TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengirim tim untuk menangani kasus pembakaran bangunan padepokan Saung Taraju Jumantara (STJ) di Desa Purwarahayu, Kabupaten Tasikmalaya, guna memastikan konflik tidak kembali meluas.
Diketahui, pembakaran bangunan padepokan STJ oleh kelompok massa ini terjadi pada Rabu (1/4/2026) malam.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jabar, Wahyu Mijaya, mengatakan Pemprov Jabar terus memantau situasi di lapangan, termasuk mendukung proses mediasi yang saat ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.
“Kami menurunkan tim ke sana, memantau perkembangan karena ini sedang dimediasi oleh Kabupaten Tasikmalaya. Kita ingin bagaimana supaya tidak lagi terjadi kejadian itu,” ujar Wahyu, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, pemerintah berupaya meredam ketegangan antara pihak padepokan dan masyarakat agar tidak berujung pada konflik lanjutan.
Berdasarkan data Kesbangpol, padepokan Saung Taraju Jumantara maupun Copo Taraju Jumantara hingga kini belum terdaftar secara resmi. Meski demikian, Wahyu menegaskan tindakan pembakaran tidak dapat dibenarkan.
“Belum tercatat di Kesbangpol, tetapi tindakan pembakaran tetap tidak dibenarkan,” katanya.
Dari informasi yang diterima Wahyu, peristiwa tersebut diduga dipicu oleh keresahan warga terhadap aktivitas konten media sosial yang diproduksi pihak padepokan. Konten tersebut dinilai menimbulkan reaksi di tengah masyarakat hingga memicu ketegangan.
“Sebelum kejadian, memang ada aktivitas, terutama dari konten media sosial seperti TikTok yang dianggap meresahkan,” ucapnya.
Wahyu menyebut, sebelum insiden pembakaran terjadi, upaya mediasi sebenarnya telah dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat bersama pemerintah desa dan kecamatan. Namun, situasi memanas setelah muncul pernyataan yang kembali memicu reaksi warga.
“Sebetulnya sudah dimediasi oleh MUI, desa, dan kecamatan. Tapi ada statemen yang dianggap meresahkan sehingga masyarakat tersulut,” katanya.
Pascakejadian, pemerintah daerah langsung melakukan langkah penanganan dan mediasi lanjutan untuk mencegah eskalasi konflik.
“Dari pemerintah Tasikmalaya sudah merespon dan memediasi, sehingga tidak ada keberlanjutan dari permasalahan,” ucapnya.
Sementara itu, akibat peristiwa tersebut, anggota padepokan dilaporkan meninggalkan lokasi dan mengungsi ke tempat aman guna menghindari potensi kekerasan lanjutan.
Pandangan FKUB Soal Dugaan Penodaan Agama
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tasikmalaya menyebut padepokan Saung Taraju Jumantara sudah melakukan penodaan agama dan NKRI.
Musababnya, dalam cerita yang dijelaskan pada saat live di salah satu akun tiktok beberapa waktu lalu menyebutkan akan ada kebangkitan raja Mataram hingga menyingung soal Nabi.
Bahkan, sosok yang menjelaskan hal tersebut seorang perempuan bersama Ester dan pria asal Taraju yang juga mantan pengurus masjid sekitar Desa Purwarahayu disebut Hobir.
Menanggapi hal ini, Ketua FKUB Kabupaten Tasikmalaya Edeng Zaenal Abidin bahwa dalam live di akun tiktok ada sosok perempuan dan pria bernama hobir menyinggung tentang nabi hingga membuat kemarahan warga sekitar.
"Tapi yang paling saya perhatikan bahwa hobir itu dalam ceritanya akan ada kebangkitan mataram, dan akan datang ratu adil untuk memperbaiki kehidupan kita semua," jelas Edeng dikonfirmasi TribunPriangan.com, Selasa (7/4/2026).
Selain itu, kemarahan warga sampai melakukan pembakaran saung karena adanya ketersinggungan soal Nabi Muhammad.
"Jadi dalam pernyataan Ester dan Hobir ini menyinggung nabi Muhammad itu disebut iblis dalam cerita itu, hingga membuat amarah masyarakat Taraju bertindak anarkis. Meskipun tindakan ini tidak dibenarkan dan harusnya bisa menahan diri," pungkasnya.
Menurut kacamata FKUB, bahwa keberadaan padepokan STJ ini ada dua indikasi yakni tentang penodaan agama dan penodaan NKRI.
"Kalau saya melihatnya dua penodaan agama dan penodaan NKRI karena menyebut akan ada kebangkitan kerajaan Mataram. Kita harus hati-hati, karena NKRI ini terancam, dan Mataram itu kerajaan," jelasnya.
Namun ia menuturkan, masih menelusuri sosok perempuan yang disebut Ester dalam live di akun tiktok beberapa waktu lalu ini. Karena jangan sampai keberadaannya merusak NKRI dan agama
"Saya mewanti-wanti jangan sampai NKRI ini di rusak oleh pendapat orang baru dan saya tidak tahu Ester ini orang mana".
"Karena sejatinya FKUB ini kemanusiaan melindungi orang yang benar maupun yang salah dan semuanya perlu diluruskan."
"Kalau kami kemanusiaan, yang salah harus diluruskan, kemudian yang benar harus dilindungi jangan sampai ada malapetaka," tuturnya.
Ditanyai soal mazhab padepokan STJ, dirinya masih menelusuri dan melakukan koordinasi dengan MUI serta tokoh ulama di Tasikmalaya.
"Saya tidak mendengar tentang itu kalau salat hanya pakai niat, cuma mendengar Ester itu menyebut bahwa Muhammad itu iblis, inilah yang memicu amarah warga taraju hingga terjadi pembakaran saung tempat berkumpulnya jemaah STJ," kata Edeng.
Ia berharap dengan kejadian ini ada hikmah yang didapat supaya tidak kembali terulang dan cepat ditindaklanjuti pihak berwajib.
"Hikmah yang terjadi di taraju ini baik tentang emosional masyarakat, maupun tentang wawancara hobir dan Ester itu jangan terulang kembali. Agar Tasik tetap kondusif," harapnya.(*)