SERAMBINEWS.COM - Pembatasan pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berdampak besar pada pasokan energi global.
Meski Iran memberi izin terbatas kepada negara tertentu, situasi tetap kompleks, termasuk bagi Indonesia yang masih menunggu kepastian teknis untuk kapal tankernya.
Lebih dari sebulan konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memicu babak baru penutupan Selat Hormuz.
Kebijakan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, yang turut mengguncang stabilitas energi global.
Sebelumnya, Teheran bahkan sempat menutup seluruh akses pelayaran di jalur strategis tersebut.
Dampaknya terasa luas di pasar dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan langsung mendorong lonjakan harga energi.
Baca juga: Haji 2026: Problema dan Transformasi Layanan Berkeadilan
Belakangan, Iran mulai memberikan kelonggaran dengan mengizinkan secara terbatas beberapa negara untuk tetap melintas dan mengekspor komoditas mereka.
Melalui jalur komunikasi dan diplomasi, sejumlah negara mendapat pengecualian meski Amerika Serikat dan sekutunya tetap tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Lantas, negara mana saja yang masuk dalam daftar terbaru diizinkan oleh Iran melintasi Selat Hormuz?
Negara-negara mulai mendapat izin melintas Selat Hormuz di tengah konflik. Namun, kapal Indonesia masih tertahan, apa penyebabnya?
Menurut laporan media Inggris, Express, Jumat (3/4/2026), Rusia, China, dan India dilaporkan termasuk dalam lima “negara sahabat” yang saat ini diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: VIDEO Diultimatum Buka Selat Hormuz, Iran Ancam Balik AS Akan Buka Gerbang Neraka
India secara khusus masuk dalam daftar prioritas Iran.
Sejumlah kapal pengangkut LPG dan minyak mentah seperti Jag Vasant, Pine Gas, Shivalik, dan Nanda Devi tercatat berhasil melewati selat tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Situasi ini membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Pakistan dan Irak juga termasuk negara yang telah diizinkan melewati Selat Hormuz.
Menurut laporan Newsweek, Sabtu (4/4/2026), Pakistan tercantum dalam daftar negara-negara yang diberikan izin pelayaran aman oleh pejabat Iran.
Setidaknya satu kapal tanker berbendera Pakistan terlacak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada pertengahan Maret.
Baca juga: Alarm Ketahanan Energi Indonesia: Refleksi Krisis Selat Hormuz
Pelayaran Irak juga termasuk di antara negara-negara yang digambarkan Iran sebagai "negara sahabat" dengan izin pelayaran diberikan berdasarkan aturan keamanan Iran karena keselarasan politik dan kedekatan Baghdad.
Thailand diizinkan melintasi jalur tersebut setelah koordinasi diplomatik, sementara Sri Lanka mendapat akses sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama kemanusiaan dan logistik selama konflik.
Turkiye juga berhasil meloloskan sejumlah kapal melalui selat tersebut, meski lebih dari selusin kapal masih menunggu izin hingga Sabtu.
Menteri Transportasi Abdulkadir Uraloglu menyebut dua dari 15 kapal yang berada di dekat selat telah berhasil melintas.
Menurut Lloyd's List, sedikitnya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz membayar biaya menggunakan yuan.
Dengan demikian, berikut ini daftar terbaru negara yang diizinkan melewati Selat Hormuz.
Di antaranya: Rusia, China, India, Pakistan, Irak, Thailand, Malaysia, Bangladesh, Sri Lanka, Mesir, Korea Selatan dan
Perancis dan Italia sedang berupaya membuka jalur diplomasi dengan Teheran untuk memperoleh izin melintasi Selat Hormuz.
Sebuah kapal milik Perancis yang beroperasi dengan bendera Malta telah berhasil melintas pada Jumat (3/4/2026).
Namun belum dipastikan apakah akses yang diberikan bersifat penuh atau terbatas seperti yang dialami Turki.
Di sisi lain, Jepang mulai kembali mengirimkan kapal melalui jalur tersebut, dengan satu kapal telah melintas pada Kamis (2/4/2026).
Laporan The Japan Times menyebutkan sekitar 45 kapal yang terkait dengan Jepang sebelumnya tertahan di Teluk Persia selama berminggu-minggu.
Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan alasan di balik izin pelayaran yang baru diberikan tersebut.
Sejauh ini, kapal milik Pertamina belum bisa melewati Selat Hormuz untuk melnjutkan perjalanannya.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia cukup rumit terkait kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, Iran.
“Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis,” ujar Hikmahanto dikutip dari Kompas.com, Minggu (29/3/2026).
Ia menjelaskan, di satu sisi Indonesia berkepentingan agar kapal tankernya dapat melintasi jalur tersebut demi kebutuhan nasional.
Namun di sisi lain, langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa Indonesia berpihak dan bisa dianggap sebagai lawan oleh Amerika Serikat.
“(Tapi) kan sudah diberi lampu hijau (oleh Iran), tinggal masalah teknis saja kok,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hikmahanto menyebut Iran saat ini secara efektif mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz, meskipun kapal tanker dari sejumlah negara masih diizinkan melintas tanpa gangguan.
Dikutip dari Antara, Minggu (29/3/2026), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan bahwa pemerintah Iran telah merespons positif permintaan pemerintah Indonesia supaya dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.
Menurut Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela, pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran untuk keselamatan kapal tanker tersebut.
"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Nabyl merespons pertanyaan terkait perkembangan negosiasi kapal tanker Pertamina, di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Menyusul respons positif yang disampaikan Teheran, langkah tindak lanjut telah dijalankan oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional, kata Nabyl, meski belum memberi waktu pasti kapan kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/05/153000065/daftar-terbaru-negara-yang-telah-diizinkan-lewat-selat-hormuz-kenapa-ri