Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph
mufti April 07, 2026 09:19 AM

Dr. MURNI, S.Pd,I., M.Pd., Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Kamis, 26 Maret 2026, pukul 08.45 WIB, saya bergegas berangkat dari rumah menuju Kampus ‘Jantong Ate’ Rakyat Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala (USK), tepatnya di Auditorium Dr Ir Muhammad Ridha MEng Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC).

Di tempat ini berlangsung acara peluncuran buku MemoryGraph: Menjaga Kenangan Aceh Lewat Foto. Acara tersebut sangat bergengsi karena berkaitan dengan peluncuran buku yang sangat penting bagi masyarakat Aceh. Maklum, Aceh yang terkenal dengan julukan Serambi Makkah (Seuramoe Mekkah) sering sekali dilanda bencana-bencana besar, seperti tsunami pada Minggu, 26 Desember tahun 2004, gempa bumi Rabu,11 Januari tahun 2012 dengan pusat gempa pada 388 kilometer baratdaya Meulaboh.

Kemudian terjadi lagi gempa besar yang melanda Pidie Jaya pada Rabu, 7 Desember2016, dan banjir bandang serta tanah longsor pada Rabu, 26 November tahun 2025 yang baru saja melanda Aceh. Peluncuran buku MemoryGraph ini menjadi momentum penting dalam menguatkan peran ingatan kolektif (collective memory) sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Direktur TDMRC USK, Prof Dr Syamsiddik MEng dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga ingatan bencana dalam konteks perubahan sosial dan generasi saat ini.

“Banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung semakin melupakan kejadian bencana besar yang pernah terjadi, terutama seiring dengan pergantian generasi.” Buku ini, lanjutnya, menjadi salah satu upaya penting dalam membangun ‘safety culture’ yang harus terus-menerus disampaikan dan diwariskan.

Peluncuran buku MemoryGraph dilaksanakan pukul 09.00 WIB oleh Prof Dr Ir Agussabti MSi, Wakil Rektor Bidang Akademik USK, mewakili Rektor Prof Dr Mirza Tabrani DBA.

Buku ini ditulis oleh tim lintas institusi, terdiri atas Yoshimi Nishi, Alfi Rahman, Rizanna Rosemary, Eka Husnul Huidayati, Rizka Puspitasari, dan Arie Julianda.

Buku setebal 80 halaman dan ‘full colour’ ini disunting oleh Yarmen Dinamika, Redaktur Harian Serambi Indonesia yang juga Pembina Forum Aceh Menulis (FAMe).

Prof Agussabti menyampaikan apresiasi atas kolaborasi internasional yang melatarbelakangi lahirnya buku penting ini. “Kami menyampaikan apresiasi  yang luar biasa atas inisiatif yang telah lama diinisiasi oleh CSEAS Kyoto University bersama para peneliti di Aceh. Ini menunjukkan pentingnya kerja kolaboratif lintas negara dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebencanaan,” ujarnya. 

Peluncuran buku ini menjadi momentum penting dalam menguatkan peran ingatan kolektif sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Prof Agussabti juga menerima penyerahan buku secara simbolis dari Prof Yoshimi Nishi PhD, mewakili tim penulis.

Nishi juga menyerahkan buku kepada sepuluh tokoh lainnya yang mewakili berbagai organisasi maupun personal. Buku MemoryGraph merupakan hasil perjalanan panjang yang berakar dari pengalaman lapangan, mulai dari Aceh Tsunami Mobile Museum, pengembangan pendekatan ‘memory hunting’, hingga lahirnya konsep MemoryGraph sebagai metode dokumentasi berbasis ‘repeat photography’.

MemoryGraph merupakan aplikasi berbasis rephotography (tangkap ulang foto) yang memungkinkan pengguna membandingkan kondisi suatu lokasi pada dua waktu yang berbeda (masa lalu dan masa kini) melalui pendekatan visual.

Aplikasi ini bekerja dengan menampilkan foto lama sebagai referensi di layar telepon seluler (ponsel) dalam bentuk semitransparan (everlay). Pengguna kemudian menyesuaikan posisi dan sudut kamera komposisi foto baru sejajar dengan gambar lama. Setelah itu, foto tangkap ulang diambil dan dilengkapi dengan deskripsi singkat mengenai lokasi dan pengalaman yang terkait dengannya.

