Dubes Iran Blak-blakan Soal Nasib Kapal Tanker Indonesia di Selat Hormuz: Perlu Komunikasi Intensif
Adi Suhendi April 06, 2026 08:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi mengungkapkan kondisi penting mengenai situasi terkini di Selat Hormuz di tengah berkecamuknya konflik di kawasan tersebut.

Boroujerdi menegaskan bahwa hingga saat ini Selat Hormuz tidak ditutup.

Jalur perdagangan strategis tersebut tetap beroperasi, namun dengan penerapan protokol keamanan khusus selama masa perang.

Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi menjawab pertanyaan soal Kapal tanker Indonesia yang hingga saat ini belum bisa melintas Selat Hormuz.

Dubes Boroujerdi menjelaskan bahwa ketidakamanan yang terjadi di wilayah tersebut merupakan tanggung jawab pihak luar yang melakukan invasi terhadap Iran. 

Meski begitu, Iran menjamin keselamatan jalur bagi negara-negara sahabat.

Baca juga: Iran Izinkan Kapal Irak Melintas Selat Hormuz, SOMO Genjot Ekspor Minyak, Kejar Pengiriman 24 Jam

Namun, ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi intensif dengan pemerintah Iran bagi setiap kapal yang ingin melintas. 

Hal ini berkaitan dengan status siaga dan aturan khusus yang diberlakukan Iran di wilayah kedaulatannya.

"Perlu dilakukan komunikasi dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak pemerintah Iran dikarenakan saat ini sedang diberlakukan protokol-protokol khusus saat perang," jelasnya.

Koordinasi ini, menurut Boroujerdi, sangat krusial agar kapal-kapal kargo dari negara sahabat tetap bisa melintas dengan aman tanpa hambatan teknis maupun keamanan di lapangan.

Larangan Bagi Musuh

Lebih lanjut, Boroujerdi menyatakan bahwa Iran membuka pintu bagi negara-negara yang memiliki hubungan baik untuk membicarakan teknis pelayaran di Selat Hormuz.

Baca juga: Iran Melunak, 15 Kapal Diizinkan Melintas di Selat Hormuz Selama 24 Jam Terakhir

Jalur tersebut dipastikan terbuka bagi mereka yang bersedia melakukan pendekatan diplomatik.

"Tentu saja kami pasti akan memberikan izin kepada pihak yang melakukan pendekatan dan negosiasi dengan Iran," tegasnya.

Kendati demikian, sikap berbeda diambil Iran terhadap negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau melakukan agresi terhadap kedaulatan mereka.

Iran secara tegas akan menutup akses bagi kapal-kapal dari negara lawan.

"Hanya saja, pihak yang merupakan negara musuh tidak akan diizinkan lewat," ujar Boroujerdi.

Ancaman Krisis Energi

Konflik di Timur Tengah yang menyebabkan Iran menutup jalur distribusi minyak mentah dunia, Selat Hormuz, berpotensi menyebabkan krisis energi global.

Penjagaan ketat Selat Hormuz yang dilakukan Iran buntut serangan Amerika Serikat-Israel yang menyerang Teheran sejak 28 Februari 2026.

Akibat pengetatan keamanan di Selat Hormuz beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Vietnam, Kamboja hingga Filipina sudah merespons dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)

Dimana, untuk Kamboja sendiri sudah menyesuaikan harga BBM sebesar 10 persen ke angka USD1,05 per liternya. 

Sementara itu seperti Vietnam, kemudian Laos, dan Filipina yang merupakan negara berbasis industri telah menunjukkan tren kenaikan harga yang signifikan di kisaran 6 persen hingga 8 persen. 

Lonjakan di negara-negara ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harian pada Mean of Plot Singapore atau MOPS yang merupakan harga rata-rata produk minyak olahan di pasar-pasar Singapura yang menjadi acuan retail di Asia.

Untuk mengurangi konsumsi energi seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), Pemerintah Indonesia belum membuat keputusan menaikkan harga BBM.

Pemerintah RI hanya mengeluarkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Kebijakan WFH sendiri disebut-sebut mampu menghemat konsumsi BBM hingga 20 persen, meski efektivitasnya masih menjadi perdebatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.