Sejarah Pondok Gontor Ponorogo: Jejak Pesantren Tegalsari hingga Menjadi PMDG
Pipit Maulidya April 06, 2026 06:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) baru-baru ini menerbitkan aturan tegas di lingkungan internal pondok.

Aturan tersebut adalah seluruh keluarga PMDG yang berusia di bawah 30 tahun dilarang mengendarai sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari.

Kebijakan ini secara resmi ditetapkan melalui Maklumat Nomor: 4/PMDG/k-01/X/1447 yang dirilis pada Selasa (31/3/2026).

Aturan tersebut berlaku bagi seluruh jajaran tenaga pendidik serta staf di lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), baik yang bertugas di kampus pusat maupun seluruh cabang.

Langkah penegakan disiplin melalui maklumat terbaru ini sejatinya selaras dengan nilai-nilai luhur yang telah dibangun sejak masa awal berdirinya pondok.

Baca juga: Sosok KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Gontor yang Keluarkan Maklumat Larangan Naik Motor

Sejarah Pondok Pesantren Gontor

Melansir laman resmi, perjalanan panjang Pondok Gontor bermula pada abad ke-18.

Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari.

Secara administratif, Desa Tegalsari terletak di Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.

Pada masa keemasannya, ribuan santri dari berbagai daerah berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok legendaris ini.

Era Kyai Sulaiman Jamaluddin

Kisah berlanjut pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah di Tegalsari.

Salah satu santrinya, Sulaiman Jamaluddin, yang merupakan putra Panghulu Jamaluddin sekaligus cucu Pangeran Hadiraja dari Kesultanan Cirebon, menunjukkan kecerdasan luar biasa.

Karena kedekatan dan kemampuannya, ia dinikahkan dengan putri Kyai Khalifah dan diamanahi untuk membangun pesantren baru di Desa Gontor.

Desa Gontor sendiri terletak di Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, lokasinya berada sekitar 3 km ke arah timur dari Desa Tegalsari.

Dan, sekitar 11 km ke arah tenggara dari pusat kota Ponorogo.

Pada masa itu, Gontor bukanlah pemukiman yang ramah.

Wilayah ini merupakan hutan belantara yang menjadi sarang kriminalitas, mulai dari perampok hingga pemabuk.

Dengan keteguhan hati dan bekal 40 santri pertama, Kyai Sulaiman Jamaluddin berhasil merintis dakwah di sana.

Perkembangan pesantren berlanjut di bawah kepemimpinan generasi-generasi berikutnya.

Generasi Kedua: Dipimpin oleh Kyai Anom Besari, di mana pondok mengalami kemajuan pesat.

Generasi Ketiga: Diteruskan oleh Kyai Santoso Anom Besari sebelum akhirnya memasuki era pembaruan.

Era Modern dan Peranan Trimurti

Kebangkitan Gontor menuju sistem "Modern" dimulai oleh tiga putra Kyai Santoso Anom Besari yang dikenal sebagai Trimurti.

Setelah menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan, mereka kembali untuk mereformasi sistem pendidikan di Gontor. Tokoh tersebut adalah:

KH. Ahmad Sahal (1901-1977)

KH. Zainuddin Fanani (1908-1967)

KH. Imam Zarkasyi (1910-1985)

Tepat pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 (Maulid Nabi), sistem baru diresmikan.

Awalnya dimulai dengan jenjang dasar bernama Tarbiyatul Athfal, kemudian pada 19 Desember 1936 berkembang dengan berdirinya Kulliyatul Muallimin al Islamiyah (KMI) yang merupakan jenjang pendidikan menengah selama enam tahun.

Visi pendidikan Gontor meluas ke jenjang perguruan tinggi dengan kronologi sebagai berikut:

Pada 17 November 1963 berdirilah Perguruan Tinggi Darussalam (PTD).

PTD berubah menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), kemudian menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Sejak 1996, ISID telah memiliki kampus mandiri di Demangan, Siman, Ponorogo.

Saat ini, ISID menyelenggarakan berbagai program studi dalam tiga fakultas utama:

Fakultas Tarbiyah (PAI & Pendidikan Bahasa Arab),

Fakultas Ushuluddin (Perbandingan Agama, Akidah, dan Filsafat), serta

Fakultas Syariah (Perbandingan Madzhab & Hukum, serta Manajemen Lembaga Keuangan Islam).

Kepemimpinan Pondok Saat Ini

Hingga saat ini, Pondok Modern Darussalam Gontor tetap konsisten menjaga nilai-nilainya di bawah asuhan:

KH. Hasan Abdullah Sahal

Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

Drs. K.H. M. Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed

Pondok Pesantren Gontor dikenal disiplin dan menerapkan komunikasi Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.