Jusuf Kalla Sebut Donald Trump Sakit Jiwa dan Tak Ada Rasa Empati 
Desy Selviany April 07, 2026 10:29 PM

Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy 


TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Wakil Presiden ke-10 dan 12 RI Muhammad Jusuf Kalla (JK) memberikan komentar soal sosok Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di tengah peperangan AS-Israel dengan Iran.

Wakil Presiden Indonesia periode 2004-2009 dan 2014-2019 itu menyebut Trump sebagai sosok pemimpin sakit jiwa.

Di mata JK, Trump tidak memiliki empati dan solidaritas internasional. Bahkan, orang nomor satu di AS itu dikenal dengan instant insting.

Perang AS-Israel dengan Iran tak luput dari kebijakan yang berasal dari pemikiran Trump yang instan. 

“Sulitnya ada orang gila, orang sakit jiwa, Trump itu,” kata JK saat memberikan kuliah umum di Kampus UI Depok, Selasa (7/3/2026).

“Apa yang dipikirkannya instan langsung diperintahkan. Serbu itu, tembak, bom itu,” sambungnya.

Bagi JK, kebijakan Trump tidak memperdulikan nilai-nilai kemanusiaan sama halnya apa yang dilakukan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

“Semua negara di Amerika didemo oleh jutaan orang Amerika, tapi tidak bergeming. Ini sulitnya kalau ada orang gila jadi pemerintah,” tegasnya.

Menurut JK, konflik Iran dengan AS-Israel bukan masalah agama dan banyak kepentingan politik di dalamnya.

Alhasil, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tidak mampu berbuat banyak dalam menyelesaikan konflik.

Jangankan OKI, Perserikatan Bangsa-Bangsa juga tidak mampu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan konflik.

“PBB hanya resolusi-resolusi, hanya saja suara itu tidak dianggap,” pungkasnya.

Diketahui di bawah kepemimpinan Donald Trump, AS bersama Israel menyerang Iran secara tiba-tiba pada 28 Februari 2026 lalu. 

Baca juga: Iran Tertawakan Trump yang Terlihat Mulai Kacau Hingga Serang Jembatan Megah

Serangan tersebut membuat gugur pemimpin tertinggi Iran yang dihormati Ali Khamenei. Alhasil kematian Ali Khamenei membuat Iran berang hingga membuat perang itu menjadi perang regional. 

Iran menyerang sejumlah negara di Timur Tengah yang memiliki pangkalan militer AS seperti Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, hingga Arab Saudi. 

Bahkan Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi utama perdagangan minyak di Timur Tengah.

Akibatnya saat ini, harga minyak dunia mencapai puncaknya dari sejak krisis pandemi Covid-19. 

Bahkan rakyat AS pun marah dan melakukan unjuk rasa besar-besaran atas krisis di AS karena harga minyak yang melonjak.

Hingga kini Iran pun masih menutup diri dari kemungkinan gencatan senjata. Iran mengaku tidak akan berhenti hingga membuat AS dan Israel kapok dalam mendominasi dan mendikte negara di dunia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.