejak 28 Februari terus mengguncang pasar energi global, memicu krisis energi dan ketidakstabilan di berbagai negara.

Dalam pidato televisi dari Gedung Putih pada Rabu (1/4/2026) malam, Trump menyebut operasi militer AS hampir mencapai tujuannya.

“Saat kita berbicara malam ini, baru satu bulan sejak militer Amerika Serikat memulai Operasi Epic Fury yang menargetkan negara sponsor teror nomor satu di dunia, Iran,” katanya.

Trump mengklaim angkatan laut dan udara Iran telah hancur, serta sebagian besar pemimpin mereka tewas. Ia menegaskan tujuan utama adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Trump menyoroti keberhasilan membunuh Jenderal Qasem Soleimani dan mengakhiri Kesepakatan Nuklir Iran era Obama.

“Pilihan pertama saya selalu jalur diplomasi, namun rezim tersebut terus melanjutkan upaya memperoleh senjata nuklir,” katanya.

Baca juga: Profil Mohammad Bagher Ghalibaf Ketua Parlemen Iran yang Ancam Balik Trump Usai Diultimatum

Ia menambahkan bahwa tujuan strategis hampir tercapai, meski 13 prajurit AS gugur. Trump juga menyinggung kenaikan harga BBM akibat serangan Iran terhadap kapal tanker.

“Kepada negara-negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar… beli minyak dari Amerika Serikat; kita punya banyak,” ujarnya.

Trump memperingatkan serangan intensif akan berlanjut dua hingga tiga minggu ke depan. “Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada," tegasnya.

Pidato ini menekankan bahwa AS memegang kendali penuh atas jalannya perang. Trump menyebut Iran tidak memiliki satu pun kartu dalam negosiasi. Ia menegaskan bahwa agresi Iran akan segera berakhir.

Trump menyampaikan bahwa rakyat Amerika bisa menantikan hari bebas dari ancaman nuklir Iran. Pidato ini juga menjadi sinyal kuat bagi sekutu AS di kawasan.

Trump menekankan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka, meski serangan militer berlanjut. Ia menegaskan bahwa tindakan AS adalah untuk melindungi dunia dari ancaman nuklir. 

Dampak Perang terhadap Energi Global

Meski Trump menyebut perang akan berakhir dalam dua minggu, normalisasi energi tidak bisa segera terjadi. NDTV melaporkan butuh 6–8 minggu sebelum produksi minyak kembali normal.

Vikas Dwivedi dari Macquarie Group mengatakan pemindahan minyak tersimpan ke kapal akan memakan waktu beberapa minggu. Ia menambahkan perbaikan infrastruktur energi bisa berlangsung berbulan-bulan hingga satu tahun.

Tarif sewa kapal tanker VLCC melonjak hingga US$400.000 per hari, bahkan mencapai US$770.000 pada awal Maret, padahal Erik Grundt dari Rystad Energy menyebut tarif normal hanya sekitar US$100.000 per hari.

Biaya pengiriman termasuk bahan bakar dan pelabuhan bisa menambah US$50.000 per hari. Proses stabilisasi jalur pelayaran diperkirakan memakan waktu 2–6 minggu.

Jika perang berlanjut, pemulihan bisa tertunda berbulan-bulan.

Krisis Energi dan Dampak Global

Serangan gabungan AS-Israel sejak 28 Februari mengubah Teluk menjadi zona konflik. Iran membalas dengan memblokade Selat Hormuz, jalur vital 20 persen pasokan minyak dunia.

Harga minyak Brent menembus US$100 per barel, sempat mencapai US$119,5 pada 9 Maret. Harga bensin di AS melampaui US$4 per galon.

Negara Eropa seperti Prancis dan Jerman mengalami kenaikan 15–17 persen. Pakistan, Bangladesh, Filipina, dan Sri Lanka menetapkan darurat energi.

China juga mencatat lonjakan harga energi hampir 20 persen sejak perang dimulai.

Federal Reserve Bank of Dallas memprediksi penutupan 13 minggu butuh 8 minggu pemulihan. Jika penutupan berlangsung 26 minggu, ekspor dan harga minyak bisa pulih dalam 3–4 bulan.

Jalur penerbangan internasional juga terganggu akibat blokade. Krisis energi ini menambah beban ekonomi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.