TRIBUNJAMBI.COM – Lonjakan harga produk berbahan plastik mulai dirasakan di berbagai daerah dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan tersebut bahkan terbilang drastis karena di sejumlah wilayah mencapai puluhan persen hingga hampir dua kali lipat.
Menurut Fajar Budiono selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), gangguan pasokan bahan baku global menjadi penyebab utama kondisi ini.
Ia menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap distribusi bahan baku plastik.
“Ketegangan di wilayah Middle East membuat pasokan terganggu, apalagi dengan penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan sekitar 70 persen bahan baku nafta tidak bisa keluar,” ungkapnya, Jumat (3/4/2026).
Selain faktor geopolitik, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan juga memperparah kondisi pasar.
Pasalnya, aktivitas ekonomi yang kembali meningkat usai Lebaran mendorong permintaan naik secara signifikan.
“Permintaan setelah H+10 Lebaran mulai aktif kembali, sementara suplai belum stabil, sehingga terjadi ketimpangan,” jelasnya.
Baca juga: Pengawal Sabu 58 Kg Medan-Jambi Dikabarkan Kabur dari Ruang Penyidik, Polda Jambi Kejar
Baca juga: Dapat Mobil dari Bupati, Kajari Danke Minta Maaf, Akui Khilaf, Amsal Sitepu Ikut Disorot
Kenaikan harga sendiri, lanjut Fajar, sebenarnya berlangsung secara bertahap sejak awal konflik pecah.
Namun karena terjadi terus-menerus, dampaknya kini terasa cukup besar di tingkat pelaku usaha.
Berbagai produk plastik seperti wadah makanan, gelas plastik, hingga kemasan sekali pakai dilaporkan mengalami kenaikan harga hingga mendekati 100 persen.
Pengusaha Mulai Terpukul
Dampak langsung dari lonjakan harga ini dirasakan oleh pelaku usaha, salah satunya Nafis Ghifari di Kota Semarang.
Ia mengaku biaya operasional meningkat tajam akibat mahalnya bahan kemasan seperti cup plastik dan kantong.
Menurutnya, kenaikan harga bahan plastik bahkan mencapai sekitar 65 persen.
Kondisi tersebut berimbas besar pada bisnisnya yang memiliki ratusan cabang di berbagai daerah.
“Kerugian bisa sampai 50 persen dari pendapatan karena biaya kemasan melonjak drastis,” ujarnya.
Harga jual produk pun menjadi sulit dipertahankan dalam kondisi saat ini.
Dengan banderol Rp3.000 per gelas, keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp500.
“Dalam situasi seperti ini, margin tersebut jelas tidak cukup untuk menutup biaya operasional,” tambahnya.
Toko Plastik Sepi Pembeli
Kondisi serupa juga terjadi di tingkat pedagang bahan plastik di daerah.
Salah satu karyawan toko plastik di Grogol, Sukoharjo, Ade, mengungkapkan bahwa harga sejumlah produk melonjak tajam.
Ia menyebutkan, harga satu slop gelas plastik isi 50 buah kini berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu, dari sebelumnya sekitar Rp12 ribu.
Tidak hanya itu, harga satu dus plastik juga ikut meroket dari Rp240 ribu menjadi Rp400 ribu.
“Kenaikannya hampir dua kali lipat. Awalnya naik sekitar 30 persen, lalu bertahap lagi hingga sekarang mendekati 100 persen,” jelasnya.
Lonjakan harga tersebut mulai terasa sejak menjelang Ramadan dan terus berlanjut hingga setelah Lebaran.
Akibatnya, jumlah pembeli di toko pun mengalami penurunan signifikan.
Pelaku Usaha Tahan Harga
Di tengah kondisi ini, sebagian pelaku usaha memilih untuk tidak langsung menaikkan harga jual ke konsumen.
Hal itu dilakukan agar tidak memberatkan pelanggan maupun mitra usaha.
Pengusaha Teh Jumbo Ginastel, Kinardi Andrianto, mengaku kenaikan harga bahan plastik sangat memberatkan.
Ia menyebutkan bahwa harga dari pabrik bahkan bisa melonjak hingga 80 persen.
Meski demikian, pihaknya masih menahan kenaikan harga untuk para mitra yang jumlahnya sudah mencapai ribuan.
“Kami belum menaikkan harga ke mitra karena kondisi ini masih baru dan perlu dilihat perkembangannya,” ujarnya.
Ia berharap harga bahan plastik dapat segera kembali stabil dalam waktu dekat.
Konsumen Mulai Mengeluh
Sementara itu, dampak kenaikan harga juga dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai konsumen.
Di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, harga plastik dilaporkan mengalami lonjakan signifikan.
Pemilik toko plastik, Murdianto, menyebut harga kantong plastik yang sebelumnya Rp24 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp32 ribu.
“Kenaikan sudah mulai terasa sejak awal Maret, awalnya sekitar 10 persen, lalu terus naik hingga Lebaran,” ungkapnya.
Ia menambahkan, banyak pelanggan yang terkejut karena harga tidak kunjung turun setelah Lebaran.
Situasi tersebut membuat sebagian pembeli memilih mengurangi jumlah belanja.
Salah satu konsumen, Atin, mengaku terpaksa membeli dalam jumlah lebih sedikit dari biasanya.
“Harganya naiknya terlalu tinggi, jadi sekarang beli setengah kilo saja, berharap nanti bisa turun,” katanya.
Kenaikan harga plastik yang terjadi saat ini menunjukkan dampak nyata dari gejolak global terhadap sektor industri dalam negeri.
Jika kondisi pasokan belum kembali normal, tekanan terhadap pelaku usaha hingga konsumen diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.