TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG - Nyeri lutut saat berjalan atau menaiki tangga sering kali menjadi penghambat aktivitas sehari-hari, terutama bagi kelompok lanjut usia.
Tanpa adanya riwayat cedera, keluhan ini umumnya tanpa riwayat cedera mengarah pada Osteoartritis (OA), sebuah peradangan kronis akibat pengikisan tulang rawan yang berfungsi sebagai pelapis ujung tulang.
Dokter Spesialis Akupunktur Medik Santosa Hospital Bandung Central, dr. Emilia Puspitasari Winarno, Sp.Ak, menjelaskan bahwa OA ditandai dengan kekakuan sendi sementara di pagi hari, gangguan pergerakan, hingga pembengkakan.
Namun, kemajuan medis kini menempatkan akupunktur sebagai salah satu terapi pendamping yang sangat efektif untuk mengatasi kondisi tersebut.
"Akupunktur bekerja dengan merangsang sistem saraf untuk melepaskan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami," kata dia, kepada Tribunjabar.id, Minggu (5/4/2026).
Tak hanya itu, terapi ini memiliki efek anti-inflamasi, meningkatkan sirkulasi darah lokal, hingga menurunkan adhesi atau perlekatan jaringan.
"Selain meredakan nyeri fisik, akupunktur memberikan efek relaksasi yang mampu mengurangi stres dan kecemasan pasien," ujar dr. Emilia.
Bagi pasien dengan berat badan berlebih, terapi ini juga berperan ganda dalam menekan nafsu makan dan meningkatkan metabolisme untuk membantu penurunan berat badan, sehingga beban pada lutut berkurang.
Dia menjelaskan, dalam dunia medis, keparahan OA dinilai melalui sistem Kellgren-Lawrence (KL).
Akupunktur sangat disarankan bagi pasien pada derajat 2 dan 3. Namun, pada kondisi derajat 4 yang biasanya memerlukan operasi Total Knee Replacement (TKR), akupunktur tetap dapat digunakan sebagai manajemen nyeri.
"Terapi ini tergolong aman untuk segala usia, mulai dari bayi hingga lansia, selama dilakukan oleh ahli kompeten. Efek sampingnya pun sangat minimal, seperti kemerahan, perdarahan kecil, atau lebam di titik penusukan," ucapnya.
Proses terapi berlangsung singkat, sekitar 20 hingga 30 menit per sesi. Menariknya, metode yang digunakan kini sangat beragam sesuai kebutuhan pasien.
dr. Emilia mencontohkan, akupunktur memiliki beberapa metode yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan terapi.
"Akupunktur manual merupakan teknik dasar yang menggunakan jarum akupunktur standar. Selain itu, terdapat elektroakupunktur yang memanfaatkan alat elektrostimulator dengan aliran listrik tegangan rendah untuk meningkatkan rangsangan pada titik tertentu."
Metode lain adalah laserpunktur, yaitu penggunaan sinar laser yang memberikan terapi tanpa rasa nyeri.
Farmakopunktur dilakukan dengan menyuntikkan cairan khusus ke titik akupunktur, sedangkan tanam benang adalah teknik memasukkan benang yang dapat diserap tubuh untuk memberikan rangsangan dalam jangka panjang.
Terakhir, thermoakupunktur menggunakan stimulasi panas melalui lampu pemanas untuk membantu proses terapi.
Selain tindakan di rumah sakit, pasien dapat diajarkan teknik Akupresur, yaitu penekanan titik akupunktur menggunakan jari atau alat tumpul secara mandiri.
Untuk mencapai hasil optimal, dr. Emilia menyarankan terapi dilakukan secara rutin 1-2 kali seminggu.
"Pasca-tindakan, tidak ada pantangan khusus. Pasien tetap diperbolehkan beraktivitas seperti biasa, namun sangat disarankan untuk mengombinasikannya dengan olahraga teratur, latihan beban untuk penguatan otot penunjang lutut, serta menjaga pola makan," ujarnya.
Bagi Anda yang membutuhkan konsultasi lebih lanjut, dr. Emilia Puspitasari Winarno, Sp.Ak membuka praktik di Santosa Hospital Bandung Central setiap hari Senin dan Kamis pukul 08.00-10.00 WIB. (*)