Negara ASEAN Ini Kapalnya Boleh Lewat Selat Hormuz, RI Bagaimana?
GH News April 07, 2026 05:09 PM
Jakarta -

Sejumlah negara di Asia dan Eropa sudah mendapat izin bagi kapal-kapalnya untuk melalui Selat Hormuz. Termasuk di antaranya yaitu beberapa negara Asia Tenggara.

Izin tersebut diperoleh usai perwakilan tiap negara mencapai kesepakatan dengan Iran. Diketahui, Selat Hormuz terletak di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut penghubung Teluk Persia kaya minyak dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Blokade Iran pada kapal-kapal yang hendak melalui selat itu membuat lalu lintas kapal turun 95% pada Maret 2026.

Akibatnya, gangguan besar pasokan minyak global muncul. Harga komoditas lainnya juga melonjak, dikutip dari Encyclopaedia Britannica.

Negara ASEAN Ini Kapalnya Boleh Lewat Selat Hormuz

Atas gangguan pasokan minyak dunia, sejumlah negara menyatakan darurat energi nasional. Sejumlah negara, termasuk negara di Asia Tenggara, membuat kesepakatan dengan Iran sehingga kapalnya diizinkan melalui Selat Hormuz tanpa diserang.

Filipina

Dilansir BBC, Filipina merupakan negara yang pertama kali menyatakan darurat energi nasional. Dengan 98% pasokan minyaknya diimpor dari Timur Tengah, harga BBM di Filipina naik lebih dari 2 kali lipat sejak perang di AS-Israel-Iran berlangsung.

Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro menyatakan, pihaknya dan Iran mencapai kesepakatan usai komunikasi via telepon pada Kamis (2/4/2026). Dengan kesepakatan itu, pasokan energi dan pupuk bisa dibawa kapal berbendera Filipina dengan aman dan cepat lewat Selat Hormuz.

Principal Research Fellow at the Energy Studies Institute (ESI), National University of Singapore (NUS) Roger Fouquet berpendapat, kesepakatan ini menunjukkan Iran mau membuka jalur bagi negara seperti Filipina yang tidak terlibat langsung dalam perang di sana, meskipun negara tersebut sering dianggap sebagai sekutu AS.

"Iran tampaknya memisahkan antara aliansi sebuah negara dengan partisipasi aktifnya di konflik ini," ucapnya.

Thailand

Pemerintah Thailand menyatakan sudah mengamankan jalur pelayaran tanker minyaknya di Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan pihaknya sudah memberi klarifikasi pada pihak Iran bahwa kapal Thailand tidak terlibat dalam konflik ini dan meminta jalur pelayaran strategis yang aman, disiarkan melalui Facebook PR Thai Government, Rabu (25/3/2026).

Sebelumnya, kapal kargo Thailand MV Mayuree Naree diserang pada Rabu (11/3/2026) saat melintasi Selat Hormuz hingga kebakaran dan banjir. Sebanyak 20 awak diselamatkan angkatan laut Oman dan sudah kembali ke rumah pada tengah Maret, sedangkan tiga lainnya semula dilaporkan hilang. Pada Jumat (3/4/2026), jasad korban ditemukan di kapal itu.

Militer Iran menyatakan serangan tersebut dilakukan lantaran Mayuree Naree dan sebuah kapal berbendera Liberia di Selat Hormuz gagal mematuhi peringatan mereka, dilansir laman Vietnam.vn.

Malaysia

Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui X menyatakan kapal tanker sewaan Petronas bermuatan minyak mentah dari Iran sudah melintasi Selat Hormuz. Kapal tersebut tengah berlayar menuju Johor, Malaysia.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam bahasa Inggris dan Melayu pada Senin (6/4/2026).

"Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz," bunyi pos tersebut.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin tankernya melintasi Hormuz.

Bagaimana dengan Indonesia?

Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyatakan Kementerian ESDM terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait agar kapal Indonesia dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

"Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah," kata Anggia di Jakarta, Minggu (29/3/2026), dikutip dari keterangan resminya di laman Kementerian ESDM.

Anggia menambahkan, pemerintah juga membuka opsi pasokan minyak mentah dan BBM dari kawasan selain Timur Tengah untuk menjaga ketahanan pasokan energi. Langkah ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memperluas sumber impor minyak dari berbagai negara.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A Mulachela sebelumnya menyatakan Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran juga berkoordinasi dengan pihak terkait di di Iran agar kapal dan awak kapal Indonesia selamat.

"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional," ujar Nabyl.

Sementara itu, Pertamina melalui Pertamina International Shipping (PIS) menyiapkan aspek teknis dan administratif agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman.

"Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik," kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.