Melalui proses ini, perubahan lanskap dapat terlihat secara langsung. Bangunan yang hilang, ruang yang dibangun kembali atau lingkungan yang telah berubah menjadi bagian dari narasi visual yang mudah dipahami.

Jadi, MemoryGraph bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan juga dapat digunakan untuk melihat perubahan ruang dari waktu ke waktu, menghubungkan memori personal dengan memori bersama, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat memori bersama.

Aplikasi MemoryGraph sangat penting untuk dokumentasi setelah bencana, karena masyarakat pascabencana sibuk untuk memulihkan fisik: membangun rumah, jalan, dan fasilitas umum. Namun, ada hal yang sering terlewatkan, yakni memori kolektif.

Wajah kota berubah dan tempat-tempat yang dulunya penuh kenangan perlahan menghilang dari ingatan kita. Terutama bagi generasi muda atau pendatang baru. Mereka tidak lagi tahu seperti apa daerah itu sebelum bencana terjadi.

Dari sudut yang sama, lanskap memperlihatkan bagaimana mengubah ruang. Misalnya di Aceh, pada tahun 2004 terjadinya tsunami, terkhusus Kota Banda Aceh dipenuhi puing akibat terjangan tsunami.

Pada tahun 2024, kawasan yang sama telah ditumbuhi pepohonan rindang, sementara badan pesawat di Lapangan Blang Padang tidak lagi tampak utuh. Perubahan ini tidak menghapus cerita. Justru melalui perubahan tersebut kita dapat melihat bagaimana sebuah tempat menyimpan lapisan waktu tentang bencana, pemulihan, dan kehidupan yang terus berjalan.

Melalui MemoriGraph, ingatan yang pernah terekam dapat dihidupkan kembali, sehingga kita dapat memahami apa yang telah berubah dan apa yang tetap unggul dalam makna.

MemoryGraph memberikan beberapa manfaat. Pertama, ia hadir untuk menjembatani masa lalu dan masa kini, yaitu melalui komposisi yang sama dari waktu yang berbeda. Kita dapat melihat bagaimana tempat berubah dan memahami mengapa perubahan itu penting untuk dikenang dan dipelajari. Kedua, mengingatkan wajah kota sebelum bencana. Kita belajar menghargai apa yang pernah ada dan apa yang hilang. Foto-foto bisa membangkitkan kenangan,

percakapan, bahkan rasa syukur, dan kehati-hatian. Ketiga, sarana edukasi dan refleksi sejarah. Foto tangkap ulang bisa dijadikan bahan belajar di sekolah, pameran, atau saat diskusi keluarga. Generasi muda bisa melihat langsung perubahan dan memahami sejarah dengan cara yang lebih visual dan nyata.

Keempat, membangun kepedulian dan ikatan di masyarakat. Masyarakat yang berpartisipasi mendokumentasikan perubahan lanskap akan merasa memiliki. Ini membangun solidaritas dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, karena ingatan bukan milik individu, melainkan komunitas.

Kelima, bukti visual untuk klaim dan advokasi. Dalam banyak kasus, masyarakat dapat memanfaatkan hasil foto tangkap ulang untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka kepada pemerintah dan lembaga bantuan (donor).

Relevansi MemoryGraph bagi Aceh, karena Aceh memiliki pengalaman sejarah mendalam terkait bencana. Khususnya tsunami 2004. Dua dekade

setelah peristiwa tersebut, banyak ruang telah berubah signifikan. Bangunan baru berdiri, tata kota berkembang, dan generasi baru bertambah tanpa mengalami langsung kejadian tersebut. Dalam situasi yang demikian muncul kebutuhan akan media yang dapat menghubungkan arsip pada masa lalu dengan kondisi

terkini, membantu generasi muda memahami konteks sejarah daerahnya, mendukung pembelajaran kebencanaan berbasis pengalaman lokal, dan memperkuat kolaborasi antara lembaga arsip, pendidikan, dan masyarakat.

Selamat atas peluncuran buku MemoryGraph. Buku yang menautkan hubungan antara Aceh dengan Jepang, karena penulisnya merupakan kolaborasi dua negara.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat Aceh, terutama bagi generasi muda saat ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.