Terapi Anak Kecanduan Ponsel di RSUD Kota Malang Hanya 20 Menit
iksan fauzi April 06, 2026 10:35 PM

 

SURYAMALANG.COM | MALANG - Kecanduan gawai di Kota Malang sangat tinggi, terutama anak-anak.

Hampir 90 persen pasien anak yang ditangani di RSUD Kota Malang merupakan dampak dari kecanduan gadget.

Rata-rata anak yang kecanduan gawai mengalami kurang fokus, telat bicara, hiperaktif, dan kurang bergerak.

Banyak orang tua yang belum mengetahui kalau anaknya sudah kecanduan gadget.

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik RSUD Kota Malang, Nunik Eveline Hanoto mengatakan kecanduan gadget pada anak memiliki pola yang mirip dengan adiksi lainnya.

Anak akan merasa gelisah ketika tidak memegang perangkat, bahkan menunjukkan perubahan perilaku signifikan.

"Orang tua harus tahu dulu tujuan memberikan gawai kepada anaknya. Kalau hanya untuk mengalihkan supaya anak diam, itu berbahaya," kata Nunik.

RSUD Kota Malang menangani anak dengan kecanduan gawai menggunakan dua pendekatan, yakni terapi wicara dan terapi okupasi.

Terapi wicara difokuskan untuk melatih kemampuan komunikasi anak. Sedangkan terapi okupasi membantu meningkatkan konsentrasi dan mengelola perilaku.

Nunik menegaskan terapi di rumah sakit hanya berlangsung singkat.

"Rata-rata sekitar 20 menit per sesi. Sebenarnya yang paling menentukan itu latihan di rumah. Peran keluarga sangat besar," tambahnya.

Dampak terbesar dari penggunaan gadget berlebihan adalah berkurangnya interaksi sosial anak.

Anak menjadi lebih fokus pada layar dibandingkan berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.

Akibatnya, anak berisiko mengalami keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, sampai kesulitan bersosialisasi.

Nunik menyarankan agar anak lebih banyak diajak bermain secara aktif, termasuk aktivitas fisik yang merangsang perkembangan motorik dan sosial.

"Gawai tidak boleh menggantikan aktivitas sehari-hari, seperti bermain, berbicara, dan berinteraksi langsung. Tetap harus ada peran orang tua, dan orang-orang di sekitarnya harus mengajak mereka untuk berinteraksi," terangnya.

Baca juga: Gampang Akses Konten Negatif, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Batasi Penggunaan Ponsel di Sekolah

Baca juga: Wali Murid di Malang Nangis Lihat Isi Gawai Anak, Sekolah Ungkap Dampak Kecanduan Konten Negatif

Baca juga: Bahaya Kecanduan Gawai bagi Anak di Bawah Umur, Kenali Ciri-ciri dan Cara Antisipasinya

Baca juga: Orang Tua Jadi Kunci Penanganan Anak yang Kecanduan Terhadap Gawai

Butuh pendampingan keluarga

Dalam praktiknya, pencegahan kecanduan gadget tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga membutuhkan konsistensi seluruh anggota keluarga. 

Nunik menyoroti pola asuh dalam keluarga besar yang seringkali tidak sejalan.

Ketika orang tua melarang, justru anggota keluarga lain memberikan gadget kepada anak.

"Keluarga harus satu suara. Kalau keluarga tidak konsisten, anak jadi bingung dan akhirnya tetap ketergantungan," imbuhnya.

Selain membatasi durasi, orang tua juga perlu mendampingi anak saat menggunakan gadget. Hal ini penting agar anak tetap mendapatkan stimulasi interaksi.

"Yang paling penting, jangan sampai gadget menjadi 'pengasuh utama'. Anak tetap butuh interaksi nyata untuk tumbuh kembangnya," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.