Jalur Distribusi Selat Hormuz Tersumbat, Pengusaha RI Teriak Biaya Membengkak: Naik 3 Kali Lipat
Seno Tri Sulistiyono April 03, 2026 10:33 PM

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad Bawazeer menyoroti soal dampak konflik Timur Tengah yang kian hari kian meluas terhadap tatanan ekonomi global.

Menurut Bawazeer, penutupan jalur distribusi minyak mentah global yakni Selat Hormuz oleh Iran menambah terbebaninya kondisi ekonomi dunia termasuk Indonesia.

Pasalnya kata dia, saat ini banyak kapal-kapal tengker yang membawa ribuan kontainer berisi bahan baku hingga minyak dan batu bara harus tertahan di beberapa pintu masuk pelabuhan di negara-negara teluk termasuk di antaranya Oman, India dan Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: AS dan Sekutunya Gigit Jari, Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali Seperti Dulu

"Nah, ini yang terjadi sekarang (akibat penutupan Selat Hormuz) di Jebel Ali (UEA) terjadi penumpukan kontainer, antrean ribuan kontainer seperti ikan gitu lho, nggak bisa keluar. Nah, upaya mereka itu hanya ada dua hal, yaitu menunggu kesepakatan kapan dia bisa masuk, atau mereka membongkar muatan yang sekarang dilakukan. Dibongkar di dekat Jebel Ali situ, mereka jalan darat," kata Bawazeer saat diskusi media di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

Bawazeer menegaskan, kondisi yang membuat ribuan kontainer tak bisa melintas atau mengirim barang ekspor termasuk dari Indonesia ke timur tengah itu telah menyedot banyak anggaran.

Bukan tidak mungkin kata Bawazeer, banyak pengusaha dari dalam negeri yang "teriak" akibat kondisi itu.

Kata dia, cost untuk ekspor dengan tujuan Arab Saudi melalui metode pembongkaran muatan di pelabuhan Jebel Ali lalu mengalihkan ekspedisi melalui jalur darat bisa memakan biaya 3 kali lipat dibandingkan biasanya.

"Itu biayanya, itu mereka harus membayar dua kali pajak. Pajak masuk UEA, kemudian (pajak masuk) Saudi. Atau kalau dia mau ke mana, Doha? Jadi mereka mengambil langkah jalan darat. Nah, hal yang memberatkan mereka ini, kontainer itu biasanya 20 feet itu kira-kira (ongkosnya) 2000 dolar ya, 2000 dolar per kontainer, kontainer cost ya, bukan kita beli kontainer, kontainer cost. Sekarang (dengan metode ini) jadi 6000 dolar, tiga kali lipat," tutur dia.

Kondisi ini kata Bawazeer dikarenakan banyak kapal yang membawa barang-barang ekspor takut melintas di banyak negara teluk sepertihalnya Kuwait, Bahrain, Yaman hingga Qatar.

Ketakutan itu didasari karena hingga hari ini, Iran masih melakukan pengeboman di negara-negara tersebut, meski yang diserang merupakan aset Israel dan juga termasuk pangkalan militer Amerika Serikat.

"Beberapa perkapalan, shipping line tidak berani mengeluarkan nomor booking sekarang. Karena takut risiko adanya perang, jadi mereka wait and see. Beberapa perkapalan melakukan perjalanan menghindari Bab-el-Mandeb, yang di dekat Yaman. Nah, itu menghindari itu, Red Sea, dan berputar melalui Afrika kemudian masuk ke Suez Canal” ucap dia.

"Sehingga delivery time saja bisa sampai 2 bulan, padahal normalnya itu 15 hari. Delivery time jadi 2 bulan. Itu cost juga kan, enggak biasa itu ya. Nah, sehingga 2 bulan baru dia bisa masuk daerah teluk," sambung Bawazeer.

Atas hal tersebut, Bawazeer berharap sekaligus menginginkan agar peran segera berakhir dan setidaknya Iran tidak lagi melakukan serangan terhadap aset-aset AS dan Israel yang berada di negara teluk.

Dia menyebut, agar Iran hanya fokus menyerang dan melakukan pengeboman di Ibu kota Israel, Tel Aviv karena hingga kini Bawazeer mengaku kehidupan di kota tersebut masih aman.

"Jadi memang sekarang ini justru ya kita melihatnya, sebaiknya ya paling nggak peperangan ini berhenti. Nah, cara satu-satunya yang membuat masalah ini, yang membuat masalah ini (selesai) adalah kebijakan Iran ngebom negara-negara itu," kata dia.

"Sehingga kan di samping penutupan Selat Hormuz, tapi ini dibom kan keamanannya sulit. Nah, yang diharapkan ini seandainya Iran mengalihkan ya, tidak ngebom (negara-negara Teluk) tapi bomlah Tel Aviv, habis-habisan. Kenapa harus ngebom Ras Tanura? Kenapa harus ngebom Oman? Mungkin ya, mungkin sekarang Iran berpikir ya, efektif nggak ini? Sementara Tel Aviv masih aman-aman gitu ya, belum pada kondisi yang hancur seperti sebagian negara di semenanjung itu, sebagian kota di semenanjung," tukas dia.

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.