Bom Bunker AS Lenyapkan Universitas Teknologi Sharif Teheran yang Terkenal Paling Bergengsi
Ansari Hasyim April 06, 2026 07:35 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Dunia pendidikan Iran diguncang keras setelah Universitas Teknologi Sharif, kampus teknologi paling prestisius di negeri itu, dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat serangan udara koalisi AS–Israel. 

Serangan yang terjadi Senin pagi tersebut disebut-sebut menyasar fasilitas akademik dan sipil di jantung ibu kota Iran.

Menurut laporan media pemerintah IRNA, sejumlah bangunan kampus terdampak, termasuk masjid universitas. 

Wali Kota Distrik 9 Teheran, Mohsen Dodangeh, menyatakan pos gas universitas ikut terkena serangan, memicu ledakan dan memaksa pemutusan sementara pasokan gas. 

Sejumlah rumah warga di sekitar kampus dievakuasi untuk mencegah risiko lanjutan.

Rektor Universitas Teknologi Sharif, Masoud Tajrishi, mengonfirmasi bahwa salah satu bangunan pusat ilmiah dan budaya menjadi sasaran. 

Baca juga: Iran: Selat Hormuz tidak akan Dibuka untuk Gencatan Senjata Sementara 

“Universitas Sharif adalah lembaga ilmiah untuk pengembangan budaya dan sains. Kerusakan ini terjadi akibat kebrutalan musuh,” ujarnya. 

Meski demikian, Tajrishi menegaskan tidak ada korban jiwa dan proses penyelidikan telah dimulai. 

Ia juga memastikan rekonstruksi akan segera dilakukan agar aktivitas akademik kembali berjalan.

Ketegangan regional menjadi latar serangan ini. Otoritas Iran menyebut agresi terhadap infrastruktur sipil dan energi telah berlangsung sejak akhir Februari, dengan ratusan korban jiwa. 

Dalam pernyataan-pernyataan resmi, pihak Iran menuding serangan tersebut sebagai bagian dari eskalasi besar yang menargetkan fasilitas non-militer, klaim yang hingga kini belum ditanggapi secara resmi oleh Washington.

Sorotan makin tajam setelah Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menuduh penggunaan bom penghancur bunker (bunker-buster). 

“Pengetahuan Iran tidak tertanam dalam beton untuk dihancurkan bom. Benteng sejatinya adalah kehendak para profesor dan elit kami,” tulis Aref di platform X. 

Ia menegaskan, “Sains berakar dalam jiwa bangsa Iran dan itu tak akan runtuh.”

Universitas Teknologi Sharif kerap dijuluki “MIT-nya Iran” karena perannya dalam riset dan inovasi—sebuah perbandingan dengan Massachusetts Institute of Technology. 

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah akademisi yang berafiliasi dengan universitas ini dilaporkan tewas dalam insiden terpisah, yang oleh pihak Iran dikaitkan dengan tuduhan keterkaitan program nuklir—sebuah isu sensitif yang terus memanaskan tensi geopolitik.

Selain Sharif, Iran menyebut beberapa kampus lain turut terdampak dalam sebulan terakhir, termasuk Universitas Shahid Beheshti Teheran, Universitas Sains dan Teknologi, Fakultas Farmasi Universitas Shiraz, Universitas Teknologi Isfahan, serta fasilitas pendidikan dan rumah sakit hewan Universitas Urmia.

Sementara itu, klaim Iran mengenai rangkaian peristiwa politik dan keamanan—termasuk pernyataan terkait kepemimpinan tertinggi negara—disampaikan sebagai tudingan resmi Teheran dan belum dapat diverifikasi secara independen. 

Serangan ke jantung dunia akademik ini menambah daftar panjang kekhawatiran global: ketika kampus dan pusat ilmu pengetahuan menjadi arena konflik, masa depan riset dan pendidikan ikut berada di garis depan ketegangan geopolitik.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.