TRIBUNKALTENG.COM - Update perang Iran vs Amerika, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dua target Amerika berikutnya di Iran adalah menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik.
Dia menargetkan jembatan dan pembangkit listrik akan memperluas serangan AS di luar fasilitas militer semata.
Baca juga: Harga Emas Hari ini Nasib Antam Anjlok Rp65.000 Jadi Rp2.857.000 per Gram, Menanti Sabtu Update
Ancaman Trump muncul ketika harga minyak kian melonjak dan Dewan Keamanan PBB bersiap untuk mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengamankan Selat Hormuz.
"Militer kita, yang terhebat dan terkuat (jauh!) di dunia, bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran," katanya dalam sebuah unggahan di Truth Social.
"Jembatan selanjutnya, lalu pembangkit listrik! Kepemimpinan Rezim Baru tahu apa yang harus dilakukan dan harus dilakukan, CEPAT! Presiden DONALD J. TRUMP,"
Unggahan Trump di Truth Social muncul setelah mengatakan dalam pidatonya pada Rabu malam bahwa pasukan AS akan segera "menyelesaikan pekerjaan" dan "tujuan strategis inti hampir selesai."
Dia juga berjanji untuk menyerang Iran "dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan" dan membawa mereka "kembali ke Zaman Batu."
Dalam pidatonya, Trump juga mengatakan bahwa tujuan strategis inti hampir tercapai.
Dia menegaskan bahwa angkatan laut Iran "telah lenyap," angkatan udaranya "hancur," dan kemampuan misilnya "berkurang drastis."
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio merangkum empat tujuan perang AS yakni menghancurkan pabrik senjata Iran, menghancurkan angkatan laut mereka, menghancurkan angkatan udara dan menghancurkan peluang Iran untuk memiliki senjata nuklir di masa depan.
Di tengah serangan AS dan Israel, Iran melancarkan serangan di seluruh wilayah yang memicu kebakaran di kilang Mina al-Ahmadi di Kuwait dan mengaktifkan pertahanan udara di Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel, demikian dilaporkan Associated Press pada hari Jumat.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan mempertimbangkan rencana yang dipimpin Bahrain pada hari Sabtu untuk mengesahkan tindakan defensif guna melindungi pelayaran di Selat Hormuz, meskipun anggota tetap Rusia, China, dan Prancis menentang penggunaan kekuatan, menurut AP.
Apa Kata Orang-orang
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan: “Operasi militer [untuk membuka kembali Selat Hormuz] akan memakan waktu yang sangat lama dan akan membuat siapa pun yang melewati selat tersebut rentan terhadap ancaman pesisir dari Garda Revolusi [Iran]
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Dewan Keamanan PBB akan membahas proposal yang didukung Bahrain untuk melindungi pelayaran melalui Selat Hormuz, tetapi mandat untuk menggunakan kekuatan kemungkinan akan menghadapi ancaman veto, yang menunda tindakan kolektif segera.
Kabar Iran vs Amerika Lainnya
DPR RI menegaskan bahwa penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 bagi jemaah Indonesia tetap berjalan aman meski situasi geopolitik global tengah mengalami peningkatan tensi.
Ya, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Aprozi Alam, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam memastikan kelancaran ibadah haji di tengah dinamika konflik internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Nah, Aprozi menyebut eskalasi konflik yang terjadi saat ini tidak akan mengganggu pelaksanaan haji karena sistem penyelenggaraan telah memiliki mekanisme pengamanan yang matang serta dukungan komitmen internasional.
“Haji tetap berjalan meskipun konflik terjadi. Ini bukan hal baru, karena pelaksanaan ibadah haji sudah memiliki sistem pengamanan dan komitmen internasional untuk melindungi jamaah,” kata Aprozi kepada wartawan, Jumat (3/4/2026).
Aprozi memastikan bahwa jadwal keberangkatan jamaah haji Indonesia yang dimulai pada 22 April 2026 tetap sesuai rencana dan tidak mengalami perubahan.
Dia juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat kendala berarti, baik dalam aspek transportasi udara maupun koordinasi dengan otoritas Arab Saudi.
Lebih lanjut, DPR dan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi potensi risiko, termasuk kemungkinan memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Kendati demikian, pelaksanaan haji akan tetap berlangsung selama belum ada penetapan kondisi darurat oleh pemerintah.
Ketentuan tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, yang memberikan kewenangan kepada presiden untuk menetapkan status darurat apabila situasi dinilai mengancam pelaksanaan ibadah.
“Selama tidak ada penetapan keadaan darurat, maka pelaksanaan haji tetap berjalan sesuai jadwal. Sampai saat ini situasi masih terkendali,” katanya.
Selain sektor keagamaan, langkah mitigasi juga dilakukan pada sektor ekonomi, transportasi, hingga perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri.
Komisi VIII DPR menilai bahwa koordinasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah dan parlemen pun optimistis bahwa langkah-langkah yang telah disiapkan mampu menjamin pelayanan publik tetap berjalan, termasuk penyelenggaraan ibadah haji bagi masyarakat Indonesia.
Kabar Selat Hormuz
Setelah berminggu-minggu berlabuh tak bisa melewati Selat Hormuz, kapal itu akhirnya dapat berlayar dengan aman melewati selat yang dikuasai Iran dan menuju samudra lepas dengan pengawalan oleh angkatan laut Iran.
Namun tak mudah kapal tanker itu melewati Selat Hormuz.
Pertama-tama, kapal itu perlu mengubah registrasinya dan mengibarkan bendera Pakistan.
Demikian menurut seorang eksekutif perusahaan yang berbicara dengan syarat anonim.
Bagaimana caranya?
Iran setuju untuk mengizinkan 20 kapal Pakistan untuk melintas melalui selat Hormuz akan tetapi negara itu hanya memiliki beberapa kapal berbendera Pakistan di Teluk.
Agar jatah 20 kapal terpenuhi, Pakistan mulai menghubungi beberapa pedagang komoditas terbesar di dunia yang memiliki kapal agar bisa melintasi Selat Hormuz memakai bendera Pakistan.
Namun semua itu tidak gratis karena harus bayar.
Terutama difokuskan kapal tanker minyak super yang mampu mengangkut dua juta barel minyak per unit.
Setidaknya dua perusahaan perdagangan minyak besar telah menerima tawaran tersebut.
Kementerian Maritim Pakistan tidak menanggapi permintaan komentar soal isu itu.
Pengaturan ini menunjukkan bagaimana Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengerahkan kendali yang cukup besar atas pelayaran melalui Selat Hormuz.