Cerita Pengusaha Muda Nekat Utang Pinjol Rp50 Juta Gara-gara KUR Tak Jelas
Noval Andriansyah April 06, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jember - Pagi itu, Arief Dwi Wahyu Prasetya kembali membuka gudang kecil tempat ia menyimpan berdus-dus air mineral. Di sudut lain, adonan pentol yang biasanya diproduksi bersama para pekerja kini terlihat lebih sedikit dari biasanya.

Usaha yang ia rintis di Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur, perlahan berjalan terseok. Dua pekerja yang dulu membantunya terpaksa ia berhentikan karena keuangan usaha semakin menipis.

Arief, pengusaha muda asal Bondowoso itu, kini harus memutar otak setiap bulan. Bukan hanya untuk menjaga usahanya tetap hidup, tetapi juga untuk membayar cicilan utang pinjaman online alias pinjol yang bunganya tinggi.

Setiap bulan, ia harus menyisihkan sekitar Rp6 juta dari hasil usahanya untuk membayar cicilan tersebut. Pembayaran itu harus dilakukan sebanyak 13 kali dalam jangka waktu tiga hingga enam bulan.

Dikutip dari TribunJatim.com, kondisi itu berawal dari keputusan yang sebenarnya tidak pernah ia rencanakan, meminjam uang dari aplikasi pinjol demi menyelamatkan usahanya.

Baca juga: Utang Pinjol Kembali Makan Korban, Pemuda di Bogor Tewas Dalam Kamarnya

Sebelumnya, Arief telah menjalankan bisnis distribusi air mineral dan produksi pentol di wilayah Jember dan Bondowoso. 

Untuk mengembangkan usaha tersebut, ia sempat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp200 juta di satu bank BUMN pada Juli 2025.

Menurut Arief, proses awal pengajuan berjalan lancar. Petugas bank dari Bondowoso bahkan sudah melakukan survei dan menyatakan usaha tersebut layak.

“Saat itu sudah disurvei petugas dan petugas bank dari kantor Bondowoso, sudah oke termasuk dari supervisor,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Namun, setelah proses pengecekan dilanjutkan oleh kantor bank di Jember, kabar soal pengajuan pinjaman itu tak pernah lagi ia terima.

Hingga Agustus 2025, Arief mengaku tidak mendapat kejelasan, apakah pengajuan KUR tersebut diterima atau ditolak.

“Sampai akhirnya kami bersurat di pihak bank secara resmi, agar memberikan jawaban soal pengajuan pinjaman saya,” katanya.

Ia mengaku tidak memiliki riwayat pinjaman di bank mana pun. Hal itu juga bisa dilihat melalui BI Checking.

Bahkan saat survei dilakukan, Arief menyatakan siap menjaminkan akta tanah dan BPKB truk miliknya untuk memastikan bahwa ia mampu mengembalikan pinjaman tersebut.

“Misalkan pinjaman itu kebesaran, mestinya pihak bank bilang. Tapi sampai sekarang tidak ada penjelasan apa pun,” ujarnya.

Karena tak kunjung mendapat kepastian, Arief akhirnya melaporkan persoalan tersebut ke Ombudsman.

Namun hingga kini, ia juga belum menerima hasil dari laporan itu.

Desakan kebutuhan modal membuat Arief mengambil jalan lain.

Pada Desember 2025, ia memutuskan meminjam uang dari aplikasi pinjaman online sebesar Rp50 juta.

“Tidak sampai 15 menit, pinjol cair,” ujarnya.

Namun, kemudahan itu harus dibayar mahal. Dari pinjaman Rp50 juta, total pengembalian yang harus ia bayarkan mencapai Rp78 juta dalam 13 kali cicilan dengan tenggat waktu tiga hingga lima bulan.

Selama enam kali cicilan pertama, Arief masih mampu membayar tepat waktu.

Meski begitu, beban bunga yang tinggi membuat usaha yang ia jalankan semakin berat.

“Beruntung selama enam kali cicilan saya lancar bayar pinjol. Tapi ya itu, bisnis saya lesu karena bunganya pinjol dua kali lipat dari KUR,” tuturnya.

Hingga kini, Arief masih bertanya-tanya alasan pengajuan KUR miliknya tidak disetujui oleh pihak bank, padahal ia merasa mampu membayar cicilan.

“Saya bayar pinjol dengan cicilan sebesar Rp6 juta lancar sampai sekarang. Makanya bingung, ini menolaknya atas dasar apa,” katanya.

Arief menilai, jika akses pembiayaan usaha dari bank semakin sulit, banyak pelaku usaha kecil yang akhirnya terpaksa beralih ke pinjol.

“Wajar kalau banyak pengusaha terjebak pinjol. Gimana, wong mau ajukan KUR juga sulit. Tidak seperti bayang bayang Presiden Prabowo,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.