4 Kedudukan Anak dalam Alquran, Kebanggaan, Penyejuk Hati, Fitnah hingga Musuh, Tanggung Jawab Ortu
Lisma Noviani April 07, 2026 07:01 PM

TRIBUNSUMSEL.COM -- Anak adalah amanah sekaligus titipan Allah yang dipercayakan kepada pasangan suami istri atau orangtua (ortu).

 Anak ibarat kertas putih yang masih kosong yang dapat menerima tulisan dan gambar apapun. Kedua orang tuanyalah yang memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk dan menggambarkan anak.

Di dalam Al Quran, dengan jelas telah menerangkan tentang posisi dan kedudukan anak bagi orang tuanya. Hal ini penting untuk dipahami  agar orang memiliki kesadaran dalam mendidik anaknya. 

Dikutip dari tulisan Sahroni, S.Pd.I., M.Pd berjudul Wasiat Alquran tentang Anak, ada lima kedudukan anak dalam ayat Alquran, lengkap dengan kutipan ayat Alqurannya.

 

1.Anak sebagai perhiasan dunia (Zinah al-Hayah al-Dunya)


Anak dapat menjadi perhiasan atau sesuatu yang dianggap baik dan indah (zinah), sebagaimana dalam QS. Al-Kahf/18: 46.

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Artinya:

 “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan“

Anak adalah perhiasan dunia, begitu juga harta, keduanya disebut perhiasan dunia bukan perhiasan akhirat. Melalui ayat ini Allah ingin menjelaskan agar manusia menyadari bahwa anak dalam kedudukannya sebagai perhiasan dunia, sifatnya tidak kekal dan sesaat, juga bersifat seperti itu, tidak kekal, maka tidak seharusnya mengakibatkan perasaan berbangga diri yang berujung pada hal-hal yang negatif.

2. Anak sebagai Penyejuk Hati (Qurrata A’yun) 

Keterangan ini dapat kita baca dalam QS. al-Furqan/25: 74.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya:

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ibnu Abbas berkata bahwa Qurratu A’yun adalah keturunan yang taat, sehingga dengan ketaatannya, anak dapat menjadi penyejuk hati dan bisa membahagiakan orang tua baik di dunia dan di akhirat. Makna Qurratu A’yun tidak hanya diartikan sebagai nikmat dari seorang anak, melainkan nikmat, anugerah, rahmat, kebahagiaan dari Allah SWT yang diberikan kepada manusia di akhirat kelak sebagai imbalan bagi mereka yang taat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT selama hidup di dunia serta sukses mendidik anak-anaknya menjadi hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah.

 

3. Anak Sebagai Kebanggaan (Tafakhur)


Kedudukan anak sebagai kebanggaan dapat ditemukan dalam QS. Al-H̱adid/57: 20.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.“

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa salah satu sebab perbuatan saling bermegah-megahan adalah banyaknya anak. Anak dan harta merupakan hal yang acap kali menyebabkan manusia menjadi lalai. Karenanya, keduanya (harta dan anak) disebutkan secara bersamaan dalam rangkaian ayat tersebut. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kebanggaan terhadap anak bukanlah suatu hal yang dilarang dalam Islam selama masih dalam batas kewajaran dan tidak melahirkan sifat-sifat buruk. Kebanggaan yang dilarang adalah jika mengarah pada persaingan dan kompetisi dalam bentuk perbuatan dan sikap yang buruk seperti iri/hasud dan lainnya. Oleh karena itu, sebagai orang mukmin hendaknya orang tua harus bisa mengontrol rasa bangga terhadap apa yang dimilikinya khususnya terhadap anak-anaknya agar tidak terjerumus pada perbuatan yang terlarang.

 

4. Anak sebagai Fitnah Ujian

Kedudukan anak sebagai fitnah dipahami dari dua ayat Al-Qur’an, yakni QS. Al-Anfal/8: 28, dan QS. Al-Taghabun/64: 15.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (الأنفال)

Artinya:

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (التغابن)

Artinya:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Melalui kedua ayat ini, Al-Qur’an menunjukkan bahwa seorang anak adalah ujian. Jika demikian, maka kedudukan anak sebagai ujian akan berpengaruh pada kedua orang tuanya, jika kedua orang tua berhasil menjaga hak-haknya, maka akan mendapatkan pahala yang agung dari Allah. Sebaliknya, jika orang tua gagal menjaganya, maka orang tua akan terjerumus pada dosa.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kedudukan anak sebagai cobaan menuntut seorang mukmin agar dapat berlaku adil, dan tidak berlebihan.

 Maksudnya cinta dan kasih sayang terhadap anak jangan sampai mengakibatkan kehilangan kendali, dan akhirnya melanggar ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Selain itu, seorang mukmin diharapkan mampu untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga

5. Anak Sebagai Musuh


Petunjuk yang menjelaskan kedudukan anak sebagai musuh terdapat dalam QS. Al-Taghabun/64: 14.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa sebagian anak dan pasangan bisa menjadi musuh bagi seseorang. Dengan kata lain, anak dan pasangan bisa saja menjadi penghalang untuk mengerjakan ibadah dan kataatan pada Allah, pun sebaliknya.

Ayat ini juga memberikan pemahaman bahwa musuh tersebut tidak hanya terbatas pada anak atau pasangan, melainkan keluarga secara umum. Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa Allah memberikan rambu-rambu dan peringatan agar umat Islam agar tidak terlena dan tidak tertipu dengan sebagian keluarga atau anaknya yang bisa jadi memiliki niat dan keinginan buruk baginya.

Baik dan buruknya seorang anak banyak diperngaruhi oleh kedua orang tua dan orang-orang yang mendidiknya serta pergaulannya. 

Salah dalam mendidik anak, maka akan berakibat fatal dan berdampak buruk terhadap anak tersebut. Bahkan juga kepada orang tuanya sekalipun.

Demikian petunjuk Al-Qur’an tentang kedudukan anak, setelah mengamati ayat-ayat di atas. Semoga kita sebagai orang tua dapat amanah dan selalu diberi petunjuk dalam mendidik anak-anak kita. Aamin. (lis/berbagai sumber)

Baca juga: Ayat Attoyyibatu Littoyyibina Waṭtoyyibuna Littoyyibat Surat Apa, Wanita Baik untuk Laki-laki Baik

Baca juga: Arti Ihfazhillaha Yahfazhka, Hadits Jagalah Allah Niscaya Allah Menjagamu, Penjelasan Ulama 

Baca juga: Kepala Ditusuk Pasak Besi Lebih Baik daripada Menyentuh Wanita tidak Halal, Dalil tentang Selingkuh

Baca juga: Arti Arbau Man Kunna Fihi Kana Munafiqan Khalisan, Hadits tentang 4 Tanda Ciri Orang yang Munafik

Baca juga: Hadits Luasnya Ampunan Allah Bagi Hambanya Walau Dosa Setinggi Langit dan Kesalahan Sebesar Isi Bumi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.