Oleh: Amir Muhiddin
Sekretaris Devisi Politik Pemerintahan ICMI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Perang Amerika Serikat-Israel Versus Iran, bukan saja unjuk kekuatan militer semata, akan tetapi juga unjuk kekuatan rakyat (the people power) di masing-masing negara.
Meski demikian ada yang berbeda diantara ketiga negara ini.
Kalau mayoritas rakyat Amerika Serikat (AS) berupaya mengakhiri perang dan berupaya memakzulkan presidennya, maka di Iran berbeda, rakyatnya justru mendukung pemimpinnya dan menolak untuk tunduk kepada AS dan Zionis Israel.
Rakyat Iran malah berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai sukarelawan dan siap dilatih untuk menjadi tentara melawan rencana serbuan darat tentara AS.
Lebih dari satu juta warga Iran dilaporkan telah dimobilisasi atau mendaftar sebagai sukarelawan untuk menghadapi potensi perang darat dengan Amerika Serikat.
Iran malah meluncurkan kampanye perekrutan yang disebut "Janfada" atau "Mengorbankan Nyawa" untuk merekrut sukarelawan yang siap bertempur melawan pasukan AS.
Di Israel sendiri ribuan warganya berdemonstrasi di Tel Aviv, menentang kebijakan garis keras dan memperingatkan dampak perang terhadap isolasi internasional Israel.
Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 66 persen warga Israel mendukung penghentian perang melalui kesepakatan pembebasan sandera, tidak sedikit juga elit di Israel seperti mantan pejabat dan para kritikus menyebut tujuan perang tidak jelas dan menuduh Netanyahu memperpanjang konflik
demi menunda proses hukumnya sendiri.
Uraian singkat di atas menunjukkan bagaimana mayoritas rakyat AS dan Israel menentang perang, dan sebaliknya bagaimana kekuatan rakyat Iran mendukung pemerintahnya untuk berperang bahkan mengorbankan nyawa sekalipun untuk melawan rencana serangan darat AS.
Dalam konteks AS, rakyat seakan memperlihatkan bahwa merekalah yang berkuasa dan pemegang daulat negara.
Mereka berlomba dengan pemerintahnya mengambil keputusan, apakah perang diteruskan atau dihentikan.
Di AS, para aktifis cinta damai melalui gerakan civil society melakukan berbagai cara agar perang bisa diakhiri, misalnya memengaruhi kongres agar mengaktifkan War Powers Resolution.
Undang-undang yang membatasi kemampuan Presiden AS untuk melanjutkan perang tanpa persetujuan eksplisit dari Kongres setelah 60 hari.
Jika tekanan publik kuat, Kongres dapat menghentikan pendanaan perang, Akhir Maret lalu rakyat AS juga melakukan demonstrasi besar-besaran bertajuk "No Kings", yang bermakna bahwa tidak ada raja di Amerika yang secara otoriter mengambil kebijakan untuk tujuan yang tidak jelas.
Demontsrasi yang berlangsung secara nasional di kota-kota besar AS akhir maret lalu merupakan bagian dari rangkaian protes berkelanjutan terhadap gaya kepemimpinan dan kebijakan Presiden Donald Trump.
Demonstrasi tanggal 28 Maret 2026 lalu merupakan puncak dimana jutaan warga turun ke jalan di lebih dari 3.300 titik di 50 negara bagian.
Diperkirakan tidak kurang dari 8 juta orang dan disebut-sebut sebagai salah satu gelombang protes terbesar dalam sejarah AS.
Mereka menolak kebijakan otoriter dan ancaman terhadap demokrasi.
Mereka protes keras terhadap keterlibatan militer atau kebijakan luar negeri AS dalam konflik dengan Iran.
Selain itu mereka juga menuntut pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Trump.
Rakyat Amerika yang cerdas menganggap bahwa perang dengan Iran adalah tindakan yang keliru, urgensinya tidak jelas.
Hasil survai menunjukkan bahwa 66 persen warga AS ingin perang dihentikan tanpa memedulikan menang atau kalah.
Ada ketakutan akan keterlibatan dalam konflik berkepanjangan yang tidak jelas ujungnya di Timur Tengah.
Pemerintahan Trump juga dinilai memberikan alasan yang berubah-ubah mengenai pemicu konflik, menyebabkan ketidakpercayaan publik.
Ada kekhawatiran juga bahwa perang akan merusak kebijakan ekonomi domestik dan stabilitas internasional yang dijalankan AS.
Ketakutan akan balasan Iran terhadap situs-situs AS dan sekutunya di wilayah Teluk, serta potensi perang yang meluas.
Beberapa hasil survai di atas memberi gambaran betapa masyarakat, baik di AS maupun di Israel sangat menentang perang, mereka sadar bahwa perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah sebaliknya menimbulkan krisis ekonomi global dan kemanusiaan, kita berharap dan mendukung gerakan masyarakat civil sebagai kelompok penekan (pressure group) dan sebagai "rem darurat".
Karena mereka meskipun tidak memegang senjata, tetapi memegang suara yang mudah-mudahan di dengar oleh Trump dan Netanyahu. Semoga!(*)