TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Iran dilaporkan menembak jatuh dua pesawat tempur milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) dalam satu hari, Jumat (3/4/2026) kemarin.
Dua pesawat itu adalah A-10 Thunderbolt II yang juga dikenal sebagai "Warthog" dilaporkan jatuh di Selat Hormuz.
"Awak pesawat berhasil diselamatkan," tulis The New York Times.
Satu pesawat lainnya adalah jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh di atas wilayah Iran.
Pejabat AS mengonfirmasi satu awak pesawat F-15E Strike Eagle berhasil diselamatkan dan satu lainnya masih dalam tahap pencarian.
NBC News melaporkan dua helikopter militer AS dilibatkan mencari awak pesawat F-15 yang jatuh ditembak Iran.
Menurut Military Machine, pesawat A-10 Thunderbolt II harganya sekitar $18,8 juta (Rp 319 miliar) per pesawat.
Untuk ukuran pesawat terbang harganya terjangkau karena misinya hanya ebatas dukungan udara jarak dekat.
Pesawat ini telah digunakan militer AS sejak tahun 70-an.
Pada tahun 1970-an, biaya awal pembuatan pesawat sekitar $9,8 juta (Rp 166 miliar) per unit.
Jika disesuaikan dengan inflasi, angka tersebut setara dengan sekitar $18,8 juta saat ini.
Sebanyak 716 pesawat A-10 diproduksi oleh Fairchild Republic antara tahun 1972 dan 1984.
Seiring berjalannya produksi, biaya produksi menurun karena peningkatan proses manufaktur.
Pesawat A-10 dikenal karena biaya operasionalnya yang relatif rendah dibandingkan dengan jet tempur yang lebih baru.
Biayanya sekitar $6.000 per jam terbang atau $17.716 jika semua pengeluaran dihitung dan biaya operasional tahunan per pesawat sekitar $4,5 juta.
Mengapa A-10 dianggap hemat biaya?
Wall Street Journal mengutip lembar fakta Angkatan Udara AS melaporkan jet tempur F-15E Strike Eagle harganya sekitar $31,1 juta (Rp528 miliar).
Namun model pesawat yang lebih baru harganya mendekati $100 juta (Rp 1,6 triliun).
Biaya operasional untuk jet ini diperkirakan antara $18.800 dan $27.000 per (Rp 458 juta) per jam terbang.
Dikutip dari situs Militer Angkatan Udara AS, F-15E Strike Eagle diperkenalkan pada tahun 1980-an dan dirancang untuk melakukan misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat.
Serangkaian sistem avionik dan elektronik memberi F-15E kemampuan untuk bertempur di ketinggian rendah, siang atau malam, dan dalam segala cuaca.
Pesawat ini menggunakan dua awak, seorang pilot dan seorang petugas sistem senjata.
Pesawat ini memiliki kemampuan untuk bertempur menuju target dari jarak jauh, menghancurkan posisi darat musuh, dan bertempur untuk keluar dari medan pertempuran.
Sistem radar APG-70 memungkinkan awak pesawat untuk mendeteksi target darat dari jarak jauh.
Salah satu fitur sistem ini adalah setelah melakukan penyisiran area target, awak pesawat membekukan peta udara-ke-darat kemudian kembali ke mode udara-ke-udara untuk membersihkan area dari ancaman udara.
Untuk misi udara-ke-darat, F-15E dapat membawa sebagian besar senjata dalam inventaris Angkatan Udara.
Pesawat ini juga dapat dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara jarak menengah canggih AIM-9M Sidewinder atau AIM-120, atau AMRAAM untuk peran udara-ke-udara.
Model "E" juga memiliki senapan 20mm yang terpasang di dalam badan pesawat yang dapat membawa hingga 500 butir amunisi.