Pengusaha Ayam di Surabaya Konsisten Investasi Emas Sejak 1990, Beli Perhiasan Total Rp600 Juta
Samsul Arifin April 06, 2026 11:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Harga emas mengalami penurunan signifikan usai momen Idul Fitri 2026.

Dari sebelumnya menyentuh Rp2.330.000 per gram, kini turun ke kisaran Rp2.160.000 per gram

Penurunan harga ini justru mendorong minat masyarakat untuk berbelanja, terutama pada produk perhiasan.

“Ketika harga emas turun, minat beli biasanya meningkat. Apalagi sekarang harga logam mulia sudah cukup tinggi, sehingga masyarakat mulai melirik perhiasan sebagai alternatif investasi,” ucap Manajemen Representatif Wahyu Redjo Group, Diana Kusuma Atmaja, Minggu malam (5/4/2026).

Baca juga: 9 Tahun Bos Tambang Emas Ilegal Dapat Rp 10 Juta Per Minggu, Terbongkar setelah Buat Banyak Lubang

Perhiasan Jadi Alternatif Investasi

Tren investasi dalam bentuk perhiasan dinilai semakin diminati karena memberikan dua keuntungan sekaligus, yakni sebagai instrumen investasi dan penunjang penampilan.

Dari sisi model, cincin menjadi perhiasan yang paling banyak diminati. Tren saat ini menunjukkan penggunaan cincin secara layering atau kombinasi lebih dari satu dalam satu tangan masih digemari.

“Jadi tren investasi dalam bentuk perhiasan itu sangat diminati jadi istilahnya berinvestasi dan bergaya,” ucapnya.

Baca juga: 25 Tahun Nabung 40 Suku Emas, Agus Buruh Angkut Malah Kehilangan Rp 604 Juta setelah Utangi Guru SMK

Investasi emas masih menjadi pilihan menarik di tengah fluktuasi harga. Hal ini dilakukan pengusaha ayam di Pasar Mangga Dua Surabaya, Fatimah, mengaku konsisten membeli perhiasan emas tanpa terlalu memikirkan naik turunnya harga.

Fatimah menuturkan, dirinya rutin membeli emas maksimal dua kali dalam sebulan, selama memiliki dana lebih. Baginya, investasi emas tidak hanya aman, tetapi juga bisa langsung dimanfaatkan sebagai perhiasan.

“Tidak ada ruginya, bisa dipakai dan juga menghasilkan untuk investasi,” ujarnya.

Cerita Investor: Konsisten Beli Emas

Dalam beberapa kesempatan, Fatimah bahkan mengaku telah menjadi “top spender” dengan total pembelian perhiasan mencapai sekitar Rp600 juta.

Ia membeli berbagai jenis perhiasan seperti kalung, gelang, hingga cincin.

Namun, ia tidak terlalu memperhatikan model. Menurutnya, yang terpenting adalah jumlah gram emas yang dibeli.

“Kalau kecil-kecil suratnya lebih banyak dan susah disimpan, jadi saya pilih gram besar,” jelasnya.

Fatimah juga menegaskan, dirinya tidak menunggu harga emas turun untuk membeli. Selama memiliki uang, ia lebih memilih mengalokasikannya untuk emas dibanding kebutuhan konsumtif lainnya.

“Daripada beli yang lain, mending beli perhiasan,” katanya.

Selain perhiasan, ia juga berinvestasi pada logam mulia. Ia pernah membeli emas Antam seberat 50 gram dengan harga Rp2,7 juta per gram. Emas tersebut disimpan sebagai aset jangka panjang.

Pengalaman investasinya pun membuahkan hasil. Pada 2020, Fatimah membeli emas seharga Rp850 ribu per gram, lalu menjualnya pada 2023 dengan keuntungan mencapai Rp85 juta, yang kemudian digunakan untuk membeli mobil.

Wanita berusia 48 tahun ini mengaku mulai mengenal emas sejak tahun 1990-an. Bahkan, anting yang dimilikinya sejak kecil diakui masih disimpan hingga kini dan menjadi kenang-kenangan untuk anaknya.

“Dari anting itu saya turunkan ke anak, masih ada sampai sekarang,” tuturnya.

Fatimah juga mengajak anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya berinvestasi emas. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun aset dari logam mulia.

Saat ini, ia memiliki perhiasan dalam jumlah besar, termasuk kalung seberat 120 gram. Ia menilai, selama surat atau sertifikat emas tersimpan dengan baik, proses penjualan kembali akan lebih mudah.

“Emas itu naik turun, tapi saya tetap beli kalau ada uang. Tujuan saya invest jadi memang milihnya yang gram besar. Selama ada surat, perhiasan sesuai, jualnya gampang. Memang harus konsisten,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.