Selama 11 Tahun Jualan, Pelaku UMKM Tarakan Sebut Harga Plastik Saat Ini Paling Tinggi
Junisah April 07, 2026 04:49 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Lonjakan harga plastik yang terjadi pasca lebaran Idul Fitri dikeluhkan pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Tarakan, Kalimantan Utara. Tak tanggung-tanggung kenaikan harga tercapai hingga 75 persen atau hampir dua kali lipat . Tentunya kenaikan harga plastik dann thinwall jadi tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Rika Pratiwi, Owner D’Two sekaligus pelaku UMKM binaan UMKM Tarakan tergabung dalam. Rumah BUMN dan di bawah binaan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian (DKUKMP) Tarakan, mengungkapkan kenaikan harga kemasan plastik sangat berdampak terhadap usaha yang dijalankannya.

“Sebagai pelaku usaha, saya ini binaan pemerintah. Produk saya oleh-oleh khas Tarakan seperti bumcar, bumbu acar, manisan buah dari nanas Tunggai Maya. Selain itu juga ada amplang dan cemilan yang mengangkat potensi perikanan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh produknya bergantung pada kemasan plastik yang selama ini dipesan dari luar daerah, seperti Surabaya, dengan standar yang sudah memenuhi ketentuan kesehatan dan sertifikasi.

Baca juga: Harga Plastik hingga Thinwall di Tarakan Melonjak 50 Persen, Distributor Sebut Kenaikan Terparah

“Packaging kita itu harus rapi, bagus, sesuai standar MUI dan juga kesehatan. Jadi tidak bisa sembarangan,” katanya.

Namun kondisi saat ini membuat para pelaku usaha kebingungan. Harga kemasan plastik, khususnya untuk produk amplang, melonjak drastis.

“Kalau sebelumnya harga kemasan sekitar Rp7 ribu per piece, sekarang sudah hampir Rp14 ribu. Jadi naik hampir dua kali lipat, sekitar 75 persen,” ungkapnya.

Menurut Rika, kenaikan harga plastik ini mulai terasa sangat signifikan setelah Lebaran. Jika selama Ramadan kenaikan lebih banyak terjadi pada bahan baku utama, kini justru kemasan yang menjadi beban terbesar.

“Pasca lebaran ini yang paling terasa itu kemasan. Kalau Ramadan kemarin bahan baku yang naik, sekarang puncaknya di packaging,” jelasnya.

Padahal, kemasan menjadi elemen penting dalam penjualan produk, terutama untuk oleh-oleh khas yang sudah memiliki branding kuat di pasaran.

“Produk amplang ini kan sudah jadi identitas Tarakan, bagian dari potensi daerah Kalimantan Utara. Tapi sekarang kemasannya yang jadi masalah,” katanya.

Baca juga: Anggota DPRD Kaltara Ajak Warga Kurangi Sampah Plastik

Kondisi ini membuat para pelaku UMKM harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya. Salah satu strategi yang mulai dilakukan adalah mengurangi isi produk.

“Harga kemungkinan tetap, tapi isi dikurangi. Itu yang sekarang banyak dilakukan teman-teman pelaku UMKM,” ujarnya.

Selain itu, ada juga yang mencoba mencari alternatif kemasan yang lebih murah, meski dengan kualitas berbeda.

“Disiasati cari kemasan yang lebih tipis atau lebih murah. Tapi selisihnya juga tidak banyak, paling Rp2 ribu sampai Rp3 ribu,” katanya.

Tak hanya kemasan produk, beban operasional plastik harian juga melonjak tajam. Rika mengaku terkejut saat melakukan rekap pengeluaran bulanannya.

“Hari ini saya rekap operasional, dan shock banget. Untuk plastik saja sekarang mencapai Rp1,8 juta per bulan. Sebelumnya cuma sekitar Rp770 ribu,” ungkapnya.

Angka tersebut belum termasuk biaya kemasan lain seperti kotak atau wadah tambahan.

“Itu baru plastik saja, belum kemasan kotak atau lainnya,” tegasnya.

Kenaikan juga dirasakan pada kebutuhan gelas plastik untuk minuman yang dijual di gerainya.

HARGA PLASTIK NAIK - Tampak pengunjung saat berburu plastik KA Mart di Tarakan Kalimantan Utara, Selasa (7/4/2026)..
HARGA PLASTIK NAIK - Tampak pengunjung saat berburu plastik KA Mart di Tarakan Kalimantan Utara, Selasa (7/4/2026).. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

“Saya juga jual minuman. Biasanya pengeluaran gelas sekitar Rp835 ribu per bulan, sekarang sudah sampai Rp1,1 juta,” jelasnya.

Harga satu pack gelas yang sebelumnya sekitar Rp13 ribu kini naik menjadi Rp18 ribu. “Naiknya sekitar Rp5 ribu per pack. Itu sangat terasa,” katanya.

Sebagai pelaku usaha yang juga memiliki gerai di kawasan pinggir jalan, tepatnya di depan STB Mulawarman, Rika mengaku penggunaan plastik tidak bisa dihindari.

“Tidak mungkin kita tidak pakai plastik. Konsumen juga tidak semua bawa tas sendiri. Apalagi untuk makanan dan minuman,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan kenaikan bahan baku yang masih bisa disiasati dengan mencari alternatif lain.

“Kalau bahan baku naik, biasanya kita bisa ganti merek yang lebih murah. Tapi kalau plastik, hampir semuanya naik. Jadi sulit cari solusi,” jelasnya.

Ia pun menegaskan bahwa kenaikan kali ini merupakan yang paling tinggi selama dirinya menjalani usaha.

“Selama 11 tahun saya jadi pelaku UMKM, ini kenaikan tertinggi. Ini benar-benar paling tinggi,” tegasnya.

Situasi tersebut membuat para pelaku usaha harus kembali menghitung ulang harga pokok penjualan (HPP) yang sebelumnya sudah ditetapkan.

“Kita seperti belajar dari awal lagi. HPP yang sudah kita tentukan harus diubah karena semua komponen berubah,” ujarnya.

Rika menyebut, saat ini para pelaku UMKM juga aktif berdiskusi di grup komunitas untuk mencari solusi bersama.

“Dari tadi malam di grup UMKM sudah ramai. Semua bingung, cari cara supaya tetap bisa bertahan,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku UMKM juga berupaya memberikan pemahaman kepada konsumen terkait perubahan yang terjadi.

“Kita edukasi ke masyarakat bahwa ini bukan sekadar harga naik, tapi memang ada perubahan karena biaya kemasan dan bahan ikut naik,” jelasnya.

Meski harus melakukan berbagai penyesuaian, Rika menegaskan bahwa kualitas produk tetap menjadi prioritas utama.

“Yang penting kualitas tetap dijaga. Produk yang dikonsumsi pelanggan tidak boleh turun kualitasnya,” paparnya.

Ia terakhir menambahkan bahwa memang sumber utama kenaikan harga karena di persoalan bahan baku plastik sebagaimana informasi yang ia himpun di media yakni konflik Timur Tengah yang masih memanas.

"Saya lupa nama PT-nya.  Biasanya dapat 10 ton bahan baku plastik nah sekaranh dapat 1 ton. Gara-gara gak bisa lewat selat hormuz. Kontribusinya untuk masuk susah, dihalangi ga bisa tembus. Kemudian pabrik di Iran di bom, itu katanya pabrik plastik khusus membuat bahan baku plastik dan selesailah  kita ini pelaku UMKM," pungkanya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.